haaiiii
vote juseyoooo
komen juga bole hihihihappy reading
°•••🦋•••°
"E-em kak," panggil Leyya membuat Pandu mendongak mengalihkan pandangannya dari ponselnya lalu menatap gadis itu.
"Kenapa?" tanya cowok itu dengan alis terangkat.
"Anu, e---" Raut wajah Leyya terlihat ragu untuk mengucapkannya.
"Apa?"
"G-gala mau jemput ke sini," ucap Leyya pelan.
"Terus?" tanya cowok itu tanpa minat.
Leyya terdiam, bingung harus menjawab apa. Duh, kenapa tiba-tiba dirinya menjadi mati kutu gini, sih?
"Nanti kalau Gala jemput, gue harus ikut dia atau sama lo?" tanyanya terdengar aneh.
Leyya menggigit bibirnya, merasa diabaikan oleh cowok di hadapannya itu, karena Pandu masih bergeming tidak membuka suara.
"Terserah lo," jawabnya setelah beberapa detik terdiam. Ia kembali fokus bermain ponselnya.
Leyya ikut diam tidak membalas ucapan cowok itu lagi. Ia takut salah bicara, apalagi berhadapan dengan cowok dingin dan susah di tebak seperti Pandu. Huhh....
••🦋••
"Kok tadi bisa sama Pandu?" tanya Gala membuka suara setelah mereka berada di dalam mobil.
Leyya diam, tidak menjawab. Ia masih kesal dengan sikap cowok di sampingnya itu, Leyya tidak tega meninggalkan Pandu sendiri di Cafe, padahal cowok itu sudah berbaik hati ingin mengantarnya pulang.
"Le," panggil Gala melirik gadis disampingnya itu.
"Lo marah sama gua?" lanjutnya bertanya.
Leyya menggelengkan kepalanya. "Nggak suka gua jemput?"
"Gue sebel sama lo. Kasian tau Pandu sendirian di sana padahal dia udah baik mau nganterin gue pulang. Lagian lo ngapain jemput gue segala? Bukannya lo ada urusan tadi?" cerocos Leyya dengan wajah betenya.
"Udah kelar. Tadi abis gue anterin Metha pulang, gue langsung telpon bi ida tapi ternyata lo belum sampe rumah," balas Gala membuat Leyya terdiam.
Gadis itu memberanikan diri untuk bertanya. "Metha siapa?"
Pertanyaan itu sempat membuat Gala terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menjawab. "Cewek gua."
Deg!
Bibir gadis itu terkatup rapat-rapat. Ia meremas ujung rok seragamnya menahan rasa sakit di dadanya yang teramat sesak.
"O-ohh pacar lo maksudnya?"
"Hem, bisa dibilang gitu," jawab Gala masih fokus menyetir, cowok itu seakan tidak tertarik untuk membahasnya tetapi Leyya masih ingin membalas rasa penasarannya.
"Dari kapan? Kok gue nggak tau?" tanyanya dengan nada sebiasa mungkin, walaupun hatinya sudah berdenyut ingin meluapkan emosinya.
Hahaha marah, cemburu? punya hak apa dirinya untuk semua itu? Leyya hanya sebatas sahabat untuk Gala begitupun sebaliknya. Harusnya Leyya tidak jatuh dalam pesona cowok itu, harusnya ia bisa menahan perasaan sialannya itu.
"Gua--- lupa," jawabnya membuat Leyya tersenyum miring.
"Lupa? alasan aja kan lo!"
"Udah berapa lama emang?" lanjutnya bertanya.
