Seminggu setelah kejadian itu, aku masih menginap dirumah Jesslyn. Bahkan setelah kedua orang tua ku kembali ke rumah, aku masih merasa ragu untuk pulang. Diriku masih kesulitan untuk mengatasi perasaan sendiri, rasa takut bercampur dengan rasa sesal karena aku melewati kesempatan ku untuk bercinta dengan pacarku.
Kak Doffy pastinya marah denganku, mungkin saja dia akan mutusin aku setelah kami bertemu nanti. Meskipun aku juga ragu untuk menemuinya lagi, rasanya aku pengen menghilang aja dari dunia.
Disaat aku penuh dengan kegelisahan, Jesslyn terus mencoba mencari tau tentang apa yang sebenernya terjadi pada ku. Sudah seminggu ini emang aku menyembunyikan kejadian itu dari sepupuku.
"Ce, lu gak bisa begini trus tau. Ayolah ceritain masalah lu ke gue." Jesslyn terlihat khawatir dengan keadaanku.
"Hm, gue gak apa-apa kok." Aku masih coba merahasiakannya. Namun senyuman palsu ku tak bisa menyembunyikan hal itu.
"Alah, gue tau lu ada masalah. Cerita aja ce, kayak sama siapa aja, gue gak bakal cerita ke orang lain kok kalau itu rahasia lu." Kali ini Jesslyn sangat serius.
Aku sadar hal ini memang tidak pernah bisa disembunyikan, terlebih sepupu ku itu pastinya akan terus mendesakku untuk cerita, jadi aku putuskan untuk menceritakan semuanya kepada Jesslyn.
"Baiklah, akan gue ceritain. Jadi minggu lalu pas lu jemput gue, beberapa jam sebelumnya gue ditembak sama cowok dirumah gue sendiri, dan gue terima."
Jesslyn terperangah namun raut wajahnya menunjukan bahwa dia sangat excited. "Waaah.. jadi lu sekarang udah punya cowok, selamat nya Ce gue turut senang. Siapa dia?"
"Doffy, gue yakin lu tau siapa dia." Jawabku.
"Eh? diakan..." Jesslyn berhenti melanjutkan ucapannya.
"Dia kenapa?" Aku agak penasaran.
"Mm.. Tajir kan? salah satu anggota band yang waktu itu perform di sekolah lu kan?" Tingkah Jesslyn sebenernya menunjukan bahwa dia tau tentang Kak Doffy lebih daripada itu.
"Iya sih tajir" Aku sedikit males membahasnya dan memilih rebahan dikasurnya Jesslyn.
Jesslyn ikut berbaring disebelahku, dan rasa penasarannya belum terobati "Lah trus apa yang buat lu sedih Ce? lu kan dah jadian sama cowo ganteng dan tajir nih. Kenapa lu malah murung kek gitu?"
Aku menatap Jesslyn dan berpikir ulang apakah aku bisa mempercayai dia untuk menjaga rahasia ku. "Gue mau lanjut cerita tapi lu janji dulu gak bakal cerita ke siapa-siapa"
Jesslyn tertawa namun ia mau tuk berjanji kepadaku. "Hehehe, kayak sama siapa aja. Yaudah iya, gue janji."
Akhirnya aku putuskan untuk bercerita tentang apa yang aku alamin sebelumnya. "Jujur, memang bikin happy banget sekarang gue jadian sama Kak Doffy. Tapi yang bikin gue murung itu, tak lama setelah dia nembak gue, kami larut dalam nafsu."
Jesslyn mengangguk pelan sambil tersenyum. "Hm, terus..?"
Aku kembali menatap Jesslyn yang terlihat makin penasaran. "Kami ciuman, cukup lama. Lalu tanpa sadar semua pakaian gue udah terlepas gitu aja dan ya, gue telanjang didepan dia yang masih pake baju lengkap. Dan.."
"Dan kalian? Umm.. Gituan?" Jesslyn memotong penjelasanku.
"Ngewe?" Jawabku.
Jesslyn mengangguk dengan antusias. "Iya Ce?"
Aku menggelengkan kepala. "Waktu itu dia mainin meki gue, dijilatin Jes.."
Jesslyn gemas mendengar ceritaku. "Aaahh, itu bagian terenaknya sih menurut gue. Iya kan ce?"

KAMU SEDANG MEMBACA
[Alternative Universe] DIARIEL ~Diary Ariella~
Teen FictionAriella atau akrab dipanggil Eril, seorang podcaster yang mengungkap kisah-kisah menarik tentang kehidupan sexual para mahasiswa dikampusnya.