Terimakasih sudah mampir di cerita 'Secreet Imam'
Tolong tandai typo
*
*
Flashback on
"Cepat temui Pak Bos di gudang jalan Judin nomor 68!" perintah bawahan Deri pada rekannya lewat telpon.
Tanpa orang itu sadari, Sena mendengarkan ucapannya dari balik pilar bangunan mansion Deri.
"Apakah itu markas Papa?" gumam Sena.
Flashback off
"Jadi gitu, Opa. Sena yakin banget Papa bawa Sahna kesana."
Saat ini, Opa Denan, Sena, dan Rajo tengah berada di dalam mobil menuju tempat dimana Sena yakin keberadaan Sahna.
"Maaf, Tuan. Den Langga sedang dalam perjalanan menuju kesana," celetuk Rajo setelah mengakhiri panggilan pada Langga.
Terlihat, delapan mobil dengan empat orang anak buahnya di masing-masing mobil itu mengikuti mereka dari belakang lengkap dengan senjata yang telah di persiapkan. Semua itu adalah perintah dari Opa Denan untuk berjaga-jaga dan ... pastinya persiapan untuk menyerang Deri.
Opa Denan mengangguk, "Apakah Riko sudah memberi kabar?"
Rajo membulatkan mata lalu melirik Opa Denan sekilas yang berada di sampingnya, "Maaf, Tuan! Saya lupa memberi tahu anda. Tepat sebelum kita berangkat tadi, Riko mengabari saya bahwa mantan polisi itu berkata bahwa ia menemukan surat lamaran kerja yang tak jauh dari tempat kejadian, pemilik surat lamaran itu bernama Andin. Kemudian Riko dan mantan polisi itu mencari seseorang yang bernama Andin itu. Karena mantan polisi itu sangat yakin bahwa Andin tersebut melihat kejadian beberapa tahun silam." jelas Rajo, lalu menarik napasnya panjang kemudian membuangnya perlahan.
"Bisa jadi sih ..." celetuk Sena seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
***
"Ya Allah, tolong lindungi istri hamba Ya Allah ..." lirih Langga lalu menambah kecepatan laju mobilnya.
Saat ini Langga benar-benar khawatir dengan Sahna juga ... Rey yang di rumah masih menangis. Ia sangat bingung harus menenangkan Rey bagaimana lagi, sampai asisten Opa Denan menelponnya memberi tahu keberadaan Sahna.
Di belakang mobilnya juga terdapat mobil Abah Inayat. Abah Inayat yang khawatir langsung saja mengikuti Langga dengan mengajak lima santri untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Langga di serang.
Sedangkan di ponpes Abi Abram, para santri tengah di hebohkan berita hilangnya Ning mereka. Dan saat ini Abi Abram, Umi Lea, dan Ibran dalam perjalanan menuju ponpes maqama mahmuda.
Ciiit!
Suara rem mobil Langga. Kini Langga sudah sampai di tempat yang di katakan Rajo, dengan segera ia keluar dari mobil diikuti Abah Inayat dan para santri.
Langga menatap gudang besar di depannya yang sangat kusam dan berantakan. Kemudian dengan langkah cepat Langga memasuki gudang tersebut diikuti Abah Inayat dan beberapa santri.
"Kita berpencar aja, dua santri dengan Langga, lebihnya dengan saya! Ingat! Kalian jangan gegabah saat melakukan hal apa pun!" tegas Abah Inayat di angguki mereka.
Kemudian mereka berpencar, Langga dan dua santri mendobrak setiap pintu. Kemudian mereka menyusuri lorong-lorong di dalam gudang yang sangat besar itu.
"Ssstt, Gus? Lihat lorong yang di sebelah sana," ucap salah satu santri bernama Kamal seraya menunjuk lorong yang di sebelah kanannya.
Langga dan santri di sebelahnya yang bernama Deni itu menoleh ke arah lorong tersebut, empat orang berbadan besar tengah menjaga pintu ruangan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret Imam (TERBIT)
Fiksi RemajaRevisi versi cetak Oma Iren menyembulkan kepala ke jendela lalu menatap sebal pengendara itu yang menghentikan motornya kala mendengar suara klakson. "WOY! MINGGIR SEMPRUL! MALAH NGALANGIN JALAN GUE LU! KAGAK TAU APE CUCU TERSEYENG GUE SEKARAT!" pek...
