Kalaupun Junhee mengejarnya, Aera pasti tetap menolak. Di luar gedung, ia berlari ke taman, lalu ambruk di bangku ayunan. Air matanya pecah tanpa bisa dibendung.
"GUE HARUS GIMANA KALO KETEMU DIA?!!" teriaknya di antara isak.
Aera pernah jadi bahan bully hanya karena terlalu berharap pada seorang lelaki. Luka itu masih membekas. Ia nggak mau kejadian ini terulang lagi. Bahkan belum terulang pun, dirinya sudah sering jadi bahan olokan karena dianggap susah bersosialisasi.
Tangisannya makin keras. Lalu, seolah ikut menertawakan nasibnya, hujan turun deras. Bukannya meneduh, Aera malah diam membatu di ayunan, tubuhnya basah kuyup. Banyak sekali pikiran menyesaki kepalanya. Satu hal lain yang membuat dadanya makin sesak: ia takut gosip ini sampai ke telinga seorang senior yang terkenal galak... atau lebih parah, sampai ke telinga ayahnya.
"...apa gue bisa debut?" gumamnya lirih, nyaris kalah oleh suara hujan. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Sepasang sepatu berhenti tepat di depannya. Aera mendongak pelan, dan benar saja—itu milik orang yang sejak lama dicintainya. Park Chanyeol. Cowok itu berdiri dengan payung di tangan, memayungi Aera yang sudah kuyup kedinginan.
"Ayo masuk, Ra. Besok lomba, loh. Masuk ya?" suara Chanyeol terdengar lembut, berusaha membujuk.
Aera menatapnya dengan senyum getir. "Junhee bilang apalagi ke Oppa?" tanyanya, berusaha terdengar biasa saja.
"Nggak, Ra, aku—"
"Aku keliatan bodoh ya? Nangis gini cuma gara-gara orang yang aku suka..." suaranya bergetar.
"Oppa masuk dulu aja..." Chanyeol menatapnya lama, lalu tanpa banyak bicara, ia menjatuhkan payung itu ke tanah. Kedua tangannya meraih Aera, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya.
"Oppa... turunin..." suaranya makin lirih. Chanyeol menunduk, suaranya tegas namun hangat.
"Siapapun orang yang kamu suka, dia nggak bakal rela liat lo hancur gini, Ra."
"Emang Oppa nggak tahu siapa yang aku suka?" suara Aera lirih tapi getir. Dalam hatinya jelas: gue suka lo, tapi kalo lo pura-pura gini, gue benci.
"Siapa?" tanya Chanyeol, masih menggendong Aera sambil melangkah kembali ke gedung.
"Oppa beneran nggak tahu? Tadi Oppa ke kamar, Junhee bilang apa?" Aera makin menatapnya penuh harap. Chanyeol sedikit terdiam sebelum menjawab santai, "Minta tolong panggilin Aera. Katanya Junhee mau ke toilet, nggak nahan. Kalau sama yang lain, dia nggak bakal mau keluar."
Deg. Dunia Aera runtuh seketika. OON. Shit, fuck, JUNAIDI!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Begitu sampai gedung, ia langsung minta turun. Wajahnya memerah bukan karena dingin, tapi karena malu setengah mati. Dasar temen sialan! "Maaf jadi basah semua..." gumam Aera, menunduk. Bajunya basah, dalamannya menerawang, makin bikin ia salah tingkah. Chanyeol cuma mengibaskan tangan, "Santai aja. Dah balik sana, mandi." Jaketnya sudah ia sampirkan ke tubuh Aera sebelum melangkah pergi.
Tapi tunggu dulu—kok dia tahu gue di luar?
"Oppa?" Aera menoleh. Lah, orangnya sudah nggak ada. Ia buru-buru masuk kamar, mandi, dan nyuci jaket Chanyeol. Pas lagi dibilas, Aera sempat berhenti. Duh, baunya... gue suka banget. Walaupun basah... apa nggak usah dicuci aja? Ah, yakali Aera, gila lo. Begitu keluar kamar mandi, Aera kaget. Junhee berlutut di depan pintu.
"Apaan lo!"
"Maafin gue! Gue becanda doang! Gue mau jelasin, tapi keburu ngakak plus bingung..." wajah Junhee panik setengah mati.
"Males gue sama lo, oon dah," Aera mendengus. Ia mau jalan, tapi langkahnya dihalangin Junhee.
"Gue nggak akan biarin lo lewat kalo lo nggak maafin gue!" katanya drama banget, kayak aktor FTV.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNBAENIM! {PCY} [ON GOING]
Fiksi Penggemar"Nggak ra, aku-" "Aku keliatan bodoh ya, kek gini cuma gara-gara orang yang aku suka.."
![SUNBAENIM! {PCY} [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/294052752-64-k918188.jpg)