8. Messy

18 7 17
                                        

Hari itu mereka latihan lagi, sesi terakhir sebelum tampil besok. Semua mata sesekali melirik ke pipi Aera yang masih diperban—tapi dia bodo amat.

"Ra, lo mau ditemenin nggak?" tanya Juned tiba-tiba, suaranya datar tapi lembut.

"Alaaaay lo. Gue gapapa. Dah sana latihan, lo besok harus menang," jawab Aera cepat, berusaha terdengar tegar. Juned cuma senyum pelan lalu lari nyusul Yeji.

Di tempat seperti ini gosip menyebar cepat. Petugas jaga ketat, staff mepet terus, jadi nggak ada yang "macem-macem". Aera tahu banyak yang ngomongin dia di belakang, tapi ya dia milih cuek. Fokusnya satu: latihan. Selesai latihan, Aera mau nyamperin Junhee. Baru beberapa langkah, seseorang berbisik:
"Lo udah denger belum? Semalem Chanyeol EXO kegep berduaan di luar gedung?"

Deg. Napas Aera ngejret.

"Eh iya, gue denger. Katanya si ceweknya Kak Wendy?" jawab yang lain.

Chanyeol. Nama itu nempel di kepala Aera sejak lama—bias yang dari debut sampai sekarang nggak pernah bikin hatinya goyah ke orang lain. Seketika dada Aera sesak. Tapi siapa dia? Dia bukan orang yang boleh jadi alasan Aera hancur. Ia kembali ke kamar dan mengganti bajunya.

"Ra, nggak makan?" Bella nunjukin muka khawatir.

"Nggak. Kak Bella sama Kak Yeji duluan aja, ntar gue nyusul," jawab Aera, napas tertahan, suara hampir patah. Beberapa menit kemudian Junhee nongol. Matanya lembut ketika dia duduk di kasur Aera.

"Ra? Lo nggak makan?" Aera diam. Kalau mulai bicara, dia takut nangisnya pecah. Junhee naik ke kasur, duduk di samping, lalu tanpa basa-basi nanya dengan nada tahu segalanya: "Eh, lo ngap—KENAPA?" Dan akhirnya Aera meleleh; tangisnya pecah.

"Gapapa, cuma nggak mood makan," gumamnya, mencoba bersandiwara.

"Bohong. Gue kenal lo udah lama ya..." Junhee menyanggah. Aera bimbang. Cerita apa enggak? Cepat atau lambat rahasia bakal ketauan juga. Hatinya mengakui: bias-nya—Park Chanyeol. Suara itu keluar lirih, "Bias gue, Ned..."

"JANGAN BILANG BIAS LO PARK CHANYEOL?" Junhee langsung ngeh, matanya melebar. Aera cuma angguk, pipinya makin panas.

"Itu kan cuma gosip, Ra. Gue nggak mau denger, lo harus makan!" Junhee ngotot. Aera pura-pura nggak peduli, tapi kepala sudah berputar.

"Oke, fine! Pake cara gue!" Junhee semprot—dan seperti biasa, cara Junhee nggak pernah masuk akal. Aera mau cegah, tapi Junhee sudah kabur ke area cowok. "Oh no, jangan sampe dia—" pikir Aera, panik.

Belum sempat dia selesai mikir, Junhee kembali... dan dia membawa Chanyeol. SEORANG CHANYEOL. Aera rasanya mau muntah. Gimana caranya Junhee bisa? Ke mana otaknya, kenapa tiba-tiba di depan mata biasnya sendiri? Panik melonjak setengah mati.

Gue sembunyi di balik selimut, pura-pura tidur. Nggak lama ada ketukan pintu. Nggak digubris. Pintu terbuka—ada orang masuk, tapi hening. Aera turun pelan-pelan, niat pergi pelan. Tiba-tiba tangan kecilnya ditarik kuat.

"Kak Yeji saki—" niat protesnya putus. Ia pikir sosok itu adalah Yeji.

"Mau ke mana?" suara di depannya menjawab. Jantungnya kicep. Dia membuka mata, dan di hadapannya: Park Chanyeol. Yoda. Malaikat. Tampannya nggak masuk akal.

"Kamu sakit?" tanya pria itu, sambil menempelkan tangan ke dahinya. Sentuhan hangat yang tiba-tiba membuat Aera lupa sakitnya sendiri. "Hah? Nggak kok... ehm," suaranya bergetar.

"Terus kenapa nggak mau makan?" nada Chanyeol lembut, suara yang bikin Aera mendadak kehilangan fokus. "Panggil Oppa gapapa kok," dia menambahkan.

 "Panggil Oppa gapapa kok," dia menambahkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aera hampir mati. "Oppa... eh, Chanyeol-ssi~" keluar begitu saja—refleks. Bego banget, pikirnya, tapi jantungnya langsung berdetak cepat. Di depan mata dia, pria itu bukan sekadar idol di layar; dia nyata, dan itu membuatnya lebih berbahaya.

"Mau makan bareng?" tawaran itu seperti makanan paling mewah di dunia. Tentu Aera mau—gak mungkin nolak. Dia mengangguk buru-buru. Chanyeol meraih tangan Aera dan menariknya keluar kamar. Detik itu Aera merasakan genggaman tangannya besar, hangat—tapi pikirannya cemas soal skandal. Gadis itu melepaskan genggamannya dan berlari mendahului seniornya ke kantin.

Sesampainya ke kantin, Chanyeol berjalan di belakang. Tiba-tiba Juned teriak, "AERA SINI!" Pantas. Satu meja penuh anak SM semuanya. Juned bangga: "Berhasil kan cara gue!" Aera hampir mau banting Juned, "Diem lo, babi!" tapi teriakannya tenggelam karena perutnya sudah laper. Akhirnya dia makan juga, sambil mata terus melirik ke arah pria yang baru saja duduk di dekatnya itu.

Usai makan, Aera mencari-cari Chanyeol—tapi ia sudah pergi, tanpa pamit. Hatinya nyungsep. Aera berjalan ke kamar. Di perjalanan Junhee mengaku caranya membujuk Chanyeol tadi adalah dengan bertanya: "Boleh minta tolong nggak? Temen gue suka banget sama Oppa. Dia nggak mau makan, maunya sama Oppa. Jadi... boleh kan?"

"Junhee... kok lo bilang sih..." Aera mau tenggelam. Mau taruh muka di mana?

"Ya biar lo makan—" Junhee sok logis. "Oon" Tanpa babibu Aera menyambar, lalu langsung melesat keluar gedung. Di depan biasnya, dia terasa bodoh. Di depan biasnya, dia dipermalukan. Air mata menetes, tapi dia tak berhenti berjalan. 

Wah terima kasih telah membaca~
Untuk mengahargai penulis, kalian cukup vote aja kok, apalagi komen tentang bagian mana yang kalian suka. Mudah kan🤩?!

Jangan lupa vomentnya~

SUNBAENIM! {PCY} [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang