Hujan turun pelan, seperti tidak tega mengguyur seluruh tubuh lelaki yang berdiri kaku di depan papan nama pelabuhan. Langkahnya berat, bukan karena lelah, tapi karena kosong. Sudah dua jam sejak kapal terakhir berangkat. Kinara ada di atas kapal itu.
Ke luar negeri, katanya. Untuk sekolah, katanya. Dan yang paling menyakitkan: untuk pergi dari semua yang membuatnya hancur—termasuk Benaya.
"Akhirnya kamu beneran pergi ya, Kara?" gumamnya lirih, setengah tak percaya. Kata-kata yang dulu ia pikir cuma ancaman, ternyata nyata. Rasanya seperti bercanda yang kebablasan, dan kini ia jadi punchline-nya.
Tangannya menggenggam kencang kain jaket yang dulu pernah Kinara pakai. Masih ada sisa pasir di ujung lengan jaket itu. Kenangan terlalu mudah melekat. Terlalu sakit untuk dibersihkan.
Seseorang menepuk bahunya—penjaga pelabuhan.
"Mas, udah sepi. Kalau cari tumpangan, besok pagi aja."
Benaya hanya mengangguk, lalu berjalan gontai menuju tempat duduk di sisi pelabuhan. Duduk diam, membiarkan jaket itu menutupi wajahnya. Kalau bisa, dia ingin menghilang. Tapi bahkan rasa bersalah pun terlalu kuat untuk dibungkam.
Dia membuka ponselnya, menelusuri galeri. Foto-foto Kinara. Video saat mereka tertawa, waktu belum ada luka, belum ada kata yang saling menyayat.
"Apa gue nyakitin lo sedalam itu, Kara?"
Ia tahu jawabannya.
Iya.
Karena dia bukan cuma pernah pergi tanpa pamit, tapi juga kembali dengan niat yang nggak utuh. Rasya hadir dengan kejujuran, dengan usaha yang nggak Benaya punya. Dan Kinara, dengan luka yang belum sembuh, tentu lebih butuh pelukan yang jelas, bukan teka-teki macam dirinya.
Suara obrolan dua turis di belakangnya mengingatkannya pada Kinara—yang selalu suka nebak-nebak bahasa orang lain dan tertawa saat salah. Benaya menoleh ke laut. Malam mulai turun. Angin makin dingin.
Ia akhirnya membuka catatan di ponselnya. Menulis—satu-satunya cara yang bisa dia lakukan sekarang untuk merasa sedikit hidup:
Kara, kalau kamu baca ini nanti, aku minta satu hal. Jangan maafin aku terlalu cepat. Karena kesalahan aku terlalu besar buat dilupakan begitu aja. Tapi tolong bahagia ya. Kalau sama Rasya itu bahagia, yaudah. Pilih dia. Dunia ini udah cukup keras. Jangan pilih yang bikin kamu terluka lagi. Aku? Mungkin cuma perlu waktu lama buat ngelupain kamu. Atau mungkin, gak pernah bisa. Tapi aku janji, mulai sekarang aku gak akan jadi alasan kamu sedih lagi. Sekali ini aja, izinin aku menyesal seumur hidup.
Ia menyimpan catatan itu. Tidak dikirim. Tidak dibagikan. Hanya disimpan—seperti Kinara, yang kini juga cuma bisa ia simpan di dalam kepala, di sudut hati yang tidak pernah bisa benar-benar sembuh.
Benaya mendongak ke langit. Hujan belum juga berhenti.
Dan dalam sepi itu, satu kalimat berputar-putar di benaknya:
"Harusnya gue gak pernah pergi."
Benaya duduk sendiri di tepi dermaga. Jemarinya memegang gelang kulit yang dulunya ia sematkan ke pergelangan tangan Kinara, dengan tulisan kecil: be brave. Kata itu sekarang justru menghantuinya.
"Kenapa gue nggak cukup berani ninggalin ego waktu itu?"
Semilir angin membawa suara ombak. Tapi yang terdengar di kepalanya hanya satu hal: napas Kinara waktu menangis di pelukannya, waktu memohon agar dia berhenti jadi alasan semua luka.
Kini ia hanya mendengar hening. Tak ada lagi suara Kinara, tak ada lagi perdebatan, tak ada lagi 'Kara'.
Rasya menang, dan anehnya Benaya tahu, memang seharusnya begitu.
Tapi sakit tetap tinggal, bersarang di dada yang terlalu sesak menahan semua penyesalan.
Dia membuka layar ponselnya. Ada satu draft pesan yang tidak pernah ia kirim:
Kalau kamu sempat balik, boleh nggak sekali aja kita duduk tanpa kata. Aku cuma mau denger kamu cerita, kayak dulu. Tanpa debat, tanpa ego, cuma kita, cuma aku yang dengerin kamu. Maaf ya, Kara.
Benaya menyimpan ponselnya kembali. Dan untuk pertama kalinya setelah semuanya berakhir, ia menangis—bukan karena kehilangan, tapi karena sadar... dia tidak pernah benar-benar berjuang dengan cara yang seharusnya.
-------
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
KAMU SEDANG MEMBACA
BENAYA [SELESAI]
Teen Fiction[ FOLLOW SEBELUM MEMBACA ] Dia Benaya, dia keren, tampan, tinggi, pintar, jago menggambar, memanjat tebing dan photografi. Kurasa tidak ada yg bisa menandinginya. Tahu tidak? Dia sering menyiksaku, membentakku, memarahiku. Saat itu aku tidak tahu di...
![BENAYA [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/145338283-64-k887830.jpg)