Revisi versi cetak
Oma Iren menyembulkan kepala ke jendela lalu menatap sebal pengendara itu yang menghentikan motornya kala mendengar suara klakson.
"WOY! MINGGIR SEMPRUL! MALAH NGALANGIN JALAN GUE LU! KAGAK TAU APE CUCU TERSEYENG GUE SEKARAT!" pek...
Sahna mengernyit heran melirik Langga yang sedari tadi menatapnya terang-terangan. Padahal, ia tahu bahwa Langga sangat menjaga pandangannya, terlebih dengan yang bukan mahromnya.
Sahna juga mengetahui bahwa Langga adalah seorang Gus di pesantren Maqama Mahmuda. Ia bahkan mengetahui asal mula ia sekolah disini. Mengapa ia tahu? Karena Diba, si tukang kepo yang memberi tahunya, entah dari manalah Diba mengetahui tentang Langga. Setahunya, Almarhum Kakek, Ayah dari Abinya dan Almarhum Kakek Langga yang bersahabat.
Sahna terlonjak kaget kala Ara menepuk pelan kening Sahna. "Dari tadi di tanyain malah ngelamun. Mikirin apa sih?" penasaran Ara.
"Hah? Nanya apa tadi?" tanya Sahna menatap satu-persatu sahabatnya.
Sena melirik sinis Sahna, "Makanya jangan ngelamun! Ntar kesambet demit tau rasa lo!"
"Mulutnya?!" peringat Ara menatap tajam Sena yang menyengir lebar menatapnya.
"Tau nih Sena!" timpal Diba.
Ara menghela napas lelah lalu menatap Sahna, "Mereka nanya, libur seminggu entar kemana?"
Libur semingga di adakan karena kelas sepuluh dan kelas dua belas akan mengikuti ujian tengah semester genap, dan itu di mulai pada esok lusa, hari senin. Dan itu artinya hari ini adalah hari Sabtu, dimana mereka terakhir sekolah sebelum libur satu minggu.
"Pulang. Rindu Abi sama Umi, and ... Babang Ibran! Juga mangga belakang asrama Kang Santri!" antusiasnya.
Mereka bertiga tahu, bahwa Sahna adalah seorang Ning, dan mereka juga tahu alasan Sahna tinggal bersama Opa dan Omanya.
"Gue ikut dong, sapa tau kecantol Kang Santri yang guanteng disana!" antusias Diba menatap Sahna semringah. "Tapi abis itu pulang lagi ... Nggak nyaman gue tidur di tempat orang!" lanjutnya.
Sena menoyor kening Diba, "Itu sih maunya lo ..."
"Gue juga ikut, udah lama nggak ketemu Umi Lea." celetuk Ara.
"Gue juga dong! Mau mangga belakang asrama Kang Santri!" antusias Sena.
Diba melirik sinis Sena, "Lo sama Sahna sama aja! Sama-sama maniak manggak!" cibirnya.
"Ye ... sirik ae lo!" sinis Sena.
"Udah? Udah debatnya?" sela Ara di balas anggukan dari keduanya.
Ara menatap Sahna yang sedang meminum susu kotak rasa coklat bermerk indomilk itu, "Kapan berangkat?"
"Besok pagi, di anter Mang Udin." jawab Sahna lalu memakan kentang makanan ringan yang ia beli tadi.
"Bareng gue aja, pake mobil. Ntar gue jemput bareng yang lain," ucap Ara di balas anggukan antusias Diba dan Sena.
Sahna menatap Ara, "Beneran!? Ntar deh, gue bilang Opa!" serunya.
"Ssst!" kode Diba agar mereka diam. Spontan Sahna, Sena dan Ara mendekatkan wajah mereka dengan Diba.
"Kalian ngerasa nggak sih, kalo dari tadi tu mantan ketos natep kesini aja?" bisik Diba. Spontan ketiganya menatap Langga yang di maksud Diba.
Di seberang sana, Langga yang menatap keempatnya penasaran langsung memalingkan wajahnya kala ketiga di antara mereka menatapnya.
***
Pagi harinya, Sahna sudah bersiap dengan pakaian abaya turki warna hitam polos, hijab lebar menutupi dada dengan warna senada, tak lupa juga dengan selempang berwarna putih untuk tempat ponselnya.
Sahna berlari kecil menuruni tangga. "Udah cantik aja?" tanya sang Opa menatap Sahna yang menginjak lantai dasar.
Sahna menatap sang Opa, "Opa gimana sih? Cucu Opa yang satu ini kan memang cantik, kalo jelek berarti bukan cucu Opa dong. Entar kaya yang lagi tren di tiktok. Yang lagunya kaya gini. Ekhem! Kamu siapa ... kamu siapa ... Gitu, Opa!"
Opa melongo mendengar penuturan Sahna, "Tapi ... kalo di pikir-pikir kamu kan jelek, Dek." ledek Opa.
Sahna mencebikkan bibir, "Dah lah! Sahna tersakiti! Opa jahat!" pekiknya.
"Dih mana ada kaya git- aduh ... " ringis Opa kala telinganya di jewer oleh sang istri.
"Lo apain cucu gue heh!?" menatap tajam Opa.
Opa dan Oma memang sering berbicara gaul seperti ini, walau umur mereka sudah menginjak kepala enam. Tetapi, mereka masih saja terlihat muda dan harmonis.
"Eng-enggak yang, cuma iseng doang tadi." ucap Opa takut-takut kala melihat tatapan tajam sang istri.
"Assalamualaikum/Shalom!" salam Ara, Diba dan Sena memasuki mansion.
"Waalaikumsalam!" jawab Opa, Oma dan Sahna.
"Langsung berangkat?" tanya Ara pada Sahna setelah menyalimi Opa dan Oma diikuti Diba dan Sena.
"Langsung aja kuy!" seru Sahna.
"Yaudah, kalian hati-hati di jalan ya? Oma kirim salam untuk Abi Umi." ucap Oma.
"Opa juga kirim salam ya sama Abimu dan Umimu disana. Bilangin juga, kapan kesini? Udah lama nggak kesini," timpal Opa.
"Iya-iya, ntar Sahna sampein. Opa sama Oma jaga kesehatan. Jangan rindu, Sahna cuma pergi seminggu. Yaudah, kalo gitu Assalamualaikum, Oma! Opa!" pamit Sahna.
"Assalamualaikum juga Oma, Opa." salam Diba dan Ara.
"Waalaikumsalam! Hati-hati bawa mobilnya!" peringat Oma sebelum Sahna dkk berlalu.
**
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.