Tittle : Penyelidikan Sekolah #3
Happy Reading🌻
Pagi yang cerah menyambut hari baru. Sinar matahari menyusup lembut melalui jendela ruang makan, di mana seluruh kelompok sudah berkumpul untuk sarapan sebelum mereka kembali ke sekolah untuk melakukan penyelidikan.
Di Ruang Makan
"Nanti kita ke sekolah naik apa?" tanya Lucien sambil mengaduk teh manisnya.
"Naik motor aja, lebih praktis," jawab Darrel sambil mengambil sepotong roti.
"Setuju," timpal Ranendra. Ia meletakkan sendoknya dan bersandar santai di kursi.
Ali terlihat sedikit khawatir. "Tapi... nanti nggak bakal ketahuan sama Pak Satpam?"
"Bagus dong kalau ketahuan," kata Salsa dengan santai. "Nanti kita tinggal bilang ke perpustakaan nyari data siswa. Biar sekalian dia ngawasin."
Ali masih terlihat bingung. "Terus kalau ditanya nyari data buat apa?"
"Tinggal bilang aja Bu Eni suruh nyari data siswa lama. Simple kan?" jawab Salsa, kali ini sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
Najwa menyeringai. "Wih, tumben otak lo encer, Sal. Semalem diapain Ali ya sampai bening begini?"
"Idih, Jwa! Gak lucu!" jawab Salsa dengan muka merah.
"Udah, udah... Ayo makan dulu, nanti kita keburu siang," ujar Dyira menenangkan.
Mereka pun melanjutkan makan dengan cepat, lalu bersiap menuju sekolah untuk penyelidikan ketiga mereka.
Di Sekolah
"Assalamualaikum, Pak," sapa Darrel sopan ketika mereka tiba di gerbang sekolah.
"Waalaikumsalam. Lah, kalian ngapain ke sini? Kan libur," tanya Pak Rudi, satpam sekolah, sambil mengangkat alis.
"Iya, Pak. Kita disuruh Bu Eni ke perpustakaan. Nyari data siswa," jawab Salsa cepat dan yakin.
"Ohh... ya udah, silakan masuk ya," ucap Pak Rudi sambil membuka gerbang.
"Makasih, Pak. Kami ke perpustakaan dulu," kata Darrel.
Mereka pun melangkah cepat menuju gedung perpustakaan.
Di Perpustakaan
"Wahh... auranya serem juga ya tempat ini," gumam Ranendra sambil menatap rak-rak tua yang berdebu.
"Udah, jangan banyak gaya. Ayo cari data siswa, fokus," ujar Dyira sambil menarik tangan Ranendra.
"Sabar napa, Dyir," balas Ranendra.
"Guys, kita bagi kelompok ya. Mau berdua atau berempat?" tanya Dyira ke semuanya.
"Duaan," jawab yang lainnya serempak, kecuali Ranendra.
"Empat orang aja kali ya?" Ranendra masih mencoba.
"Gak dulu deh!" goda Najwa sambil tertawa.
"Oke, oke. Berdua deh," ucap Ranendra pasrah.
"Lu ikut gue, Ren," kata Dyira.
"Iya, bawel," balas Ranendra sambil nyengir.
Mereka semua berpencar mencari data siswa lama. Dyira dan Ranendra menyusuri lorong rak paling belakang.
Dyira dan Ranendra
"Ini kita mesti ngapain?" tanya Ranendra.
"Nyari tentang Dewi lah," jawab Dyira dengan santai.
"Hah?! Lu waras nggak sih?" Ranendra memukul pelan lengan Dyira.
"Ih, bercanda doang kali. Tapi lu percaya ya? Hahaha," tawa Dyira sambil menepuk dahinya.
"Lu ngomongnya serius, jadi gue kira beneran," gumam Ranendra.
Dyira menyipitkan mata. "Tapi serius deh, lu kan indigo. Kenapa Dewi gak gangguin lu juga?"
Ranendra mengangkat bahu. "Entah. Mungkin dia milih lu karena ada sesuatu yang cuma bisa dia sampaikan ke lu."
"Ungkapin rasa cinta?" Dyira menahan tawa. "Gila, norak amat sih gue."
"Baru nyadar ya," cengir Ranendra.
"Sini tangan lo!" Dyira mencubitnya.
"Sakit, bodoh!" seru Ranendra sambil mengelak.
"Udah, ayo cari data. Sebelum sore," katanya akhirnya.
"Iya, iya. Ayok," sahut Dyira.
Najwa dan Darrel
"Eh, kita nyari apa sih sebenernya?" tanya Darrel bingung.
"Cinta Dewi," jawab Najwa santai.
"Astaghfirullah! Jangan bercanda kayak gitu, Jwa! Ntar muncul beneran, lo tanggung jawab ya!"
"Eh iya juga... Maaf, Wi..." kata Najwa dengan ekspresi menyesal.
"Udahlah, fokus cari data siswa," lanjut Darrel.
"Maksud lo masih ngambang, bangett..." Najwa mencubit lengan Darrel. "Otak lo lemot banget hari ini. Mau gue ambilin di rumah?"
"Aduh! Ya udah, ayo cari," kata Darrel sambil menahan geli.
Angel dan Lucien
"Njell, kita nyari apa sih sebenernya?" tanya Lucien.
"Hati gue yang ketinggalan di sini," jawab Angel santai.
"Bukan hati lu udah gue pegang?" goda Lucien.
"Aish! Gak pernah serius," Angel memukul pelan tangan Lucien.
"Maaf, maaf. Yuk cari data," ujar Lucien sambil nyengir.
Salsa dan Ali
"Ribet juga ya nyari data di sini," keluh Ali sambil membuka salah satu map.
"Lu nyesel bantuin Dyira?" tanya Salsa.
"Bukan nyesel, cuma... kenapa dia segitunya pengen tahu tentang Dewi?"
"Mungkin karena dia merasa ada yang harus dia bantu," jawab Salsa pelan.
Ali mengangguk. "Iya sih..."
"Udah, cari aja. Nanti kalo ditanya kita tinggal jawab," kata Salsa.
"Bilang aja habis pacaran," canda Ali.
"Aduh, bodoh!" seru Salsa sambil memukul bahunya.
Mereka pun tertawa ringan dan kembali fokus mencari.
Mereka semua menyisir rak demi rak. Masing-masing larut dalam pencarian tentang sosok Dewi yang misterius itu. Dyira paling keras kepala ingin tahu siapa Dewi sebenarnya.
Waktu berlalu cepat. Hari sudah mulai sore ketika mereka berkumpul kembali.
"Pak Rudi, kami pamit ya," kata Darrel saat mereka tiba di gerbang.
"Iya, hati-hati di jalan, Nak," balas Pak Rudi.
Mereka pun pulang dengan perasaan campur aduk. Banyak pertanyaan di benak mereka, tapi penyelidikan masih jauh dari kata selesai. Namun satu hal pasti: malam ini mereka akan lebih siap untuk menyusun strategi lanjutan.
Thank you for reading... Oke next part
KAMU SEDANG MEMBACA
Misteri Guru IPA [REVISI]
HorrorHallo... Happy Reading🌻 "JADI APA MAU IBU SEKARANG?" tanya Dyira. "Sabar dong sayang... Kamu sepertinya sudah tidak sabar yaa" kata Bu Luna yang langsung memerintah 2 anak buahnya membawa Dyira masuk ke dalam suatu ruangan lagi. "Aishh lepasin bodo...
![Misteri Guru IPA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/310774798-64-k913395.jpg)