"(Name)? Apa ada yang lihat dia?" tanya Stephanie. Guru bahasa Inggris.
"Dia izin katanya!" ucap ketua kelas
"Darimana kamu mendapatkan info itu?"
"Dari ketua osis disini. Kita Shinsuke"
🌸🌸🌸
"(Name), seharusnya kamu harus beritahu kami. Kami jadi khawatir saat Haru bilang bahwa jika kau tidak dirumah" ucap ibu
"Iya..maaf"
"Jangan sungkan-sungkan, kamu ini sendirian lho dirumah. Kapan-kapan bisa makan malam bersama kami"
"Iya.. terimakasih"
"Sepertinya kau harus istirahat. Biar ibu yang akan membawa bubur hangat ya. Oh iya..siapa laki-laki yang memakai jaket OSIS tadi?"
"Itu-"
"Pacarmu? Baik sekali ya. Semoga saja kau tetap bersamanya. Dia pacarmu yang baik kan? Aku lihat neneknya khawatir sekali. Bahkan, sang nenek tidak memakai jaket di malam hari" ucapnya sedih
"Iya, tapi-"
"Sebaiknya kau istirahat sekarang. Pacarmu itu pasti disuruh istirahat juga dengan neneknya"
🌸🌸🌸
(Name) duduk di ujung kasur. Kepalanya pusing. Ingin ia tidur, tapi ia belum mencuci muka.
Rasanya lemas. Apa efek dari tidur di gudang?
Shin juga melepas jaketnya demi (Name) tetap hangat. Ia memakai kaos oblong warna hitam, dan celana seragam voli.
Bahkan beberapa kali ia terbangun memukul nyamuk sekitarnya. Agar (Name) tetap nyaman dengan tidurnya.
"Sebegitunya dia...padahal..aku ga tega dia terbangun seperti itu" ucap (Name) lirih
(Name) mengingat-ingat kejadian tadi malam.
Rasanya pengen peluk Shin.
Hangat rasanya.
"(Name)- Eh! Kau belum ganti baju? Ayo ganti baju cepat dan makan bubur ini!" ucap Ibu
"Ah.. seharusnya tidak usah repot-repot..aku baik-baik saja. Nanti istirahat juga sembuh"
"Mana ada! Kamu kalo sekali sakit tuh bisa sampai seminggu!"
🌸🌸🌸
"Shin, seharusnya kamu bilang kalau ada kerjaan di ruang OSIS atau apa..jangan bikin nenek khawatir begini.." lirih Obaa-san
"Maaf"
"Kamu jadi flu bukan? Siapa perempuan bersamamu itu?"
"Itu-"
"Pacarmu? Kalian ngapain di gudang sampai malam?"
"Aku terkurung"
"Begitu? Perempuan itu baik-baik saja kan? Kamu tidak berbuat apa-apa ke perempuan itu kan?" tanya Obaa-san khawatir
"Tidak. Dia baik-baik saja. Aku tidak melakukan apa-apa padanya"
"Hah... kamu tidak membawa telepon nenek? Kamu bisa menelepon ke nomor rumah ini. Akan nenek angkat kok..apa..kau malu karena tidak mempunyai..apa itu..em.. handphone seperti teman-teman mu itu?" tanya Obaa-san
"Tidak..aku tidak pernah iri dengan orang lain"
"Kamu bawa saja telepon genggam punya nenek. Tidak apa tidak keren. Yang penting bisa digunakan kan? Siapa nama pacarmu itu? Nenek suka melihatnya. Lain kali ajak dia kesini ya"
🌸🌸🌸
"Shin sedang apa ya.." gumam (Name)
(Name) menggambil handphone nya dan ingin menelpon Shin. Namun ia teringat bahwa Shin tidak punya alat komunikasi sepertinya.
"Oh iya ya..duh.. dia ada pasti ada nomor telepon rumah kan? Tapi.. berapa nomor nya?!"
(Name) menatap handphone nya. Punya versi lama. Lebih kecil. Saat ini, diluar sana sudah ramai orang-orang memakai handphone yang lebih canggih dan terbaru.
(Name) membeli ini pun karena untuk telepon tugas dari tempat kerja paruh waktunya.
Hasil uang dia sendiri.
Bahkan ia pernah iri dengan Nemi dan Hana. Dua-duanya memiliki apa yang ia tidak miliki.
Shin pernah bilang, jangan iri dengan kehidupan orang lain. Belum tentu yang kita lihat itu adalah kebahagiaan nya.
Dan, belum tentu apa yang ia miliki dari kerja yang baik atau yang buruk.
"..."
(Name) merebahkan dirinya, dan menyelimuti tubuhnya. Ia kepengin tidur saja. Daripada nostalgia yang rasanya ingin menangis melihat masa lalu yang suram.
🌸🌸🌸
masih suka fanfic ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐘 𝐁𝐎𝐘𝐅𝐑𝐈𝐄𝐍𝐃 ✅
Romance𝑺𝑷𝑬𝑺𝑰𝑨𝑳 𝑩𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒓𝒂𝒔𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒂𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒑𝒂𝒄𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝑲𝒊𝒕𝒂 𝑺𝒉𝒊𝒏𝒔𝒖𝒌𝒆?
