Selamat membaca•....
Kalian dapat salam dari Gavriel tuu ✨
Ataya menaruh sepeda motornya di halaman rumah, dan masuk ke dalam dengan langkah yang lelah. Hari ini begitu banyak pesanan yang harus ia antar, belum juga pekerjaan sekolah harus ia cicil sedikit-sedikit agar cepat selesai.
Tak luput dari pikirannya kemarin, perempuan itu bertemu dengan Bundanya walaupun disisi lain hatinya terluka orang yang ia sayangi tidak lagi menganggapnya.
Ataya telah memberitahu Leo tentang hal tersebut, namun adiknya menyuruhnya untuk melupakan semuanya.
"Kak, masih mikirin yang kemarin?" tanya Leo dari kamarnya melihat Ataya duduk di kursi sofa dengan raut yang lelah.
Perempuan itu tidak menjawab sekata pun, lelah rasanya menikmati hari-hari yang usang tanpa orang yang ia sayangi termasuk Ayahnya walaupun Ataya tahu pria itu jauh darinya guna untuk memenuhi kebutuhan hidup.
"Bunda udah enggak sayang kita lagi, enggak usah mikirin yang jauh dari kita, sekarang kita sudah bahagia kok kaya gini." ujar Leo sembari menghampiri Ataya.
Topi kerja yang menempel di kepalanya ia taruh di atas meja dan menatap Leo seakan hanya adiknyalah kini yang menjadi penguat dirinya.
"Mungkin kamu bisa ngomong kaya gitu, tapi Kakak enggak bisa."
Leo menepuk punggung tangan Ataya, tangan yang telah menari-nari di atas rintangan kehidupan yang sulit.
"Maafkan Le Kak, Leo belum bisa bantu kakak sampai sekarang."
Ataya mengelengkan kepalanya, seraya mengusap pucuk kepala Leo.
"Enggak Leo, ini bukan salah kamu. Kalau kamu rindu Bunda coba lihat foto keluarga kita yang dulu ya,"
Kedua mata mereka beralih ke sebuah pigura usang yang berada di ruang tamu. Coretan-coretan masa lalu yang penuh kegembiraan kini hanyalah tinggal kenangan, bertahan hidup dengan butiran kisah yang telah menjadi history menyesakkan hati.
"Kamu enggak mau keluarga kita kembali lagi seperti dulu?" lanjutnya.
"Kalau mau Leo jawab, Le mau. Le mau kembali seperti dulu. Tapi Kak, jangan menentang kebenaran yang telah ada di depan mata, itu akan percuma."
"Leo tahu kita tetap bisa bersama seperti ini." kata-kata Leo berhasil menyeruak ke dalam lubuk hati Ataya seolah-olah membentuk puing-puing yang telah rapuh itu, kembali membaik.
Pukul 00:15 dini hari.
Selepas menaruh jerih lelahnya, Ataya tidak langsung tidur, tugas sekolah harus ia selesaikan untuk besok. Entah mengapa kata-kata Leo sedikit membuatnya lebih baik walaupun di satu sisi ada keinginan untuk kembali menemui Bundanya.
Pigura kecil yang berdiri di atas meja belajarnya menampilkan sosok wanita yang ia cari selama ini. Hanya lewat fotolah ia dapat menyalurkan rasa rindunya.
Ting!
Suara notif ponsel Ataya berdenting, perempuan itu mengambil dan membaca isi dati notif tersebut.
Naurasafr: Gue tahu lo belum tidur?
Tidak berniat untuk membalasnya Ataya hanya membaca lalu menutup kembali ponselnya, namun sedetik kemudian Naura kembali megiriminya pesan.
Bales kali woy!
Iyaaa
Naurasafr: Kayak enggak ada semangat hidup gitu lo ah! Yang panjang napa balesnya
KAMU SEDANG MEMBACA
Nevertheless
RomanceNEVERTHELESS a.k.a ATAREL (UPDATE & REVISION) [ CERITA INI AKAN DIREVISI SETELAH TAMAT.] (15+) [on going] Pahitnya kepedihan, rasa sakit yang pernah ia alami di dalam lingkaran keluarga, sahabat, dan orang-orang sekitar, sudah ia rasakan berulang...
