4. Aku adalah Aku

456 38 8
                                        

Sekolah sudah sepi, bahkan sinar senja sudah meredup.

Dimana Hinata?

Toneri hampir frustrasi karena teleponnya tidak diangkat juga oleh tunangannya itu. Dia sudah bertanya pada satpam sekolah, namun jawabannya tetap saja tidak menolongnya sama sekali. Semua murid memang sudah pulang.

Hanya tersisa beberapa kendaraan guru diparkiran. Mereka tidak sadar motor Naruto berada diantaranya.

Ini tidak benar, Toneri harus segera mencari Hinata. Dia sudah menunggu dua jam disini bahkan menyuruh seseorang untuk masuk memeriksa sekolahan. Datang berpura-pura sebagai anak guru.

Nihil.

"Argh! Hinata. Kali ini apalagi trikmu?" Dia mengomel sendiri, segera menyalakan mesin mobil dan putar balik menuju kediaman Hyuuga.

Berharap kali ini Hinata tidak lari kemana-mana, tetapi kembali kerumah.

Sementara itu, dihalaman belakang yang jarang ada yang mengunjungi. Lampu taman bahkan sudah dinyalakan. Hinata asyik membaca novel tebal yang Naruto selalu bawa-bawa. Awalnya dia hanya iseng mengintip dan membaca beberapa paragraf saja saat diperpustakaan tadi, namun sepertinya cerita dibuku itu berhasil membuatnya tenggelam. Next time, dia harus menyelinap membaca buku ini. Minimal satu bab sehari tanpa sepengetahuan Naruto yang galak.

Mungkin jika Naruto bergerak sedikit saja dipangkuannya sekarang, Hinata akan berpura-pura tidur, agar ia tidak kepergok sedang membaca novel yang dijaga ketat isinya oleh pemuda pirang ini.

Tanpa ia sadar, semakin terhanyut membaca, Hinata tertawa karena beberapa paragraf komedi kecil didalamnya. Gerakan selanjutnya Hinata sudah dibuat membeku karena Naruto tanpa aba-aba kini sudah memeluknya begitu erat.

Hinata dibuat merinding jadinya. Dia nyaris menjerit karena terkejut. Apa ini cara Naruto marah? Naruto akan mencekiknya?!

"U-Uzumaki-kun- aku-"

Jemari berwarna tan hinggap dengan cepat diatas bahu mungil Hinata. Memutar dan membawanya kedalam sebuah pelukan hangat yang mengejutkan bahkan semakin erat. Seolah takut Hinata akan terbang saja.

"Kau sudah mengakhiri permainan ini. Iya, 'kan?" Tanya Naruto tiba-tiba.

"Baka..." Bisik Naruto frustrasi. "Baka omae!" Tambahnya sedikit berteriak. Hinata masih dibuat tertegun. "Kau pergi kemudian kembali setelah aku hampir berhasil melupakanmu! Apa permainan itu sebegitu seru sampai kau rela dibunuh olehnya!?" Racau Naruto.

Hinata semakin dibuat ciut jadinya. Tangannya dengan pelan bergerak menutup buku dan meletakkannya di samping. Baru saja ia mau tersenyum lega karena berhasil menyembunyikan novel tersebut, tiba-tiba ia mendengar Naruto mendengus tipis.

"Kau ingin aku mati menyusulmu, huh?" bisik Naruto.

Hinata tersentak dan mendorong bahu Naruto sedikit agar ia bisa menatap sepasang netra biru yang layu itu.

"Uzumaki-kun!" bentak Hinata.

Itu menyadarkan Naruto seketika. Pemuda itu tersentak dan membatu bingung, menatap raut wajah Hinata yang marah bercampur kecewa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 30, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Dimensional BondsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang