Blue and Grey 4 : Run Baby Run!

250 37 30
                                    

"Ibu, aku akan pergi jogging. Setelahnya aku akan membantumu," ucap Yoongi sambil mengikat tali sepatu dengan cepat. Suaranya penuh semangat, meski sedikit terbata-bata karena masih setengah mengantuk.

"Baik, sayang. Hati-hati di jalan. Di luar masih cukup gelap," jawab ibunya dari dapur, suaranya terdengar lembut dan penuh perhatian.

"Kalau begitu, aku berangkat," Yoongi memastikan sebelum melangkah keluar.

Bukan hari Minggu, melainkan hari Jumat—hari di mana rutinitas joggingnya dimulai. Ini adalah satu-satunya hari di mana ia memiliki sedikit waktu luang dari segala tugas kuliah dan kewajiban di rumah. Yoongi sebenarnya bukan tipe orang yang menjunjung tinggi gaya hidup sehat. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa nyeri di pinggangnya semakin sering muncul akibat terlalu lama duduk di depan laptop. Karena itu, ia memutuskan untuk menyisihkan waktu setiap minggu untuk berlari kecil mengelilingi kompleks perumahan.

Dengan legging hitam yang ketat dan jaket abu-abu tipis, Yoongi melangkah keluar dari rumah tuannya, berusaha mengabaikan rasa dingin yang menggigit kulitnya. Benar kata ibunya, langit masih gelap; embun pagi menyelimuti rumput di sekitarnya, dan aroma segar udara pagi mengisi paru-parunya. Matahari mungkin masih berjuang untuk mengumpulkan nyawanya sebelum kembali bekerja di langit.

Yoongi memulai lari kecilnya, tidak lupa menggumamkan lirik lagu yang mengalun dari airpod di telinganya. Langkahnya terasa ringan di awal, meskipun sedikit canggung karena jarang berolahraga. Mengingat bahwa kompleks perumahan tempat tinggalnya adalah lingkungan elit, sudah wajar jika sepanjang berlari, ia tidak melihat siapapun. Suasana tenang, hanya suara alam dan irama napasnya yang membantunya menemukan ritme.

Namun, pikirannya melayang pada tuannya, Jeon Jungkook. Sejak lama, ia tahu bahwa Jungkook adalah penggila olahraga—pria itu bahkan memiliki gym pribadi di rumahnya. Beberapa kali, Yoongi menangkap momen ketika Jungkook berlari kecil di depan rumah mereka, tubuhnya yang atletis berkilau oleh keringat, meskipun hanya beberapa menit setelah berlari. Dalam hati, Yoongi merasa agak kagum, namun juga sedikit tertekan karena perbandingan yang tidak adil ini.

Napas Yoongi mulai memberat, meskipun ia belum genap berlari 10 meter. Wajar saja, pikirnya, tubuhnya jarang berolahraga dan daya tahan tubuhnya jauh dari kata ideal. Namun, ia memaksakan diri untuk terus berlari, mengusir rasa malas yang mengendap di dalam dirinya. Setiap langkahnya terasa semakin berat, tetapi ia terus mengingat tujuannya—rasa sakit di pinggangnya yang harus dihindari.

"Lain kali pergilah bersamaku," suara yang tiba-tiba muncul di sampingnya membuat Yoongi terlonjak kaget. Ia memang sengaja memutar musik dengan volume kecil, berharap dapat menikmati lagu-lagu favoritnya sambil berlari. Belum lagi, kehadiran seseorang yang sangat ia kenal itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Tuannya, Jeon Jungkook, terus berlari meskipun Yoongi berhenti.

"Terus berlari, Yoongi! Jika tidak, dirimu akan semakin lelah!" teriak Jungkook tanpa menoleh atau bahkan mengurangi kecepatan langkahnya.

Seolah tersadar dari lamunannya, Yoongi mengatur napasnya dan kembali berlari kecil, berusaha agar tetap berada di belakang Jungkook. Dia memperhatikan punggung tuannya yang lebar dan kokoh, terbungkus dalam kaus hitam yang kini basah oleh keringat. Setiap gerakan Jungkook tampak penuh kepercayaan diri, membuat Yoongi terpesona. Pikiran untuk tetap berlari di belakang pria itu terasa semakin sulit saat ia melihat betapa menawannya sosok Jungkook, terutama saat keringat menetes di punggungnya, memantulkan cahaya pagi.

"Biasakan dirimu berjalan di sampingku, Yoongi. Aku tidak suka kau berjalan di belakangku seperti orang asing," suara Jungkook terdengar lebih jelas kini, membuat Yoongi melirik tuannya dengan tatapan bertanya. Apakah ia benar-benar mendengar dengan benar? Mematikan musiknya agar bisa mendengar lebih baik, ia berharap kalimat itu hanyalah halusinasinya. Namun, tidak; Jungkook memang mengatakan hal itu.

Blue and GreyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang