Prolog

11 2 2
                                    

Sakit sekali rasanya. Darahku bercucuran dari perut, menodai rumput taman yang terpangkas rapih. Tanganku dengan gemetar mulai memegang pisau yang tertancap di perut. Mataku menatap nanar pada darah yang terus keluar bersamaan dengan rasa sakit yang mulai menyiksa.

'Uhuk!'

Perlahan, penglihatanku mulai berkunang dengan tubuh yang juga meluruh ke bawah.

Seorang pria di depanku sepertinya masih berdiri tenang. Entah bagaimana ekspresinya sekarang karena mataku sempurna melihat ke bawah. Sepatu hitamnya mengkilat seolah mengejekku yang sebentar lagi akan mati.

Sebisa mungkin kupertahankan kesadaranku yang sedikit demi sedikit, mulai terenggut.

"Ke ... Napa?" tanyaku serak.

Aku tidak boleh mati! Setidaknya hingga aku bisa mendengar alasannya melakukan ini padaku.

'Bruk!'

Aku terjatuh. Masih dengan memegang pisau agar tak terlalu dalam menusuk-meskipun tidak ada gunanya, bahkan untuk melepaskannya saja aku tak mampu. Tubuhku merosot, mengubah posisi berdiri lemahku menjadi terduduk pasrah dengan kepala tetap menunduk.

Masih kulihat sepatu hitamnya, yang kali  ini bergerak mendekat ke arahku. Pria dengan pakaian khas prajurit istana itu menumpukan tubuhnya di satu lutut kaki kanan sedangkan kaki kirinya terlipat. Posisi yang efisien untuk melihat penderitaanku dengan jelas.

Jarinya yang dibalut sarung tangan putih bersih, terulur ke dagu milikku. Ia memaksakan wajahku untuk mendongak dan balas menatap matanya.

"Samantha,"

Suara hangat itu entah kenapa terdengar dingin di telingaku. Panggilan itu juga tidak membuatku senang seperti biasanya. Padahal, aku selalu meminta dia untuk hanya memanggil namaku jika sedang berdua saja.

"I-ini pertama ... kali kau me-memanggil namaku," balasku parau dan terbata-bata, lalu memaksakan senyuman tipis di wajahku yang sepertinya mulai pucat. Entahlah, itu hanya tebakanku.

Pria itu mengangguk, "Pertama dan akan menjadi yang terakhir."

Tangan pria itu dengan cepat dan tanpa aba-aba, mengeluarkan pisau dari balik saku jasnya. Untuk yang kedua kalinya, ia menusuk perutku lagi.

"ARRGH!"

Aku berteriak kesakitan. Tubuhku ambruk ke depan yang tentu saja dihindari oleh pria itu. Mataku berkunang-kunang dan sebelum aku kehilangan kesadaran, masih bisa ku dengar suaranya yang kali ini, entah kenapa terdengar pilu.

"Inilah yang terbaik untuk kita." Pria itu kemudian meninggalkanku yang pada akhirnya mati mengenaskan.

Beginikah pada akhirnya hidupku akan selesai?

....

TO BE CONTINUED

Bandung, 2 Juni 2022

Regard,
Macaron

THE PRINCETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang