CHAPTER 54

35 0 0
                                        

Kadang-kadang hidup tidak selalu berakhir dengan pilihan antara dua orang.

Samar-samar terdengar suara gadis manis itu memanggil-manggil namanya dengan airmata yang mengalir, bukan hanya isak abadi, bahunya bergetar mengguncang bumi dan seisi hospital bed.

Tak karuan rasanya, pedih menyaksikan luka yang di buat oleh mantan pasangannya yang belum terbit jadi 'sepasang'.

Kinara menilik arloji, sudah 45 menit waktu berjalan, ia menunggu kehadiran dokter keluar dari ruangan bahaya. Bukan hanya isi kepalanya saja yang berputar, tapi bagaimana caranya agar ia bisa menghubungi pihak keluarga 'korban' disaat tidak ada yang tersisa di saku polo atau jeans milik Rasya.

Senandika kini menghias seisi, meminta agar semesta berbaik hati kepadanya.

Tidak mempunyai ponsel, manusia yang sering disapanya dengan sebutan 'kuno' atau memang sengaja, menjadi berbeda dari manusia kebanyakan yang kali beranjak, suka berbicara atau tersenyum dengan komputer, ponsel dan alat canggih lainnya, dia bukan plankton katanya. dan dia anti itu semua.

Kedekatan hanya bisa di terima dengan pertemuan, menurutnya raga yang jauh hanya mengundang rasa rindu, menerka peluk ingin beranjak kemana, ingin jatuh ke siapa, meskipun koneksi itu menyala, jika aku ingin dia ada, maka hadirlah.

"Menangislah sepuasnya, " suara itu terdengar lirih.

Kinara menoleh dan terperajat, tubuhnya ia hamburkan kedalam pelukan Rasya yang sudah siuman.

"Benaya kejam! " kali pertama, bukan kata itu yang Rasya inginkan keluar dari bibir mungil wanita di hadapannya yang kini tatanannya semrawut, entah karena mengkhawatirkannya atau selainnya.

"Dia masih menyayangimu, Kar. "

"Jangan bahas soal dia, kamu sekarang yang patut, "

"Patut kamu sembah? "

"Memang kamu mau jadi ba'la? "

"Menolak keras. "

"Patung itu kan mahal, terbuat dari emas. "

"Aku udah enggak! "

"Enggak apa? "

"Enggak percaya sama manusia bernama Benaya. "

"Memang dari dulu yang patut di percayai cuma Allah. "

"Apanya yang sakit kak? " tanya Kinara lembut

"Sakit hatiku kalo kamu belum bisa move on Kar."

Rasya menelaah, belum cukup mudah meyakinkan hatinya untuk percaya bahwa Kinara sudah melupakan 'sepasang' yang tenggelam dilaut yang telah mereka sebrangi.

"Kamu baik-baik aja kan?"

"Kita pulang ya? "

"Jawab dulu, semua bagian tubuh kamu memar kak, "

"Gapapa, laki-laki. "

"Kakkk!"

"Dengerin kakak, yang penting sekarang kakak lega bertemu sekaligus melihat perpisahan kalian, kamu gaperlu berusaha untuk melupakan dia, aku yang akan bekerja Ra, untuk memenangkan hati kamu. "

Kinara tenggelam di pelukan Rasya, ia ingin sekali lagi merayakan hari patah hatinya bersama penawar.

Namun pada kenyatannya, melupakan adalah kata tersulit untuk di ubah di kamus bahasanya, meski sering kali benaya menyakitinya, Kinara siap untuk berhenti dan melupakan Benaya.

"Kita tinggal disini aja yuk kak? Aku ga ingin pulang, aku takut "

"Kita pulang, adakalanya rumah bukan sesuatu yang kita hindari, aku belajar banyak darimu Kar "

BENAYA [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang