Dave masih menatap lembut laki-laki yang berada di pangkuannya. Yang di tatap masih bungkam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak berani menatap langsung Dave.
''Kala, aku butuh jawaban,'' Perkataan Dave menarik atensi Renjun. Si manis memberanikan diri menatap laki-laki di hadapannya itu. Tatapannya sudah berganti, menjadi tajam dan menuntut membuat Renjun sedikit takut.
Mengabaikan dirinya yang berusia lebih muda dari Dave, Renjun memanggil laki-laki yang sedang memangkunya itu tanpa embel-embel om. Toh, Dave sendiri yang memintanya, bukan?
''Da— Dave, maaf.'' Renjun terbata dan menundukkan wajahnya. Dia memainkan jari-jari tangannya untuk mengurangi rasa gugup.
''Aku butuh jawaban, bukan permintaan maaf!'' Dave berkata semakin menuntut seolah memojokkan Renjun yang kedapatan berbuat salah padanya.
''Awalnya aku ngga percaya sama cinta pandangan pertama. Tapi nyatanya, itu yang aku rasain ke kamu. Aku mau kamu jadi milikku seutuhnya Kala—tapi kalau kamu ngga mau, aku ngga akan maksa.'' Untuk pertama kalinya Dave memperlihatkan sisi buruknya pada Renjun.
Dave kecewa, marah, dan bodohnya dia tidak bisa mengendalikan emosinya di depan pujaan hatinya. Kata-kata yang di ucapkan dengan nada dingin dan menusuk itu entah kenapa membuat dada Renjun sesak.
''A—aku perlu waktu untuk ngeyakinin perasaan aku ke kamu, Dave.'' Renjun menatap Dave dengan mata yang berkaca-kaca membuat Dave terkejut.
''Semua perlakuan kamu bikin dadaku berdebar, bikin pipiku merona. Aku juga sama kaya kamu, aku ngga percaya cinta pandangan pertama dan menurutku—ini terlalu cepat buat di sebut cinta. Maaf, Dave.'' Suara Renjun bergetar membuat Dave langsung merengkuh tubuh ramping itu ke dalam pelukannya.
''Maaf Kala—maaf, aku nggak akan nuntut kamu lagi. Ini memang terlalu cepat dan aku bakal bantu kamu buat ngeyakinin perasaan kamu ke aku, oke?''
Si manis hanya menganggukkan kepalanya di bahu Dave. Pelukan ini lebih hangat dari pelukan Galvin dan Renjun menyukainya. Dia tersenyum tipis lalu menjauhkan tubuhnya sedikit dari Dave.
''Apa yang kamu suka dari aku?'' Renjun bertanya pelan.
''Anu kamu, hehe.'' Renjun kesal dan memukul dada Dave berkali-kali. Wajahnya kembali merona. Ah—sialan memang laki-laki mesum ini.
''Senyum kamu Kala, astaga—kamu pasti mikir jorok, ya?'' Dave kembali ke mode menyebalkan. Alisnya dia naik-turunkan menggoda si manis.
''Nyebelinnnn,'' Renjun mengerucutkan bibirnya lucu. Tanpa sadar, dia memunculkan salah satu sifat aslinya yang gampang merengek dan merajuk manja.
Dave terkekeh dan mencubit gemas dua pipi chubby Renjun yang semakin memerah. ''Makasih, ya, Kala.''
''Buat apa?''
''Udah mau panggil Dave tanpa embel-embel om.'' Dave tersenyum membuat Renjun ikut tersenyum juga.
''Oh iya, tadi kamu bilang bakal bantu aku buat ngeyakinin perasaan aku ke kamu, gimana caranya?''
''Mulai sekarang ijinin aku buat bersikap layaknya pasangan kamu, boleh?'' Dave mengusap pipi kiri Renjun yang selalu bikin dia gemes sendiri. Dan rasanya pengen Dave emut pipinya yang merona itu.
''Pura-pura jadi pacar aku, gitu?'' Renjun sedikit menaikkan nada bicaranya.
''Bukan pura-pura Kala, aku bakal bersikap sebagai pasangan kamu mulai hari ini. Nggak ada penolakan pokoknya.'' Renjun hanya mengganggukkan kepalanya untuk merespon perkataan Dave. Dia berdoa dalam hati, semoga langkah yang dia ambil tidak salah dan berujung membuat hatinya terluka lagi.
*****
Pagi itu keduanya banyak berbincang berbagai hal tanpa rasa canggung. Seolah mereka adalah teman dekat yang sudah lama saling mengenal. Lalu, Renjun menawari Dave untuk sarapan bersama dan laki-laki bertubuh besar itu tidak menolak tawaran si manis.
Keduanya duduk berhadap-hadapan. Renjun mengambil piring dan menuangkan nasi goreng untuk Dave membuat laki-laki bongsor itu tersenyum senang.
''Duh, jadi gini ya kalau punya istri? Makan aja di ambilin.'' Perkataan Dave membuat Renjun mengehentikkan aktivitasnya yang sedang menuangkan nasi goreng ke piring Dave. Matanya menatap galak pada laki-laki yang sedang menatap lembut padanya.
''Apa, mau marah? Aku lagi ngebayangin, loh, ini.''
''Ngebayangin apa?'' Renjun bertanya dan kembali menuangkan nasi goreng. Setelah itu memberikannya pada Dave.
''Ngebayangin kalau punya istri semanis kamu.'' Dave mengedipkan sebelah matanya dan mulai menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
''Dasar gila!'' Renjun bergumam lirih sembari menuangkan nasi goreng ke piringnya sendiri.
''Aku denger loh yang kamu bilang.''
Setelah perkataan Dave barusan, tidak ada lagi yang bersuara. Keduanya menikmati sarapan pagi sampai Dave meminta ijin untuk tetap tinggal di rumah Renjun sampai jam makan siang, membuat Renjun menyatukan kedua alisnya bingung.
''Kamu emang ngga ke kantor?''
''Ke kantor dong, tapi nanti sehabis makan siang sama kamu.'' Jawab Dave santai setelah meneguk segelas air putih.
''Kamu tahu nggak? Kamu ganggu acara aku buat males-malesan hari ini.'' Renjun kesal dan berlalu meninggalkan Dave di ruang makan setelah dia mencuci piring bekas makannya dan Dave.
Laki-laki yang lebih tua tentu saja melangkah mengekori si manis yang ternyata menuju ruang TV. Renjun duduk di sofa menyalakan TV. Dia menonton tayangan infotainment membuat Dave tertarik untuk ikut menontonnya juga.
Mereka berdua duduk berseberangan, terhalang satu meja berbentuk persegi panjang. Renjun dan Dave mulai memfokuskan diri menonton tayangan artis G yang bercerai dengan penyanyi G.
''Ihh—kok bisa cerai sih itu anaknya Roy Martin, kasian anaknya tahu.''
''Iya, Yang, kok bisa ya?''
''Kamu manggil aku apa barusan?'' Renjun berusaha menutupi rona merah di kedua pipinya.
''Maaf Yang, lidahku suka kesleo'' Dave hanya terkekeh dan kembali menonton tayangan infotainment yang berdurasi satu jam itu.
Renjun kembali mengomentari tayangan infotainment dengan raut wajah berbinar ketika ada sosok idolanya muncul di tayangan itu—Joe Taslim.
''Ih, dia tuh gantengnya beda tau Dave.''
''Aku suka panggilan itu.'' Renjun mengabaikan perkataan Dave dan melanjutkan sesi mengangumi sosok laki-laki beristri itu.
Dave menatap Renjun yang tengah membicarakan idolanya itu. Kedua sudut bibir si manis tertarik menciptakan lengkungan senyum yang kini menjadi candu baginya. Bibir tipis itu bergerak lucu ketika Renjun berbicara membuat Dave semakin mengagumi laki-laki manis berusia 26 tahun itu.
Tanpa Renjun tahu, Dave diam-diam mengambil fotonya ketika asik berbicara. Dave tersenyum puas melihat hasil fotonya itu.
''Dengerin aku ngga sih? Kok malah asik senyum-senyum sendiri, lagi chattingan sama siapa?''
Renjun menepuk mulutnya sendiri. Tidak sadar dia menampakkan sedikit kecurigaannya.
''Ngga usah cemburu gitu deh Kala, cuma kamu yang ada di hati aku.''
''Halah, gombal.''
''Kenyataan, loh ini, kamu ngga percaya?''
''Nggak, lagian kita baru kenal kemarin, rugi kalau aku percaya sama kamu.'' Renjun memanyunkan bibirnya dan kembali merajuk.
Dave beranjak dari duduknya dan mendekati Renjun. Memperlihatkan foto Renjun dan sukses membuat si manis salah tingkah.
*****
TBC...
Up lagi, whehehe...
KAMU SEDANG MEMBACA
Kenalan «DaveRen» ✔
FanficStory repost by @mikuah Renjun, berusaha menyembuhkan lukanya yang di sebabkan oleh kekasihnya dulu. Renjun berupaya melupakan masa lalunya dan berjuang bangkit dari keterpurukanny. Waktu empat tahun bukanlah waktu yang singkat, maka dari itu, butu...
