•••••
Setelah kejadian ribut di lorong kamar mandi perempuan, Karel mengenggam tangan Ataya untuk ia bawa ke uks. Beruntungnya saat ini uks sedang sepi, wajah cowok itu hampir memerah menahan amarah yang Galang perbuat.
"Duduk." perintah Karel diikuti Ataya duduk di kursi uks, kemudian cowok itu sedikit jongkok dengan tangannya yang perlahan menyentuh samping wajah Ataya dengan lembut. Sedangkan perempuan itu sedikit memundurkan badannya.
Karel menyibakkan anak rambut Ataya kesamping dengan amat halus, mata cowok itu melihat dengan saksama ada memar atau tidak disana. Tak di sangka bercak kuku terpapar di rahang kiri perempuan tersebut.
"Kuku siapa?" tunjuk Karel dengan suara lembut.
Ataya berpikir terlebih dahulu, ia takut jika ia mengatakannya cowok di depannya ini pasti akan melakukan hal yang tidak-tidak pikirnya.
"B-bukan, enggak ada yang nyentuh gue kok beneran." ujarnya meyakinkan.
Karel melihat manik mata sayu Ataya, mata yang selalu membuatnya merasa nyaman dan selalu khawatir. "Jujur, gue nggak suka dibohongin."
Ataya merunduk, ia pasti tahu akan yang di perbuat cowok tersebut. "Ta gue cowok lo, gue tahu kalau lo nyembunyiin sesuatu dari gue." ujar Karel tulus. Entah mengapa Ataya sudah lama tidak merasakan hal seperti ini, tulus seperti bundanya yang dulu.
"Maaf, tapi enggak apa-apa nanti sembuh sendiri kok." senyuman itu, lagi-lagi Ataya tampilkan, senyuman dengan rasa kepedihan di dalamnya.
Dengan cepat, cowok itu berdiri mengambil minyak oles dan mengoleskannya ke rahang bawah perempuan tersebut. Rasa nyaman yang Karel bawa saat ini untuknya benar-benar membuatnya gila. Selalu saja dirinya merasa lebih nyaman dekatnya, cinta memang rumit bukan.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi satu jam yang lalu, Ataya duduk termanung di depan kelas setelah membantu mengisi jam pelajaran tambahan ubagi murid kelas XII. Perempuan itu sudah berjanji akan menunggu Karel jika ia belum keluar dari kelasnya, beruntung kali ini ia tidak kebagian membantu menerangkan pelajaran di kelas Galang maupun Bella.
Menunggu Karel yang tak kunjung menghampirinya, membuat Ataya merasa bosan, ia sudah menunggu hampir dua puluh menit. Memainkan ponsel mungkin cukup menghiburnya.
Suasana lorong sekolah nampak sepi lampu-lampu sudah menyala untuk menerangi di suasana malam. Dari arah lobi perpustakaan yang berada di samping kiri perempuan tersebut, ia mendengar suara keributan di dalamnya. Perempuan itu mencoba untuk mengabaikannya namun semakin dibiarkan semakin ribut suara di dalam perpustakaan. Ia memasukkan ponsel kedalam tas dan mencoba untuk memeriksa keributan itu.
Suara ribut semakin keras dari dalam perpustakaan, terdengar suara seorang perempuan dan laki-laki.
"Gal, please itu nggak seperti apa yang lo lihat, gue bisa jel-"
"Apa dengan penjelasan lo semua itu dapat membalikkan keadaan?" dengan suara datar.
Ataya mengintip dari luar jendela perpustakaan, tapi sialnya ia tidak bisa melihat secara langsung siapa yang sedang disana. Buku-buku tersebut menghalangi pandangannya.
"Gal gue minta maaf, jangan kaya gini please." ujar perempuan tersebut terdengar memohon.
"Gabisa Bel, keputusan gue udah mutlak!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Nevertheless
RomanceNEVERTHELESS a.k.a ATAREL (UPDATE & REVISION) [ CERITA INI AKAN DIREVISI SETELAH TAMAT.] (15+) [on going] Pahitnya kepedihan, rasa sakit yang pernah ia alami di dalam lingkaran keluarga, sahabat, dan orang-orang sekitar, sudah ia rasakan berulang...
