BAB 1. Lembar Pertama (Part 1)

129 1 0
                                        

(Ilustrasi 'Lembar Pertama' oleh Rendy Ridwan)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Ilustrasi 'Lembar Pertama' oleh Rendy Ridwan)

Jakarta, Juli 2005.

Tak ada masa yang paling indah, kecuali masa-masa sebelum aku dipanggil playboy oleh teman-temanku.

Dua hari sebelum pembukaan Masa Orientasi Siswa (MOS), hari Sabtu, seluruh calon siswa baru diminta untuk datang ke sekolah. Mengenakan seragam putih-merah, dengan wajah polos, mencatat peralatan dan perlengkapan yang nantinya dibawa pada hari pertama. MOS sendiri akan diadakan selama 3 hari. Ah, aku akan segera menjadi murid kelas 1 SMP.

Ternyata mencatat peralatan dan perlengkapan saja tidak cukup. Ada makanan dan minuman aneh yang juga harus kami bawa pada hari pertama sampai hari terakhir MOS. Untuk hari pertama, kakak kelas meminta kami menyiapkan nasi perdamaian, telur bajak laut, air gunung, buah permisi, dan sayur kakek-kakek. Semua itu harus dibawa pada hari pertama.

Aku sedikit kesulitan menemukan 'air gunung' yang dimaksud oleh panitia MOS. Keluargaku juga tidak ada yang tahu. Dan lagi, sekalipun sudah ada warung internet (Warnet), aku tidak berpikir untuk mencarinya di sana.

Beruntung aku dibantu oleh Vera, tetangga di rumah yang juga satu sekolah. Harusnya aku selamat, karena Vera satu tingkat di atasku. Tapi saat aku ke rumahnya, ia tidak tahu apa pun tentang 'air gunung'. Selebihnya, ia menjelaskan tentang beberapa hal.

Karena berwarna putih, nasi yang biasa kumakan dapat dikatakan sebagai nasi perdamaian. Bajak laut hanya punya satu mata, maka telur ceplok atau telur mata sapi dapat mewakilinya. Buah permisi, apa lagi kalau bukan buah mangga? Dalam bahasa Sunda, kata "mangga" berarti permisi. Sayur kakek-kakek, ternyata sayur kangkung. Sayur ini ternyata memplesetkan kata "kakung", panggilan kakek dalam bahasa Jawa.

Aku menggerutu dalam hati, "Air Gunung? Ah! Minuman aneh macam apa ini?"

Tak mau ambil pusing, lalu aku kembali ke rumah. Kukatakan kepada Ibu kalau Vera tak tahu-menahu soal 'air gunung'. Kemudian Ibu melepas kemasan dari botol air mineral yang dijual di warung klontong milik keluarga kami.

"Sekolah kok ribet betul!" Kata-kata Ibu cukup membantuku menyingkirkan rasa cemas. Aku hanya perlu membawa makanan dan minuman aneh itu ke sekolah.

Teman-temanku di rumah bilang kalau MOS itu mengerikan. Aku tidak mengerti maksud mereka, tapi kecemasan itu seketika datang lagi. Ya, aku tidak membawa 'air gunung'. Entah hukuman seperti apa yang akan kudapatkan.

MOS di sekolahku memang tidak menggunakan cara kekerasan. Tapi selain membawa makanan dan minuman aneh ke sekolah, kami para calon siswa baru juga harus mendapatkan tanda tangan kakak kelas, dengan jumlah minimal lima belas tanda tangan. Dan hanya boleh didapatkan dari panitia MOS, atau kakak kelas yang memakai pita merah.

***

Hari pertama MOS kulalui dengan susah payah. Antrean mendapatkan tanda tangan panitia MOS sudah diambil alih oleh murid-murid cewek. Harapanku hanya tertuju pada kakak kelas yang memakai pita merah, tapi lebih banyak dari mereka yang menyamar seperti siswa biasa. Aku lihat anak-anak baru lain sama payahnya. Bahkan, ada juga yang dikerjai saat meminta tanda tangan dari kakak kelas yang memakai pita.

Memoar Mantan PlayboyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang