Masalah baru

4 0 0
                                    

Ternyata keputusan Safira untuk bekerja malah menimbulkan masalah baru. Bagaimana tidak, ia selama 3 bulan tidak masuk kelas dan memberikan absen palsu. Mau tidak mau sekarang ia harus menerima konsekuensi akibat kecerobohannya sendiri. Dulu ia sangat kesal dengan teman-temanya di kampus hampir setiap hari menjadi bahan gunjingan. Nekatlah ia mencari suasana baru dan iseng melamar pekerjaan di salah satu Bank swasta dengan harapan bisa dapat suasana baru agar ia cepat lupa dengan masalahnya. Karena ulahnya sendiri Safira terancam DropOut dari kampus, namun beruntung wali dosennya masih berbaik hati memberi ia kesempatan untuk memperbaiki nilai-nilainya. Tentunya dengan syarat dalam kurun waktu 1 bulan, jika selama 1 bulan Safira tidak bisa memperbaikinya maka Wali Dosennya tak bisa berbuat apa-apa lagi.

"Safira...bagaimana kuliah kamu nak? Lancar kan sayang? Oh ya, minggu depan rencananya Mama dan Papa akan ke Bandung untuk menengok kamu...".

"Haduh mampus gue, mana Mama dan Papa mau kesini..." gerutunya sehabis membaca chatt WA dari Mamanya.

"Kenapa Fir?" ujar Arini melihat rekan kerjanya gusar.

"Mama Papa mau kesini Rin, minggu depan. Sedangkan jadwalku padat banget, pulang kerja harus bimbingan ke rumah dosen menyebalkan itu. Gila gak, tugas segitu banyaknya gue cuma punya waktu 1 bulan. Kalo gak terancam DO...".

Arini hanya geleng kepala dan tersenyum melihat kegusaran temannya itu.

"Fira, ikut ke ruangan saya sekarang...!" tiba-tiba manager Safira datang dan menghampiri meja kerja Safira.

"Baik Pak.." jawab Safira.

Safira pun mengindahkan perintah managernya.

"Safira kinerja kamu selama ini memang bagus dan sangat disayangkan mengapa selama 1 minggu ini kamu tidak fokus kerjakan laporan perusahaab. Alhasil laporan yang kamu berikan selalu gejlok, bahkan tak jarang kami pun harus lembur karena keteledoran kamu. Saya tahu, kamu masih magang disini bukan berarti kerja kamu asal-asalan. Masalah yang ada jangan kamu bawa ke kantor, usahakan kerja itu fokus...!" tegas Pak Andi.

"Saya mohon maaf Pak , saya akui salah. Pikiran saya terbagi dengan tugas kuliah saya, InsyaAllah saya takkan mengulangi kesalahan saya Pak..." ujar Safira menyesal, belum pernah ia melihat Pak Andi sangat kecewa terhadapnya.

"Dari awal kan saya bilang, kenapa kamu tidak pindah ke kelas karyawan atau ajukan cuti ? Mungkin takkan serumit ini, maka dari itu saya berikan 1 pilihan pada kamu. Selesaikan dulu sekolahmu baru setelah itu bisa perjuangkan kariermu disini. Maaf saya pun punya anak seusia kamu Safira, begitu besar saya menaruh harapan pada anak saya. Orangtua tidak menginginkan apapun dari anaknya, terlepas hanya ingin melihat anaknya sukses. Maka dari itu, selaku orangtua saya pun sekuat tenaga menyekolahkan anak saya sampai gerbang sarjana. Hargailah nak perjuangan orangtuamu....!" Pak Andi mencoba membuka pikiran Safira, ia begitu menyayangi Safira bak anak kandungnya.

"Sekali lagi saya mohon maaf Pak. Iya saya ceroboh hanya karena satu masalah malah menimbulkan masalah baru untuk saya. Berat rasanya bagi saya untuk resign karena kalian adalah rumah kedua bagi saya. Saya betah disini Pak, tapi saya tidak bisa melihat orangtua saya kecewa kedua kalinya. Maka dari itu saya sadar diri, saya memilih untuk resign dari sini...." Akhirnya Safira membuat keputusan sendiri. Ia teringat nasihat Pak Andi untuk membuat orangtuanya bahagia.

"Hmmm...kamu telah membuat keputusan yang benar nak. Ayo semangat lagi, Bapak yakin lelaki mana yang tidak mau menerima wanita yang berjuang seperti kamu. Biarlah kegagalan kemarin jangan sampai merusak masa depanmu lagi. Anggaplah selama 3 bulan disini kamu temukan kehidupan baru. Sukses terus Safira, saya tunggu kamu disini sebagai rekan kerja saya lagi...." Pak Andi menepuk pundak Safira sambil berkaca-kaca. Karena bagaimanapun selama ini, Safira telah menjadi rekan kerja yang baik dan berdedikasi. Sengaja beliau panggil Safira ke ruangannya karena beliau tahu masalah yang Safira hadapi.

Safira akhirnya keluar dari ruangan Pak Andi, ia menghela nafas sesekali. Berharap keputusannya kali ini takkan menimbulkan banyak masalah lagi. Pak Andi benar, ia harus lanjutkan pendidikannya. Karena hanya ini jalan satu-satunya melihat orangtuanya tersenyum. Namun, ia pun berat meninggalkan rekan-rekan kerjanya. Disini ia dapatkan pengalaman yang baru, suasana baru dan perlahan mulai bangkit lagi dari keterpurukannya. Karena di kampusnya, Safira jadi bahan olokkan mahasiswa lain, gosipnya tersebar satu fakultas. Bukan ketenangan yang ia dapat malah cibiran dari yang lainnya. Beruntung ia masih punya 1 sahabat yang bisa dengarkan segala keluh kesahnya. Kali ini ia takkan lari dari masalah, biarlah ia jadi bahan olokkan toh nanti juga mereka berhenti sendiri.

"Gimana dek ? Kenapa kamu dipanggil Pak Andi?..." tanya mbak Fina rekan kerjanya.

"Saya resign kerja mbak, maafin ya selama ini Fira hanya repotkan kalian...." jawab Safira dengan mata berkaca-kaca.

"Ahhh...gak ada lagi nanti yang ngajak keluar makan, gak ada lagi miss galau disini...." timpal Arini seraya memeluk sahabatnya itu.

"Terpaksa karena aku harus kejar masa depanku, insyaAllah nanti kita ketemu lagi. Pasti akan selalu rindukan kalian disini..." Safira mengusap air matanya yang mulai mengalir basahi pipi chubbynya.

"Gak apa-apa neng, semangat 45..." Pak Fery satpam dikantornya mencoba semangati Safira.

Safira tersenyum sekaligus sedih akan meninggalkan tempat yang membuat ia nyaman sekali. Ia pun segera membereskan semua barang-barangnya karena besok takkan bekerja lagi. Safira bisa fokus pada tugas yang dosen berikan.

"Siapa tahu, wali dosen ganteng itu jadi jodohmu neng. Denger-denger masih bujangan tuh Pak Dosen..." goda Arini.

"Hussh... sembarangan mana mau aku sama dia. Menyebalkan, kaku, udah gitu bujangan lapuk. Buktinya belum laku kan sampai sekarang, atau mungkin maho kali ya....".

"Hati-hati Fir, gimana kalau ternyata dosen itu crush kamu selama ini. Kan selalu cerita tuh, sebelum ketemu si mantan kamu setiap hari selalu ada kiriman bunga dan cokelat di bangku kamu. Jangan-jangan doi..." Arini menggoda Safira lagi.

Safira hanya bergidik, ia sama sekali tak tertarik pada dosennya.

Selesai membereskan barang dan berpamitan pada semuanya. Safira langsung menuju rumah dosennya untuk lakukan bimbingan. Ternyata ingin lari dari masalah malah dapat masalah ya gengs hehe 😂.

*******

Stuck sudah ideku hehe...
Maaf ya kalau agak kurang nyambung, next revisi deh 🤭

Penasaran dengan kisah Safira selanjutnya, yuuuk terus tunggu updatean ku. Danke 😍😍

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 11, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

"SAFIRA"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang