Suara gertakan telunjuk di meja kayu itu terdengar gusar, Karel memikirkan sesuatu yang akan terjadi kedepannya pada dirinya. Hendak mengangkat tubuhnya, pintu kokoh tersebut dibuka oleh seseorang.
"Sesuai keputusan setelah lulus sekolah nanti, kamu dengan Sella akan meneruskan perusahaan ini." Ujar pria tersebut yang menjadi Ayah dari seorang Karel.
Dengan raut terkejut, cowok itu spontan menjawab, "Aku bisa jalani perusahaan ini sendiri, tanpa dia." kalimat itu keluar dari mulut Karel dengan intonasinya yang dingin.
"Aku tidak setuju. Maaf kali ini." Lanjutnya dan meninggalkan pria tersebut di dalam ruangan dengan penuh kekecewaan.
Dengan cepat Karel meraih kunci motornya dan menuju ke sekolah walaupun pikirannya sedang tidak dapat fokus pada satu titik. Bukan Karel jika ia tidak bisa membagi waktunya dengan baik. Disisi lain suasana jalanan senin pagi ini mengingatkan Karel dengan gadis yang mampu membuatnya tak berhenti memikirkannya. Ataya dimana dia sekarang?
Cowok itu memandang setidaknya satu dua siswi yang juga mengendarai motornya untuk ke sekolah di jalanan yang sejuk itu. Entah mengapa ia berharap untuk bertemu dengan Ataya di perjalanan awal pagi ini, harap ada yang dapat mengembalikan perasaannya yang campur aduk ini walaupun ada rasa sedikit kecewa. Namun, ternyata cowok itu belum beruntung untuk berpapasan dengan perempuan itu.
Tak berselang lama cowok itu memarkirkan motornya sebelum bel masuk berbunyi. Namun, alih-alih matanya tidak sengaja melihat motor yang berada di sisi tepat ia memarkirkan motornya dan helm yang tidak asing baginya. Stiker boneka beruang di helm tersebut membuat Karel sedikit memunculkan senyumannya di sudut bibirnya. Gadis itu ternyata sudah datang rupanya. Ada celah rasa lega yang muncul disana.
•••••
A
taya membawa bunga gardenia yang ia beli saat perjalanan ke sekolah tadi pagi dan membungkusnya dengan wrap yang elegan. Perempuan itu membawanya dengan lembut agar tidak kusut dan membuka sebuah loker dan menaruhnya disana memastikan juga agar hati-hati dan meninggalkan sebuah catatan kecil lucu disana.
Sekolah berjalan lancar seperti biasa, ia melihat disekelilingnya canda tawa teman-temannya tak mampu membuat perempuan itu tertawa. Segalanya terasa berat. Seolah tawa teman-temannya hanya gema dari masa lalu yang tak bisa ia sentuh lagi. Tidak seorangpun menanyakan kabarnya hari ini, tidak seperti dulu temannya yang selalu bergabung menyampaikan canda tawa kepadanya. Semakin hari ia hanya mampu menatap jendela kelas yang menyorot lapangan olahraga yang luas berharap ia diberikan juga kekuatan seluas lapangan tersebut.
Nyatanya hari demi hari ia selalu rapuh, bertahan di segala macam alur hidupnya. Rasanya menatap seseorang disekitarnya pun ia tidak mampu, tapi ada satu orang yang membuatnya tidak bosan dan mengingat akan tujuannya sekarang, Ayah dan juga Bundanya. Perempuan itu menampilkan senyuman tipisnya, karena sore nanti usai pulang sekolah ia akan menemui Bundanya sebisa mungkin.
Di sela-sela ia menatap bangku dipojok depan kanan, ia melihat Karel sedang mengerjakan sesuatu dengan postur tubuhnya yang tegap. Namun, tidak lama itu, Karel membalikkan badannya kebelakang dan menemukan mata gadis itu sedang menatapnya dengan sayu. Cowok itu yang masih mengingat kejadian buruk itu langsung memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan, dengan hitungan detik cowok itu pergi dari hadapan Ataya.
Disisi lain di halaman sekolah Karel berada sedang memikirkan sesuatu dengan sekaleng kopi ditangannya.
"Lagi mikirin apa lo?" Suara berat milik Devan terdengar disamping nya.
Karel mengingat tatapan sayu gadis itu, "Apa mungkin dia pelakunya dengan mata dia yang sayu penuh kewaspadaan itu?" ucapnya.
Devan tidak langsung menjawabnya, ia menatap bunga-bunga sekilas di taman sekolah.
"Kalau lo mau memastikan, coba lo dengerin dulu ucapannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nevertheless
RomansNEVERTHELESS a.k.a ATAREL (UPDATE & REVISION) [ CERITA INI AKAN DIREVISI SETELAH TAMAT.] (15+) [on going] Pahitnya kepedihan, rasa sakit yang pernah ia alami di dalam lingkaran keluarga, sahabat, dan orang-orang sekitar, sudah ia rasakan berulang...
