Sore itu, angin laut bertiup pelan, membawa aroma asin yang khas. Rasya duduk di dekat Kinara, keduanya masih terdiam, menatap langit yang perlahan menggelap. Pulau yang mereka tinggali selama ini mulai terasa semakin jauh, meski tubuh mereka masih terikat pada tempat itu. Waktu terasa begitu lambat, dan hati Kinara terasa penuh dengan ketidakpastian.
"Aku nggak tahu harus gimana," ujar Rasya, suaranya hampir terdengar seperti bisikan. "Tapi aku nggak bisa ngelihat kamu terus begini, di tempat yang nggak bisa kamu tinggalin."
Kinara menoleh padanya, ada kehangatan di matanya, tapi juga kekosongan yang ia sembunyikan. "Aku tahu, Kak. Aku... aku juga nggak tahu. Tapi mungkin ini bukan tempat aku lagi. Aku harus mencari jalan sendiri. Aku ingin melanjutkan kuliah di luar negeri. Aku... aku harus melakukannya untuk diriku sendiri."
Rasya terdiam. Tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan untuk menahan Kinara. Ia tahu, meskipun hatinya ingin agar Kinara tetap bersamanya, ada panggilan yang lebih kuat dalam diri Kinara. Sebuah panggilan untuk berkembang, untuk menemukan siapa dirinya di dunia yang lebih besar dari sekadar pulau ini.
"Aku... aku akan pergi," lanjut Kinara, suaranya penuh keyakinan. "Aku nggak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tapi aku harus menjalani hidupku sendiri. Aku harus buktikan bahwa aku bisa kuat tanpa tergantung pada siapapun."
Rasya menatap Kinara dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Jaga dirimu, Kara. Jangan pernah lupakan aku," katanya pelan, namun penuh makna.
Kinara tersenyum lembut, senyuman yang tulus. "Aku nggak akan lupakan. Kamu bagian dari hidupku kak, tapi sekarang waktunya aku untuk mengejar impian aku. Aku harus melangkah ke dunia yang lebih besar, dan siapa tahu, mungkin kita akan bertemu lagi di tempat yang lebih baik."
Dengan langkah ringan, Kinara berbalik, melangkah menuju kapal yang akan membawanya ke negeri yang lebih jauh. Di luar sana, dunia menanti, dan dia siap menghadapinya, meski hati masih terbelah. Dia tahu, perpisahan ini bukan akhir dari perjalanan, tapi justru awal dari babak baru dalam hidupnya.
Kinara berdiri di depan jendela, memandang senja yang perlahan menghapus sisa-sisa cahaya hari. Udara sore itu terasa berbeda, sejuk dan penuh ketenangan, seperti ada ruang baru yang terbuka di dalam hatinya. Dulu, ia merasa terkunci dalam perasaan yang tak pernah jelas, berputar-putar antara dua pilihan yang sulit, namun kini, ada rasa ringan yang mengalir, meskipun hatinya masih sedikit tergores oleh masa lalu.
Ia menatap bayangan dirinya di jendela, melihat mata yang sedikit lelah namun penuh dengan keteguhan. "Aku pernah merasa begitu cemas tentang memilih," gumamnya pelan, seakan berbicara pada bayangannya sendiri. "Takut salah pilih, takut kehilangan, takut terluka lagi."
Tapi sekarang, saat matanya mengikuti garis langit yang memerah, ia merasa satu hal yang sangat jelas. Dalam keraguan yang panjang, dalam semua ketakutan itu, dia telah menemukan jawabannya. Bukan di dalam diri Rasya, bukan di dalam diri Benaya, melainkan di dalam dirinya sendiri. "Aku bisa sendiri," pikirnya. "Aku bisa bahagia tanpa perlu bergantung pada orang lain untuk merasakannya."
Dengan satu tarikan napas dalam, Kinara merasakan kedamaian yang selama ini ia cari-cari. Keputusan yang sulit untuk dilewati kini terasa lebih ringan. Mungkin selama ini dia terlalu terfokus pada keinginan untuk memiliki, untuk dilengkapi oleh orang lain, tanpa menyadari bahwa yang dia butuhkan lebih dari sekadar cinta dari luar. Yang dia butuhkan adalah cinta untuk dirinya sendiri, penerimaan untuk masa lalunya, dan keyakinan bahwa dia mampu berdiri di kakinya sendiri.
---
Ia mengangkat telepon dari meja kecil di samping tempat tidur. Dengan perlahan, jarinya menyentuh layar, membuka kontak yang sudah lama tidak ia buka. Nama itu tertera dengan jelas-"Sheya." Tanpa ragu, Kinara mengetikkan pesan singkat, penuh ketulusan.
"Aku baik-baik saja. Aku sedang belajar menjadi lebih baik, untuk diriku sendiri. Jangan khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja."
Tombol kirim ditekan dengan lembut. Pesan itu bukan hanya untuk Sheya. Itu adalah pesan untuk dirinya sendiri. Sebuah janji bahwa tidak ada yang salah dengan memilih untuk tidak tergantung pada siapapun. Sebuah janji bahwa dia akan terus maju, mengejar kebahagiaan yang sejati, dan menjadi lebih kuat dalam prosesnya.
Kinara menatap langit yang semakin gelap, sebuah senyum kecil muncul di bibirnya. Tidak ada lagi kecemasan, tidak ada lagi keraguan. Dia tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia tahu bahwa perjalanan hidupnya baru saja dimulai, dan kali ini, dia tidak akan lagi mencari kebahagiaan di luar sana. Kebahagiaan itu sudah ada di dalam dirinya, menunggu untuk ditemukan.
"Selamat tinggal, Benaya. Selamat tinggal, Rasya," bisiknya pelan, seakan melepaskan semua beban. "Kini, waktunya untuk aku menemukan diriku sendiri."
Langit yang kini gelap, tak lagi menakutkan. Justru, itu adalah langit yang penuh dengan kemungkinan. Dan Kinara, di bawah langit itu, akhirnya merasa bebas
Kinara berdiri di depan jendela, melihat matahari terbenam. Dia tidak lagi merasa terjebak, tidak lagi takut akan masa depan. Kini, dia merasa bebas. Dengan senyuman kecil, dia mengangkat telepon dan menghubungi orang yang paling dia sayangi-dan itu adalah dirinya sendiri.
----
Benaya berdiri di tepi pantai, memandangi kapal yang membawa Kinara pergi. Angin laut yang semula terasa menenangkan kini justru memukul wajahnya dengan keras. Sebuah rasa sakit yang dalam merayap di dadanya. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan perhatian Kinara, tetapi kini, semua usaha itu terasa sia-sia.
Dia tahu sejak awal bahwa hati Kinara bukan miliknya, tapi dia tetap berharap. Dia berharap, meski sedikit, dia bisa membuatnya melihatnya dengan cara yang berbeda. Tapi saat ini, semuanya berakhir. Dan kini, hanya ada kenangan tentang seorang wanita yang pernah ia cintai, yang kini memilih untuk pergi.
Benaya mengalihkan pandangannya dari kapal yang semakin menjauh dan menatap ke laut yang tak berujung. "Gila," gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deburan ombak. "Dia memilih Rasya."
Dia sudah mencoba menerima kenyataan itu, tapi kenapa rasanya begitu sulit? Mengapa rasa sakit ini seperti menggerogoti dari dalam? Rasya memang lebih dekat dengan Kinara. Mereka telah melalui banyak hal bersama, sementara dia hanya bisa menjadi bayangannya-selalu berada di luar jangkauan, mencoba untuk menggapainya, namun tak pernah berhasil.
Benaya mengangkat tangan, menutup wajahnya sejenak, mencoba menenangkan dirinya. "Aku nggak bisa terus begini," pikirnya. "Aku nggak bisa terjebak di masa lalu. Dia sudah memilih jalan hidupnya sendiri."
Di dalam hati, Benaya tahu bahwa Kinara layak mendapatkan kebahagiaan yang dia inginkan, bahkan jika itu berarti harus bersama orang lain. Rasya mungkin yang terbaik untuknya, meskipun itu menyakitkan.
Dengan napas berat, Benaya berbalik dan mulai berjalan menjauh dari pantai. Dia tak akan terus mengejar sesuatu yang sudah jelas tak akan pernah menjadi miliknya. Kini, saatnya untuk move on.
"Selamat tinggal, Kara," bisiknya, meski dalam hatinya ia tahu, perasaan itu tak akan mudah hilang.
---
Benaya kembali ke kehidupannya, mencoba untuk mengalihkan perhatian dengan pekerjaan dan kegiatan lain. Meski begitu, setiap kali ia melintasi tempat-tempat yang dulu ia kunjungi bersama Kinara, atau mendengar nama Kinara disebut, perasaan itu kembali muncul. Tapi ia bertekad untuk tidak menyerah pada kesedihan.
Suatu malam, saat Benaya sedang duduk di sebuah kafe, seseorang mendekatinya. "Gue denger lo lagi coba move on, Ben," kata teman lamanya. Benaya hanya tersenyum tipis, menyadari bahwa meski dia belum sepenuhnya sembuh, hidup terus berjalan.
"Ya, gue coba. Nggak ada yang lebih baik daripada mencoba, kan?" jawab Benaya, meskipun dalam hatinya ia tahu, ada bagian dari dirinya yang akan selalu merindukan Kinara.
-----
KAMU SEDANG MEMBACA
BENAYA [SELESAI]
Roman pour Adolescents[ FOLLOW SEBELUM MEMBACA ] Dia Benaya, dia keren, tampan, tinggi, pintar, jago menggambar, memanjat tebing dan photografi. Kurasa tidak ada yg bisa menandinginya. Tahu tidak? Dia sering menyiksaku, membentakku, memarahiku. Saat itu aku tidak tahu di...
![BENAYA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/145338283-64-k887830.jpg)