13. Hancur!

239 26 3
                                        

And see, kebodohanku menghancurkanku!

Selamat datang kembali luka!

*****

Sejak pembicaraannya dengan sang papa malam itu, Renjun berubah. Dia menjadi lebih pendiam, sering begadang bahkan sekarang dia berani meminum alkohol. Dia juga sudah tidak tinggal bersama mamanya, melainkan tinggal di apartemen yang tempatnya tidak jauh dari cafenya.

Hidupnya semakin berantakan, hubungannya dengan Galvin semakin tidak jelas. Bahkan sudah berlalu selama tiga bulan, pengadilan belum memutuskan apa-apa mengenai gugatan cerai yang Galvin layangkan pada Jiran.

Selama itu pula-dia menghindari Dave. Rasanya sesak melihat tatapan sendu laki-laki berumur 36 tahun itu. Renjun mulai berpikir, mengapa dia bereaksi seperti itu terhadap tatapan Dave?

Dia berpikir sembari menikmati anggur merah di kamar apartemennya yang sangat berantakan. Matanya memanas melihat boneka beruang besar yang dia letakkan di kepala ranjang. Yang bisa dia lakukan hanya menangis dalam diam, membiarkan air matanya turun membasahi pipinya yang semakin tirus sembari meneguk habis sebotol anggur merah itu.

*****

Paginya, kepalanya terasa berat dan pusing. Matanya terpaksa terbuka untuk melihat sekitar, mengambil benda persegi panjang yang berdering nyaring mengganggu tidurnya. Tangannya meraba ke sekeliling, tapi benda itu belum juga ia dapatkan.

Dia memaksakan tubuhnya bangun dan beranjak dari ranjang. Mencari ponselnya yang ternyata berada di atas meja dekat sofa yang tidak jauh dari ranjangnya. Dia segera mematikan alarm yang dia atur pukul tujuh pagi.

Biasanya, jam tujuh dia sudah menikmati sarapan bersama mamanya di ruang makan sembari bercanda atau menggosipkan artis yang beritanya sedang viral. Renjun memegangi dadanya yang sesak lalu menghela nafas lelah. Membaringkan kembali tubuhnya di ranjang.

Dia meliht langit-langit kamarnya dan terlintas pikiran untuk mengakhiri hubungannya dengan Galvin. Lama-lama dia lelah dan Galvin pun terlihat menikmati sekali hubungan terlarang dengan dirinya. Rencananya adalah membuat Galvin hancur tetapi dia rasa-dirinyalah yang hancur.

Renjun bangkit dari ranjangnya dan membanting benda apa saja yang ada di dalam kamar itu sampai hancur. Dia berteriak kesal dan memukul dinding sampai tangan kurusnya terluka serta berdarah.

Dia mengambil kembali ponselnya dan mengirim pesan pada Galvin untuk menemuinya di food court pusat perbelanjaan dekat apartemennya pukul sepuluh pagi. Si manis buru-buru membersihkan dirinya lalu meminta petugas kebersihan untuk merapikan isi apartemennya yang berantakan.

*****

Si manis sudah duduk di salah satu meja di food court di lantai atas pusat perbelanjaan. Dia menunggu kedatangan Galvin. Renjun telah membulatkan tekadnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Galvin.

Masa bodoh dengan dirinya yang sombong yang ingin membalas sakit hatinya pada Galvin. Dia hanya ingin kembali pada hidupnya yang sedikit berwarna sebelum kedatangan Galvin untuk kedua kalinya di hidupnya.

Jujur, dia merindukan saat-saat bersama mamanya dan Dave. Ah, mengingat laki-laki itu entah mengapa selalu membuat dadanya sesak dan ingin menangis. Tanpa sadar dia memukuli dadanya berulang kali dengan cukup keras.

Kedatangan Galvin yang terlambat 15 menit tidak ia permasalahkan. Kedua tangannya saling bertautan di atas meja. Memandang Galvin tepat di matanya, ''Ayo kita putus.''

Perkataan si manis tentu saja membuat Galvin terkejut. Rahangnya tiba-tiba mengeras dan kilatan emosi terlihat jelas di matanya.

''Kamu bosen sama aku?''

Kenalan «DaveRen» ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang