Jika cinta itu sama dengan hujan
Maka kaulah tetes air yang mengalir itu
Menerpa tubuhku, Membasahi hatiku
Membuatku mampu bermimpi,
Bahwa mungkin akan ada 'bahagia selamanya' untuk kau dan aku...
[Menghitung Hujan]—4
"Aku tidak bisa datang, maafkan aku Sunoo." Sunghoon mengeraskan hatinya. Sunoo harus belajar kuat tanpanya. Kalau setiap Sunoo lemah dan Sunghoon datang, Sunoo akan terus bergantung kepadanya, hatinya akan semakin sakit dan semakin menderita.
Sunghoon menyayangi Sunoo. Hanya itu. Pertunangan mereka bertahun lamanya, persahabatan mereka dari kecil hanya menyisakan satu hal di dada Sunghoon : rasa sayang. Debar itu sudah tidak ada lagi untuk Sunoo. Jantung itu sudah tidak lagi mengharapkan Sunoo di sampingnya.
Suara isak Sunoo mengalun perlahan, isak pemuda yang patah hati.
"Setega itukah kau padaku, Sunghoon? Aku bagaikan sampah bagimu."
"Aku hanya ingin kau kuat, Sunoo."
"Kuat?" Sunoo tertawa di sela isak tangisnya.
"Dulu aku kuat, karena aku harus menopangmu. Kau sakit, dan aku berjuang supaya kuat, karena salah satu dari kita harus kuat untuk mendukung yang lain." Suara Sunoo terdengar penuh kesakitan, "Lalu kau menghancurkanku."
Sunghoon memejamkan mata, merasakan kesakitan memenuhi badannya. Sunoo memang benar, tetapi dia bisa apa?
"Maafkan aku Sunoo."
"Tidak." Sunoo bersikeras, "Aku tidak akan memaafkanmu Sunghoon. Bertahun kuhabiskan hanya untuk mendampingimu. Karena aku mencintaimu. Tetapi kau membuangku begitu saja. Hanya karena jantung itu."
"Kau boleh membenciku semaumu. Aku pantas menerimanya. Kalau dengan membenciku kau bisa sembuh dan melangkah ke dalam kebahagiaan baru, aku rela kau benci." gumam Sunghoon pelan.
Hening. Sunoo termenung di seberang sana. Lalu ada helaan napas di sela isak tangisnya.
"Seharusnya waktu itu kau bunuh saja aku."
Teleponpun ditutup. Meninggalkan Sunghoon yang termenung di tengah kegelapan kamarnya.
[★]
Malam itu Jake bermimpi, mimpi tentang Heeseung, tentang kenangan-kenangan mereka bersama di masa lampau. Saat-saat bahagia itu.
Mereka sedang duduk di pantai yang mereka kunjungi waktu liburan masa lalu, di pasir tanpa alas. Menghadap ombak di bawah langit jingga yang siap menghantarkan matahari masuk ke peraduannya.
"Tidak ada yang namanya bahagia selamanya." Heeseung bergumam sambil tersenyum lembut, melirik novel cinta yang sedang dibaca oleh Jake.
Jake mendongak dari novel itu. Cahaya makin temaram, membuat huruf demi huruf makin berbayang, dia menyerah dan menutup novelnya.
"Kenapa?"
"Karena hidup terus berputar, manusia yang bercinta harus menghadapinya. Mereka bisa bahagia karena cinta, tetapi terkadang menangis juga karenanya, begitulah hidup, begitulah cinta." Heeseung menatap Jake dengan mata teduhnya, "Dan karena ada kematian. Suatu saat manusia harus siap menghadapi kematian, dipisahkan satu sama lainnya."
Jake merenungkan kata-kata Heeseung. "Kau tahu kenapa aku menyukai novel-novel percintaan?"
"Karena mereka semua selalu berakhir hidup bahagia selamanya?"
"Bukan." Jake menggeleng. "Karena novel percintaan itu selalu berakhir di saat mereka paling bahagia. Seakan hidup mereka berhenti di sana, setelah tulisan 'the end', di titik para tokohnya paling bahagia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Menghitung Hujan | sungjake ver.
FanfictionBagaimana jika jantungmu hanya berdetak untuk satu pemuda? Bagaimana jika jantungmu tetap setia bahkan ketika raga berganti? Sunghoon tidak pernah menduga bahwa Jake akan hadir dalam kehidupannya, bahwa dia akan mencintai Jake sedalam itu, bahwa ja...
