12 tahun kemudian.
Di sebuah tempat yang lumayan sepi, terlihat dua orang anak laki-laki yang mana salah satu nya berada di atas kursi roda dengan sang kakak yang berjongkok sembari menaruh sebuah buket bunga di depan nisan.
"Ma, apa kabar? Maaf ya, Jeongwoo akhir-akhir ini jarang ngunjungin Mama karna sibuk buat persiapan ujian." Ucapnya setelah menaruh buket bunga yang tadi sempat ia beli di toko paman Moon.
"Oh iya, hari ini Jeongwoo gak sendirian, Ma. Ada Junghwan juga," lanjutnya.
"Eum.. hai, Ma? Ini Junghwan, hari ini kak Uwo ngajakin Junghwan buat ke makam Mama karna kebetulan hari ini Junghwan gak ada jadwal terapi, hehe." Anak berumur sembilan tahun itu berucap dengan kekehan kecil di akhir kalimat.
Melihat itu membuat Jeongwoo tersenyum manis kearah sang adik sebelum kembali menatap kearah makam dengan nisan kemarik berwarna hitam yang bertuliskan 'Kim Yedam' dengan menggunakan huruf korea.
"Kak, habis ini kita ke makam papa juga, kan?" Tanya Junghwan.
Senyum di wajah Jeongwoo perlahan memudar begitu mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut sang adik.
"Kita... habis ini bakal pulang ke rumah kakek, dek." Jawab Jeongwoo.
"Kenapa kok gitu? Junghwan kan pengen liat papa, kak." Rengek Junghwan.
"Gak bisa, Hwan."
"Kenapa?"
"Karena gak ada makam papa, disini." Jawab Jeongwoo lirih.
Mendengar itu seketika membuat Junghwan terdiam.
"Tuan muda, mari kita pulang. Kalian sudah di tunggu oleh kakek dan nenek Kim." Kata seorang pria yang memakai pakaian berwarna hitam.
Jeongwoo buru-buru menghapus air matanya sebelum mengangguk.
"Ma, Jeongwoo sama Junghwan pamit ya? Nanti kita kapan-kapan kesini lagi, jengukin Mama." Pamit Jeongwoo. Tak lupa tersenyum sebelum akhirnya mendorong pelan kursi roda sang adik menuju mobil.
----o0o----
Jeongwoo membuka perlahan kedua matanya lalu mengubah posisinya menjadi duduk di sisi kasur sembari mengusap kedua matanya perlahan.
02.01
Jam kecil yang berada di atas nakas menunjukkan pukul dua lewat satu menit. Terdiam beberapa detik sebelum akhirnya Jeongwoo memutuskan beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil air putih di dapur hanya sekedar untuk menghilangkan dahganya.
"Mama hiks.. papa jahat hiks.. papa ngambil boneka jeje hiks.."
"Doy, jangan iseng deh kamu. Kembaliin gak?"
"Hehe, gak mauu. Ambil sini kalo bisa,"
"Huaaa mama... papa nakal hiks.."
"Doyoung! Kembaliin atau.."
"Iya, iya. Saya balikin. Nih, dasar cebong."
Langkah kaki Jeongwoo terhenti begitu berada di anak tangga ke tujuh ketika melihat siluet dirinya, Doyoung dan Yedam saat ia masih kecil.
Jeongwoo menatap lamat kearah ruang tamu rumah sang kakek. Tanpa sadar, pegangannya pada pagar tangga menguat.
"Pa.. Ma.. Jeje kangen kalian.." lirihnya dengan air matanya yang mulai keluar dari pelupuk matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
papa, dodam [end]
Fanfictionft. jeongwoo "jelas, karna jeongwoo itu harta yang paling berharga buat gue setelah kak Yedam."
![papa, dodam [end]](https://img.wattpad.com/cover/295441032-64-k36081.jpg)