BAB: Yang Tersisa Hanya Nama
Sudah lewat tiga bulan sejak pertemuan terakhir itu. Rasya menang, Kinara pergi, dan aku... kalah. Bukan cuma dari lelaki yang kini berdiri di sisinya, tapi dari diriku sendiri. Aku gagal mempertahankan apa yang dulu aku genggam erat, terlalu erat, sampai akhirnya hancur di tanganku sendiri.
Kafe ini masih sama. Bangkunya, aroma kopi yang samar, bahkan lagu-lagu sendu yang diputar barista setiap malam. Tapi malam ini terasa berbeda. Ada bangku kosong di depanku yang dulu selalu diisi suara cerewet Kinara. Ada secangkir kopi hitam yang kini tak disentuh siapa-siapa. Dingin, seperti hatiku.
Aku masih menyimpan chat terakhir dari Kinara. Singkat. "Bena, jangan cari aku lagi. Aku mau sembuh, bukan luka yang terus diulang."
Sakit. Tapi aku pantas menerimanya.
Aku sering bertanya pada diri sendiri, sejak kapan aku mulai menyakiti seseorang yang katanya paling aku cintai? Sejak kapan pelukanku berubah jadi jerat? Sejak kapan suaraku jadi teriakan, bukan pelukan?
Jawabannya... sejak aku merasa memiliki dia sepenuhnya.
Kini aku sadar, cinta bukan soal memiliki, tapi menjaga agar dia tetap bisa tertawa. Dan aku gagal menjaga itu.
Aku lihat foto kami di layar ponsel. Kinara tersenyum, matanya sipit, rambutnya berantakan ditiup angin. Aku di sampingnya, pura-pura bahagia, padahal dalam hati penuh rasa takut. Takut kehilangan. Dan sekarang, aku bahkan tak tahu dia di mana, di belahan dunia mana, menjalani hidup baru tanpaku.
Mereka bilang waktu menyembuhkan segalanya. Tapi waktu juga bisa mengukir luka jadi lebih dalam. Aku tahu aku takkan bisa kembali ke titik itu. Saat dia masih memanggil namaku dengan senyum, bukan dengan air mata.
Aku dengar dia melanjutkan kuliah di luar negeri. Rasya kadang update lewat story, dan aku? Diam. Hanya bisa melihat dari jauh, seperti figuran yang tidak punya skrip lagi.
Kini aku menulis surat, yang tidak akan pernah kukirim:
"Kara, maaf... kalau dunia ini bisa kuputar ulang, aku akan memilih jadi orang asing yang tidak pernah singgah di hidupmu. Biar luka itu tidak pernah ada, biar kamu bisa bahagia lebih cepat. Tapi jika takdir tetap mempertemukan kita, aku harap kamu sudah bahagia, walau tanpaku."
Tanganku gemetar, mataku panas. Satu-satunya hal yang masih bisa aku lakukan hanyalah berdoa. Semoga tempatmu di sana nyaman, semoga seseorang yang ada di sisimu tahu betapa berharga kamu. Dan semoga aku, bisa mengampuni diriku sendiri-suatu hari nanti.
Untuk sekarang, biar aku jadi kenangan yang tidak kamu kenang. Karena cinta yang benar, adalah yang tahu kapan harus pergi.
BAB: Kita yang Pernah Ada
Langit sore di Amsterdam mulai berubah jingga. Angin membawa aroma kopi dari café kecil di pojok jalan, tempat Kinara duduk sendirian dengan buku catatan terbuka. Ia menulis, masih menulis, seperti caranya menyembuhkan-pelan, tapi tetap mengalir.
Seseorang menarik kursi di depannya.
"Kinara."
Dia mengangkat wajah, matanya sedikit melebar. "Bena..."
Benaya masih sama-dengan jaket jeans kesayangannya, rambut sedikit lebih panjang, dan tatapan yang kini tak sekeras dulu. Ada penyesalan yang tidak ingin ia sembunyikan.
"Aku cuma... mau bilang maaf."
Kinara menutup bukunya. "Udah lama banget nggak dengar suara kamu."
"Kamu kelihatan... tenang sekarang."
"Aku tenang karena akhirnya aku nggak lagi berharap kamu berubah." Senyumnya datar. "Dan karena aku nggak lagi marah."
Benaya mengangguk pelan. "Aku nyesel. Tapi aku nggak dateng buat minta kesempatan lagi. Aku cuma pengen kamu tahu... aku nyesel karena waktu itu terlalu ngebela egoku. Aku salah karena bikin kamu ragu sama cinta yang kamu bawa tulus ke aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
BENAYA [SELESAI]
Teen Fiction[ FOLLOW SEBELUM MEMBACA ] Dia Benaya, dia keren, tampan, tinggi, pintar, jago menggambar, memanjat tebing dan photografi. Kurasa tidak ada yg bisa menandinginya. Tahu tidak? Dia sering menyiksaku, membentakku, memarahiku. Saat itu aku tidak tahu di...
![BENAYA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/145338283-64-k887830.jpg)