10. Getting Worse

10 2 0
                                        

"Ra? Bangun Ra?!" Aera membuka mata. Ia langsung memeluk orang di depannya. Entah siapa, ia hanya takut kehilangan lagi.

"Kamu kenapa, Ra?" suara itu familiar. Bau parfumnya pun dikenalnya.

"Eh... Chanyeol?" Aera buru-buru melepas pelukan. Tapi tangannya ditahan.

"Eh Oppa, maaf. Kayaknya aku salah orang. Beneran, maaf ya."

"Gini dulu, lima menit," kata Chanyeol tenang, seakan lupa kalau ia adalah idol besar dan Aera hanyalah trainee.

"Tapi kalo ada yang liat?" suara Aera panik.

"Udah dikunci kamarnya," jawab Chanyeol santai. Kamar? Kamar siapa? Aera memutar pandangannya. Jangan bilang kamar member EXO. Anjirlah, gue di sini?!

Aera gelagapan, "Oppa, aku harus ganti baju dulu."

"Mau ganti pake apa? Junhee lagi ke sini, dia bawain baju kamu."

"Tapi—"

"Diem atau dicium?" Diem. Otomatis. Lalu Junhee masuk bawa baju, pas banget Chanyeol mo buka pintu. Aera langsung gelisah. Anjir muka doi merah banget. Jangan bilang karena liat gue abis lomba pake kostum sexy itu?!

Junhee malah nyeletuk sambil bisik, "Untung lo aman. Kayaknya dia nahan, eh..."

"Nahan boker kali," celetuk Bella sambil ngakak.

"Nahan nafsu liat baju lo sexy gitu," tambah Junhee. Aera menahan wajah panasnya. Sexy katanya? Tapi gue kan bukan siapa-siapa dia. Setelah mengganti pakaian, Aera keluar. Dilihatnya Chanyeol bersandar di tembok. Aera buru-buru bilang terima kasih, lalu kabur. Dalam hati masih berharap—setidaknya senyum, atau pamit, atau apa. Tapi Chanyeol cuma ngangguk, lalu balik ke kamar. Dasar ngarep.

Subuh. Pesan anonim masuk: "Bisa ketemu jam 3? Di luar gedung, dekat taman."

Aera datang. Sepi. Gelap. Jaket Chanyeol menemaninya. Tapi langkahnya berhenti ketika mendengar suara ribut.

"GUE UDAH NUNGGU LO LAMA, YEOL!" suara perempuan.

"Udahlah, Wen. Gue udah bilang gue nggak suka sama lo."Wen? Wendy?! Langkah Aera gugup, ranting terinjak. Krek. Suara keras. Panik, Aera berusaha kabur. Namun tangannya ditarik. Kuat sekali.

"Aera, aku mau ngomong sebentar." Aera kaku, matanya membelalak, shock. Berasa drama Korea banget.

"OH JADI INI YANG LO SUKA?!" Wendy muncul, tatapan menusuk.

"Nggak, Kak! Aku cuma lewa—"

"IYA! GUE SUKA SAMA AERA! UDAH NGERTI KAN SEKARANG?!" suara Chanyeol lantang, mengguncang malam. Aera melongo. Bingung. Ini beneran ngga sih? Batinnya. Antara senang atau... dimanfaatin?

"HEH AERA! BOCAH KAYAK LO NGGAK PANTES BARENG CHANYEOL YA!" Aera tercekat. Kata-kata itu lagi. Familiar, mengiris hati. Dari dulu, selalu begitu.

"Iya, Kak. Maaf. Aku emang nggak pantes. Permisi." Tangannya lepas dari genggaman Chanyeol. Ia berlari ke kamar.

"DAN LO LEBIH NGGAK PANTES LAGI BARENG GUE!!" telunjuknya menunjuk Wendy tepat di wajahnya. Ia berlari mengejar Aera, meninggalkan Wendy terduduk menangis. Tapi sesampainya di dalam, Aera sudah lenyap. Rencananya hancur berantakan. Malam itu, Chanyeol kembali ke kamarnya dengan frustasi, sementara Aera menangis dalam tidurnya.

Wah terima kasih telah membaca~
Untuk mengahargai penulis, kalian cukup vote aja kok, apalagi komen tentang bagian mana yang kalian suka. Mudah kan🤩?!

Jangan lupa vomentnya~

SUNBAENIM! {PCY} [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang