"MILO... CLEO..."
Teriakan seorang gadis menggema di dalam sebuah rumah yang sederhana. Jarak antar rumah satu dengan rumah yang lain sedikit jauh jadi mau dia teriak sekeras apapun tidak akan ada yang menegurnya, Kecuali...
"Jangan teriak-teriak! Kakak pikir, kakak saja yang punya mulut dan telinga!?"
"Diam kau! Tidak ikut membantu malah ngomel-ngomel!"
"Mereka pasti pulang, mereka sudah tahu rumahnya!"
"Bodoh amat, kasihan tahu! Hampir malam tapi malah mereka berkeliaran di hutan, kalau mereka dimakan ular atau binatang buas lainnya bagaimana? Kau mau tanggung jawab?!"
Seorang wanita paruh baya datang dari arah dapur membawa beberapa camilan dan melihat pemandangan yang hampir setiap hari selalu terjadi di dalam rumahnya, apa lagi kalau bukan pertengkaran adik kakak itu. Lekas wanita itu kembali ke dapur dan membawa dua pisau dan memberikannya di setiap genggaman kedua anak-anaknya. Dengan itu, kedua anaknya terdiam dan memberikan tatapan tanya padanya.
"Kenapa berhenti? Lanjutkan saja, ibu mau lihat."
"Ap-apa maksud ibu?"
"I-iya, a-apa maksud ibu memberikan kami pisau ini?"
"Untuk kalian. Lebih hebat kalau bertengkar pakai pisau, kan?"
"Maaf, bu. Kami tidak akan bertengkar lagi, kok. Serius!"
"Iya, ibu. Maafkan kami, ya?"
Ibu dua anak tersebut tidak menghiraukan kedua anaknya. Wanita itu memilih duduk di sofa dan memakan camilan yang dari tadi ia bawa. Mata wanita itu tidak luput dari kedua anaknya yang sekarang ikut duduk di sampingnya.
Tangannya menyodorkan camilan yang tadi ia bawa ke putri tertuanya yang terlihat wajahnya sedang di tekuk itu, lalu menyodorkannya lagi ke anak bungsunya.
"Pertengkaran apa lagi kali ini? Gara-gara kucing lagi?"
"Kakak sih. Kucing aja, apa perlu khawatir sekali seperti itu?"
Aira Kiena Myeisha, menatap tajam sang adik. Mulutnya akan kembali ia buka yang tentu akan memancing pertengkaran mereka lagi. Tapi sebelum pertengkaran itu kembali di mulai, pintu rumah mereka di ketuk seseorang dari luar.
Aira memberi kode adiknya lewat mata agar membukakan pintu. Aezar Edzard Detavin, pura-pura tidak paham maksud lirikan sang kakak. Sang ibu hanya menghela nafas melihat kelakuan malas kedua anak tersayangnya itu, jadi dia berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Pintu terbuka, muncul seorang gadis kecil membawa beberapa bingkisan dalam kantong hitam. Gadis kecil tersebut memberikan senyum khasnya yang imut padanya dan di balas senyum manis darinya pula. Lalu gadis kecil itu memberikan bingkisan yang di bawanya itu.
"Dari siapa, sayang?"
"Dari mama aku, bibi Lyra. Mama tadi buat kue banyak."
"Oh, begitu. Terima kasih, sayang. Hati-hati di jalan, ya?"
"Siap, bibi Lyra. Risa pergi dulu, bye bye~"
Gadis kecil itu melambaikan tangan padanya, dan ia balas melambaikan tangannya juga. Lyra kembali masuk ke ruang tamu, dan melihat pemandangan yang berhasil membuatnya kembali kesal.
"TERUSLAH BERTENGKAR, KALIAN BERDUA! KALAU TIDAK KALIAN BERESKAN KEKACAUAN INI, SIAP-SIAP BESOK TIDAK IBU KASIH JATAH UANG JAJAN!"
"HUAA, JANGAN IBUUUU!"
Skip_
Jarum jam beker di kamar Aira menunjukkan pukul dua dini hari, tapi gadis itu sama sekali tidak bisa menutup matanya. Hatinya terus gelisah sedari tadi lantaran kedua kucing kesayangannya belum kembali pulang juga.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Alpha And His Soul Mate
Hombres LoboAira, gadis manusia yang terjebak hubungan cinta dengan seorang makhluk immortal, makhluk abadi yang berjenis Werewolf. Berawal dari pertemuan malam itu yang membuat hubungan cinta mereka terbentuk dan mulai terjalin. Axel, seorang Alpha terkuat ya...