End [Pertemuan Perpisahan]

61 1 0
                                        

Pertemuan Pertama

Langit sore di Amsterdam mulai berubah jingga. Angin membawa aroma kopi dari café kecil di pojok jalan, tempat Kinara duduk sendirian dengan notebook nya yang terbuka. Ia menulis, masih menulis, seperti caranya menyembuhkan—pelan, tapi tetap mengalir.

Seseorang menarik kursi di depannya.

"Kinara."

Dia mengangkat wajah, matanya sedikit melebar. “Bena…”

Benaya masih sama—dengan jaket jeans kesayangannya, rambut sedikit lebih panjang, dan tatapan yang kini tak sekeras dulu. Ada penyesalan yang tidak ingin ia sembunyikan.

“Aku cuma... mau bilang maaf.”

Kinara menutup bukunya. “Udah lama banget nggak dengar suara kamu.”

“Kamu kelihatan... tenang sekarang.”

“Aku tenang karena akhirnya aku nggak lagi berharap kamu berubah.” Senyumnya datar. “Dan karena aku nggak lagi marah.”

Benaya mengangguk pelan. “Aku nyesel. Tapi aku nggak dateng buat minta kesempatan lagi. Aku cuma pengen kamu tahu... aku nyesel karena waktu itu terlalu ngebela egoku. Aku salah karena bikin kamu ragu sama cinta yang kamu bawa tulus ke aku.”

Sunyi sejenak. Kinara menatap cangkir cappuccino-nya yang tinggal setengah.

“Aku sempat pikir kamu bakal terus nyari aku,” kata Benaya lirih. “Ternyata kamu nyari dirimu sendiri. Itu... luar biasa.”

Kinara menahan napas. “Kamu tau kenapa aku nggak bisa balikin semuanya ke awal?”

“Karena kamu udah utuh sekarang. Tanpa aku.”

Kinara tersenyum. “Dan kamu juga. Tapi kita tetap pernah saling, Ben. Itu gak akan aku hapus.”

Benaya menunduk, tersenyum kecil. “Terima kasih udah maafin aku.”

“Terima kasih juga... karena udah jadi luka yang ngajarin aku bertumbuh.”

Mereka terdiam, membiarkan waktu bicara. Tidak ada pelukan, tidak ada permintaan terakhir. Hanya dua orang yang pernah saling hancur, kini memilih untuk membebaskan satu sama lain.

Saat Benaya pergi, Kinara membuka catatannya. Ia menulis satu kalimat sebelum melanjutkan harinya:

- Aku tidak menghapusmu, hanya menuliskanmu di bagian yang sudah selesai.

--------

Pertemuan Terakhir

Musim semi di Amsterdam membawa warna baru. Kinara duduk di tepi kanal, notebook di pangkuannya, dan telinganya disibukkan oleh suara burung camar yang entah sejak kapan jadi musik favoritnya.

Langkah kaki mendekat. Sepasang sneakers berhenti di depannya.

"Kinara..."

Suara itu menelusup masuk ke dalam jantungnya. Masih dikenalnya betul, sekuat apapun dia mencoba lupa.

"Benaya?"

Dia duduk di sampingnya, agak canggung. Ada jarak di antara mereka, tapi tidak sejauh dulu saat hatinya masih penuh luka.

“Aku kira kamu di London,” kata Kinara, mencoba terdengar biasa.

“I was,” jawab Benaya. “Tapi ternyata otakku masih stay di Jakarta. Dan hati gue... entah kenapa nyusul ke sini.”

Kinara tertawa, pendek. “Masih suka gombal ya.”

“Dulu kamu suka.”

“Dulu aku bodoh,” balasnya cepat.

Benaya menatap lurus ke depan, ke arah air yang memantulkan langit. “Gue nggak datang buat balikan, Na. I just wanted to say... sorry. For everything.”

Hening. Kinara meremas ujung buku catatannya.

“Aku udah maafin kamu, Ben. Tapi maaf itu bukan buat kamu tenang, ya. Buat aku bisa napas.”

Benaya menunduk. “Fair enough.”

Kinara akhirnya menoleh, “Aku belajar satu hal di sini...”

“Apa?”

“Bahwa nggak semua orang yang kita sayang, harus kita miliki.”

Benaya mengangguk pelan. “Dan nggak semua yang kita miliki, bisa kita pertahankan.”

Angin menerbangkan helaian kertas kecil dari buku Kinara. Benaya memungutnya. Di sana tertulis satu kalimat:

Maybe closure isn’t always about saying goodbye. Sometimes, it’s just finally breathing without pain.

“Aku tulis itu waktu lagi kangen kamu,” bisik Kinara. “Tapi sekarang udah nggak sesakit dulu.”

Benaya tersenyum, setengah sendu. “Thanks for being honest.”

Dia berdiri, menyimpan kertas kecil itu di saku jaketnya. “Gue pergi ya.”

Kinara mengangguk. “Take care, Ben.”

“Always.”

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Benaya berjalan menjauh tanpa rasa ingin berbalik.

---

Kinara kembali menulis, kali ini bukan tentang rasa sakit yang sudah lama terpendam, melainkan tentang apa yang bisa tumbuh dari luka yang telah sembuh. Di Amsterdam, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, dia menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Rasya, walaupun jauh, selalu ada dengan cara yang berbeda.

Tak perlu terburu-buru, mereka tahu bahwa setiap hubungan punya waktunya sendiri untuk berkembang.

Dan Kinara, dengan senyumnya yang tenang, tahu bahwa hidupnya akan terus berjalan. Dengan atau tanpa seseorang di sampingnya, dia sudah cukup kuat untuk menulis cerita baru—cerita tentang dirinya, tentang apa yang benar-benar ia inginkan.

END.

BENAYA [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang