1. Oh My Gosh

67 10 6
                                        

Ting!
Denting notifikasi mengejutkan Aera yang baru saja terlelap. Ia meraba meja di samping tempat tidur, mengambil ponsel, dan membuka email yang masuk. Tulisan di layar membuat mata dan napasnya berhenti sejenak.

"Selamat, Anda diterima!"

"Hah? Diterima apaan?" gumamnya sambil mengernyit. Jarinya menelusuri isi email itu perlahan. Saat arti lengkapnya menyusup ke kepala, napasnya tercekat.

"AHHH! GUE DITERIMA DI SM!!" teriaknya melengking. Tubuhnya gemetar—bukan karena takut, melainkan karena kebahagiaan yang tak terbendung. Aera berlari ke sana kemari, memberitahu setiap sudut rumah, senyumnya tak pernah lepas dari wajah.

"Gue bawa apa aja ya ke sana? Duhhh... nggak sabar banget," gumamnya sambil memeluk ponsel erat.

"Ra!" terdengar suara ayahnya dari ruang tengah. Aera tersentak dari euforia. Ia baru ingat—ia ikut audisi secara diam-diam. Ia menelan ludah, lalu mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan.

"Iya, Pa. Kenapa?" suaranya terdengar pelan.

"Diterima apaan sih?! Berisik banget!" bentak sang ayah, nada suaranya meninggi. Dari dapur, suara ibu terdengar menahan napas. Aera menjelaskan perlahan—kata demi kata keluar dari mulutnya, berusaha menenangkan suasana dan membagi kebahagiaan.

Tapi reaksi ayahnya tak seperti yang ia harapkan.

"NGGAK! NGGAK BOLEH!" Ayahnya keras kepala, wajahnya tegang.

Aera terkejut. "Oh... oke, makasih—HAH?! KENAPA, PAH?!" suaranya mendadak meninggi, emosinya meledak. Impiannya—ingin jadi idol, ingin bertemu idol—terasa hendak dirampas. Ia hampir tak percaya harus menyerah setelah berkali-kali mencoba.

"Korea itu jauh, Ra! Papa nggak bisa jaga kamu!" seru ayahnya, seolah itu alasan final.

"PAH! AERA UDAH LAMA LOH MAU IKUT INI?!" Aera nyaris pecah. Tangis yang selama ini dikekang muncul di ujung tenggorokannya. Ia merasakan seluruh dunianya runtuh saat kata demi kata ayahnya tak bergeming.

Dengan langkah berat, Aera berlari ke kamarnya, membanting pintu di belakangnya. Ia merebahkan diri di ranjang, dan air matanya pun tumpah. Isak tangisnya pecah bukan hanya karena penolakan orang tua—melainkan karena patahnya satu-satunya jembatan menuju mimpinya.

Di kamar yang sunyi, ponsel yang tadi membawa berita gembira kini terasa seperti alat pengingat: impian besar yang tiba-tiba sangat jauh. Hancur—kata itu menerjang lebih keras daripada dinginnya malam. Di luar, dunia terus berputar; di dalam kamar itu, sebuah pintu kecil menuju masa depan menutup perlahan.

Tok... tok...

"Ungh..." Aera terbangun dengan mata sembap. Ponselnya menyala di samping bantal—jam menunjukkan pukul 7 malam.

"Gila... gue tidur enam jam," batinnya, kepala terasa berat. Kecewa yang tadi sempat reda kembali menyeruak, menekan dadanya. Ia masih malas bergerak, seakan seluruh tenaga terserap habis oleh tangisan sore tadi.

"Ra, bukain pintunya. Eomma mau masuk..." suara lembut terdengar dari balik pintu.

Dengan lesu, Aera bangkit dan membukakan pintu. Di hadapannya berdiri sang ibu, membawa nampan berisi makanan. Senyumnya lembut, hangat—kontras dengan hati Aera yang masih dingin. Gadis itu hanya mengangguk, mempersilakan ibunya masuk. Mereka duduk berhadapan. Sang ibu membuka percakapan perlahan.

"Eomma sudah ngomong sama Papa..." Aera buru-buru memotong, suaranya pelan dan getir.

"Udahlah, Ma. Aku udah tahu kok... nggak bole—"

"Boleh, Ra."

Aera sontak menoleh, matanya membelalak. Jantungnya berdetak lebih cepat—takut salah dengar. Tapi senyum kecil yang mengembang di wajah ibunya, disertai anggukan pelan, menghapus semua keraguannya.

"WAAAA! GOMAWO, EOMMA!" teriak Aera, langsung melompat memeluk sang ibu erat-erat. Air mata yang tadi sempat kering kembali pecah, kali ini deras tapi hangat. Tangisan bahagia.

Sang ibu membalas pelukan itu dengan lembut, sebelum akhirnya berbisik pelan.

"Tapi janji satu hal buat Eomma sama Papa, ya..." Aera mengangguk cepat, masih terisak.

"Jaga diri. Kalau ada apa-apa, cerita. Karena kalau enggak... Papa bakal tarik kamu balik ke Indo. Arraseo?" Aera hanya bisa mengangguk lagi, kali ini lebih tenang, meski suaranya tercekat. Pelukan itu dilepas. Sang ibu menyodorkan nampan berisi makanan hangat.

"Makan dulu, ya..."

Aera menerima dengan senyum kecil. Perutnya memang lapar, tapi pikirannya lebih penuh daripada perutnya. Ada perasaan tak terucap—bahwa hanya perempuan yang benar-benar bisa memahami hati perempuan lain. Dan hari itu, ibunya membuktikannya.

Sedikit kilas balik melintas di benaknya. Ia anak tunggal, lahir dari ayah Jawa dan ibu Korea tulen. Tak heran sang ayah begitu protektif, seolah dunia terlalu berbahaya untuk putri semata wayangnya.

Meski besar di Indonesia, Aera tak pernah benar-benar jauh dari akar Korea. Ia bersekolah di sekolah Korea di Jakarta, fasih berbicara, dan tahu betul budayanya. Itu sebabnya ia tak merasa asing dengan mimpinya kini.

Ia menghela napas, meraih ponsel lagi. Lusa. Hari keberangkatan makin dekat. Senyumnya perlahan merekah.

"Okay, sekarang... gue harus bikin daftar barang yang perlu dibawa." Malam itu, di antara tangis yang reda dan semangkuk makanan hangat, mimpi yang sempat runtuh mulai berdiri kembali.

Wah terima kasih telah membaca~
Untuk mengahargai penulis, kalian cukup vote aja kok, apalagi komen tentang bagian mana yang kalian suka. Mudah kan🤩?!

Jangan lupa vomentnya~ 

SUNBAENIM! {PCY} [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang