Seorang gadis cantik memberikan sumpah serapah nya kepada seseorang yang terus saja mengetuk pintu kamarnya dengan bar-bar.
"Apaan sih"
Ucap sang pemilik kamar dengan raut wajah kesal,yang membuat seseorang yang mengetuk pintunya tadi sedikit terkejut.
Jeongyeon sempat kaget kemudian bersusah payah menahan tawanya saat melihat ekspresi tak bersahabat ditambah dengan masker hitam di wajah adiknya itu.
"Mau jajan nggak? Gw lagi baik nih."
Ucap Jeongyeon dengan tujuan untuk melunasi hutang budinya pada sang adik.
"Emang sekarang malam Minggu yah?
Ooo manfaatin gw,biar orang-orang gak tau lu itu jomblo,ngenes pula"
"Malam Minggu pala mu
Sekarang tuh masih sore lagain besok Senin bukan minggu.Buruan siap-siap sebelum gw berubah pikiran" ucap Jeongyeon lalu menuruni tangga untuk meminta izin kepada orangtuanya yang sedang berada di ruang keluarga.
Ia sengaja meluangkan waktunya untuk sekedar jalan-jalan bersama sang adik, sekalian untuk melunasi hutang budinya beberapa waktu lalu.
"Ehh,Chaeng tumben keluar,gak belajar lu?"
Tanya Jeongyeon saat mendapati salah satu sahabatnya sedang duduk santai di meja pojok yang berhadapan langsung dengan jalanan didepan cafe.
"Bosen juga belajar terus kali Je" balas Chaeyeong dengan kekehan.
"Nah makanya itu gw gak pernah belajar" ucap Jeongyeon lalu tertawa membuat sahabatnya juga ikutan tertawa.
"Ehh lu liat Tzuyu gak?"tanya Chaeyeong
"Kayaknya tadi di lantai 2.ngapa emang?"
"Kagak.
Mungkin Tzuyu juga disini.
Soalnya tadi gw sempet liat Jihyo juga"
Jeongyeon pun hanya menggangguk.
"Tumben-tumbenan lu keluar kayak gini,gak biasanya"
Jeongyeon menyadari ada yang aneh dengan pergerakan sahabatnya itu.
Ia nampak gelisah.
"Emmm s-sebenarnya gw mau nembak Mina nanti" ucap Chaeyeong seraya memainkan jari tangannya.
"Ehh,wow.
Berarti gw ganggu dong.
Good luck yah,gw ke lantai dua dulu."
"Gw cuma bisa berharap untuk yang terbaik dan bersiap untuk yang terburuk" ucap Chaeyeong bijak.
"Gw nunggu kabar baik plus traktiran nya"
Jeongyeon lalu menepuk pelan punggung sahabatnya itu lalu melangkah ke arah tangga untuk naik ke lantai dua tempat adiknya berada.
"Lu kemana aja sih.
Boker paus lu,lama bener"
Setibanya di samping sang adik, Jeongyeon langsung menerima sambutan yang kurang mengenakkan.
Namun adiknya segera menghentikan kata-kata mutiara saat melihat raut wajah sang kakak yang begitu suram.
"Lu kenapa?
Kita pulang aja yah"
Lihatlah,baru saja bertindak seperti harimau lepas,sekarang sudah menjelma menjadi kucing,tapi bukan kucing Oren.
"Gak,lu lanjutin makan aja.Gw mau ke smoking area dulu"
Sang adik pun hanya mengangguk.
Ia bukan orang bodoh untuk sekedar mengetahui bahwa sang kakak tiri sedang tidak baik-baik saja sekarang.
"Masuk kelas atau kantin dulu?" Tanya Tzuyu dengan nafas tersengal-sengal.
"Lu kekelas aja,entar gw nyusul" balas Jeongyeon dengan keadaan yang sama.
Tzuyu pun bangun lalu berjalan ke kelasnya meninggalkan Jeongyeon yang masih terbaring di pinggir lapangan indoor.
Mereka berdua lagi-lagi mendapat hadiah dari guru BK dan parahnya masih dengan persoalan yang sama yaitu terlambat.
Setelah punggung Tzuyu sudah tak terlihat, Jeongyeon pun bangkit lalu berjalan ke arah yang berlawanan.
Ia segera membaringkan tubuhnya pada sebuah sofa yang memang sudah menjadi hak miliknya.
Namun jika Tzuyu ikutan maka salah satu dari mereka harus mengalah.
Jeongyeon mendudukkan dirinya dengan kesal, pasalnya ia sudah mencoba untuk tertidur namun tetap tak bisa.
Ia kemudian meraih sebatang rokok yang memang selalu tersedia lalu menyesapnya dengan kuat hingga ia merasakan paru-parunya kini sudah penuh dengan asap.
Namun baru beberapa isapan,benda yang sebelumnya berada di sela jari telunjuk dan jari tengah nya kini sudah tergeletak di lantai.
Jeongyeon menunduk dan melihat sepasang sepatu hitam tak jauh dari tempat benda berasap yang tergeletak dilantai.
"Gw udah bilang,jangan ngerokok di sekolah.Lu ngerti bahasa manusia gak sih?"
Ucap seorang gadis cantik dengan pin di seragam bagian atasnya menandakan ia adalah salah satu perangkat utama OSIS.
"Iya maaf"
"Maaf maaf Mulu.
Besok berulah lagi.
Gw bosan tau nggak ngeliat tiap pagi ada aja yang lari keliling lapangan dan orangnya lu Mulu."
Jeongyeon sudah tak menjawab.
Ia memilih diam dan menundukkan kepalanya membiarkan telinganya mendengar bentakan-bentakan yang bahkan lebih pedas ketimbang Omelan milik guru BK.
Mina yang merasa sudah cukup dengan Omelan nya, memutuskan untuk segera turun sebelum bel istirahat berbunyi.
Mina memang sedang melakukan patroli bersama beberapa anggota OSIS yang lain.
Sedari tadi seakan ada yang mendorong nya untuk ke roof top sekolah dan benar saja, terdapat salah satu trouble maker TDHS yang sedang bersantai.
Namun sebelum benar-benar turun,Mina berbalik lalu
"Pulang sekolah lu bersihin semua toilet lantai satu tanpa terkecuali"
Bukannya menyanggupi, Jeongyeon justru memberikan pertanyaan yang membuat Mina tersentak kaget.
Namun ia dengan cepat menormalkan ekspresinya kembali.
"Kamu nerima Chaeyoung?"
Tanya Jeongyeon dengan tatapan lurus kearah gedung-gedung tinggi di seberang sana.
Mina berbalik sebentar dan mendapati betapa kosongnya pandangan Jeongyeon saat ini.
"Ekhm.
Gw punya hak untuk gak jawab pertanyaan lu"
Ucap Mina cuek lalu melangkah menuruni tangga.
Sedangkan di atas sana, Jeongyeon terlihat kembali meraih sepuntung rokok dan menyesapnya tanpa mempedulikan keadaan sekitar.
Yang ada di benak nya hanyalah ingin sedikit ketenangan menghampirinya meskipun hanya sekejap saja.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
S Y A R A T
Teen FictionApakah sebuah hubungan yang tercipta hanya karena sebuah 'syarat' akan bertahan lama? Entahlah. . . END.
