Mencintaimu itu sama seperti bernapas
Terjadi begitu saja, tak tertahankan
Bahkan sebelum aku menyadarinya
Aku sudah jatuh cinta padamu
Dan aku mau menunggu
Aku mau menunggu untukmu
Meskipun itu berarti : Selamanya
[Menghitung Hujan]—3
"Aku harus pergi." Sunghoon menatap sedih ke arah Sunoo, yang sedang merapikan pakaian-pakaian Sunghoon dan memasukkannya ke dalam tas.
Jemari Sunoo berhenti sejenak, kemudian melanjutkan memasukkan pakaian-pakaian Sunghoon, kali ini jemari itu bergetar,"Mencari lelaki itu?"
Sunghoon menghela napas panjang, "Maafkan aku Sunoo."
"Tidak." Suara Sunoo pecah oleh tangis, "Bagaimana mungkin aku memaafkanmu? Kau meninggalkan aku untuk mengejar lelaki lain, seorang lelaki yang bahkan belum pernah kau temui hanya karena mimpi-mimpimu."
"Mimpi-mimpi itu nyata Sunoo, dan lelaki itu juga, begitu juga jantung yang sekarang berdetak di dadaku ini."
Sunoo mengusap air matanya dan menatap Sunghoon dengan pilu,"Tidakkah kau mencintaiku Sunghoon? Tidakkah kau mengenang masa kita bersama dulu? Aku selalu mencintaimu, bahkan sejak kita kecil. Aku selalu mendampingimu, di saat-saat sulit sekalipun, percaya bahwa masih ada masa depan untuk kita. Apakah kau tega membuang itu semua?" suara Sunoo terisak-isak tak kuasa menahan perasaannya.
Hal itu membuat Sunghoon mengernyitkan dahi, mencoba menekan rasa bersalahnya. Pemuda ini tidak terbantahkan adalah pasangan yang sempurna, sangat tulus mencintainya dan selalu bersamanya di saat dia sakit.
Tentu saja Sunghoon merasakan rasa bersalah yang luar biasa karena mencampakkannya seperti ini, dia bukannya tidak punya perasaan, masalahnya,
jantung ini,
jantung ini tidak menginginkan Sunoo, dan selalu memanggil-manggil lelaki lain, lelaki itu, yang selalu muncul di dalam mimpinya.
"Aku tidak tahu harus berkata apa." Sunghoon meremas rambutnya frustrasi, "Aku tidak bisa berkata apapun selain maaf."
"Katakan kalau kau mencintaiku Sunghoon." tatapan Sunoo penuh permohonan, penuh air mata.
Sunghoon tahu setidaknya kalimat itu akan membuat Sunoo tenang. Tetapi dia tidak bisa mengatakannya. Dia tidak bisa.
Sunoo tahu itu, matanya terpejam berusaha menahankan rasa sakit yang memenuhi dadanya. Tidak pernah disangkanya dia dan Sunghoon akan berujung seperti ini.
"Setiap malam, ketika menggenggam tanganmu di rumah sakit, aku selalu berdoa semoga Tuhan memberikan jantung baru untukmu, supaya kau bisa sehat, supaya kita punya masa depan bersama, supaya kita bisa menua bersama, menatap anak-anak kita nanti dengan bahagia." Rasa sakit di suara Sunoo terdengar nyata, "Aku sangat bahagia ketika kau mendapatkan donor jantung itu, sangat bahagia. Tapi ternyata aku salah."
Sunoo menutup tas Sunghoon di atas ranjang dan melangkah mundur, menatap Sunghoon yang hanya bisa diam membatu.
"Kalau saja aku tahu bahwa jantung itu akan merenggutmu dariku, lebih baik kau tidak pernah mendapatkan donor jantung." Dan dengan kata-katanya yang penuh dengan kesakitan, Sunoo melangkah pergi, berurai air mata.
[★]
Ketika malam mulai temaram dan senja beranjak menjadi gelap. Sunghoon duduk menghadap mamanya dan menceritakan semuanya. Mamanya hanya menatapnya dengan sedih.
"Jadi begitu saja? Kau tinggalkan Sunoo begitu saja?"
Sunghoon mendesah sedih, "Aku tahu semua orang akan menyalahkanku karena perlakuan jahatku kepada Sunoo, tapi kuharap mama bisa mengerti aku. Aku, jantung ini, jantung ini menginginkan lelaki lain."
KAMU SEDANG MEMBACA
Menghitung Hujan | sungjake ver.
Fiksi PenggemarBagaimana jika jantungmu hanya berdetak untuk satu pemuda? Bagaimana jika jantungmu tetap setia bahkan ketika raga berganti? Sunghoon tidak pernah menduga bahwa Jake akan hadir dalam kehidupannya, bahwa dia akan mencintai Jake sedalam itu, bahwa ja...
