Warning! House burning down.
---
Tawan memandang kobaran api di hadapannya, sirene mobil pemadam kebakaran tanpa henti bergema di telinga untuk membantu memadamkan si jago merah tersebut. Seluruh tubuh milik sang pria bergetar, membuat Arm di sampingnya mulai mengulurkan tangan untuk mengusap punggung lebar milik temannya.
Lelaki itu melangkah maju, mencoba kembali mendekat ke arah rumah yang sebentar lagi hangus terbakar. Lalu langkahnya terhenti ketika ledakan cukup besar terjadi akibat api yang semakin membara. Tubuh milik Tawan ambruk seketika, "Poom, Poom masih di sana..." Gumaman tersebut tanpa henti dilontarkan.
Membuat Arm menyejajarkan tubuhnya dengan pria itu dan mulai memberikan pelukan erat-erat, akibat kepanikan yang muncul, masing-masing mencoba untuk menyelamatkan diri dan mengamankan sang tuan, tanpa memikirkan apapun lagi sebab api yang terlalu cepat menjalar ke seluruh bagian rumah.
"Tawan,"
"Poom di sana Arm, gue nggak sempet bawa dia."
"Gue minta maaf."
"Thitipoom di sana, dia panas... Arm, tolong selametin, gue mohon."
"Wan, gue minta maaf banget." Sahabatnya ikut menggumam lirih, benar memohon ampun akan ketidakmampuannya dalam memberikan penyelamatan yang sama akan New di dalam sana.
Hari ini, pukul dua pagi, seseorang dengan sengaja membakar dirinya bersamaan dengan rumah besar Vihokratana, diyakini pelakunya adalah pemberontak yang tak terima akan kematian anggota keluarga mereka.
Namun, yang lebih menyakitkan dari melihat kobaran api yang menghanguskan markas besar mereka, dada milik Tawan merasa terhimpit sebab tak memiliki daya untuk sekedar menyerbu masuk ke dalam dan menemukan New. Membawa tubuh itu keluar dan diberikan dekapan serta kata penenang halus, untuk tak takut, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Poom, Thitipoom..."
"Dia masih di sana..."
"Poom, please..."
---
"Wan, Tawan." Off menepuk-nepuk pipi milik pria itu, mencoba membangunkan Tawan dari lelapnya. Pukul lima pagi dan ia bisa mendengar suara lirih dari temannya tersebut dari kamar sebelah.
Empat bulan berlalu dan belum ada satupun dari mereka yang bisa melupakan kejadian tersebut.
Ketika netra milik Tawan menampilkan dua bulatan kecokelatan di dalamnya, Off mendudukkan diri di atas ranjang dan menyerahkan segelas air yang sengaja dipersiapkan di atas nakas, "Nightmare, huh?"
Tawan menganggukkan kepala, dengan cepat ikut merubah posisinya menjadi terduduk di sebelah sahabatnya itu. Setiap malam. Tanpa henti. Mimpi itu datang.
"I hope he's still here with us." Off bergumam sembari menatap lantai di bawahnya, memijat keningnya cukup kencang mencoba membuat rasa pening yang melanda berkurang sedikit. Sama seperti Tawan, tidurnya tak pernah kembali nyenyak beberapa bulan ke belakang. Selalu dihantui bayang-bayang akan kebakaran yang terjadi di markas besar atau rumah keluarga Vihokratana.
Mereka tak mempermasalahkan bagaimana harta benda yang hilang sebab sebagian besar kepemilikan dari Vihokratana memang tak tersimpan di sana, tetapi bagaimana kenangan yang hadir, serta beberapa orang yang menjadi korban jiwa dalam kobaran api tersebut, membuat memori buruk kian melekat dalam benak masing-masing.
Terlebih, Thitipoom yang tak diketahui keberadaannya sekarang.
Polisi berkata jika mayat yang ditemukan tak ada yang beridentitaskan Thitipoom Techaapaikhun, entah benar tubuhnya berubah menjadi abu sepenuhnya atau ia berhasil melarikan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Orbis ✓
RomanceMengisahkan tentang dua insan dengan dunia yang bertolak belakang. "Namun, Mas, maaf, aku benar tak bisa di sini bersamamu. Dunia yang aku inginkan dengan semesta yang tengah kamu jalankan, bertolak belakang. Aku rasa, aku tak bisa." -Thitipoom. a T...
