Part 37

28 3 0
                                        

Tittle : Najwa Disekap

Happy Reading🌻

Saat mereka tiba kembali di mobil, Dyira langsung menyadari sesuatu yang tidak beres. Mobil satunya, tempat Angel, Najwa, Darrel, dan Lucien seharusnya berada, masih kosong. Tak ada tanda-tanda kehadiran mereka.

"Eh, itu mobil mereka masih kosong," kata Salsa pelan, matanya melirik cemas ke arah kendaraan yang terparkir tak jauh.

"Eumm... belum balik kali, mungkin masih nyari sesuatu di dalam," ujar Dyira, meski nada suaranya terdengar ragu.

"Iya, bisa jadi," ucap Salsa pelan.

Ranendra menyandarkan tubuh ke sandaran mobil, tangannya menyilang di dada. "Ya udah, kita tungguin aja sampai mereka balik dan ngasih kabar."

Ali mengerutkan kening. "Gak mau kita nyusul aja? Kalau terjadi apa-apa, kita bisa langsung bantu."

Dyira cepat menoleh. "Maksud lu? Lu mau masuk lagi ke rumah Bu Luna? Mau ketahuan?"

Ali mengangkat bahu. "Gue cuma takut mereka ketahuan. Kalau ketahuan, siapa yang tanggung jawab?"

Dyira menghela napas berat. "Iya, gue juga takut sih... Tapi kita gak bisa sembarangan gerak."

Salsa mencoba mencairkan suasana. "Eh... gimana kalau kita beli es krim dulu? Tadi gue liat ada toko kecil di ujung jalan. Lumayan buat nenangin pikiran."

Dyira tersenyum tipis. "Ya udah, ayok. Daripada diem terus di sini stress sendiri."

Mereka pun meninggalkan mobil sejenak untuk membeli es krim, berharap teman-teman mereka baik-baik saja.

Sementara itu, di Belakang Rumah Bu Luna

Empat orang lainnya—Najwa, Darrel, Angel, dan Lucien—berada di belakang rumah. Mereka berdiri mematung di dekat jendela dapur yang terbuka setengah.

"Eh, kita jadi nyelinap ke dalam?" bisik Angel, suara gemetar.

Najwa menatap mereka satu per satu. "Kalau kalian siap, ya ayok. Ini kesempatan kita."

Darrel menunjuk ke arah pintu belakang. "Kita lewat dapur, ya?"

Najwa mengangguk. "Iya. Pelan-pelan. Jangan sampai ada suara."

Mereka berempat pun masuk dengan hati-hati melalui dapur. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara jam dinding berdetak.

"Sepi banget," gumam Lucien sambil melihat sekeliling.

Darrel menatap Najwa. "Kita sekarang ke mana?"

Najwa menunjuk ke arah lorong. "Kita bagi dua tim. Gue sama Darrel cari kamar misterius, Angel sama Lucien cari kamar Bu Luna."

Angel meneguk ludah. "Oke... Tapi hati-hati ya."

Darrel mengangguk. "Kalian juga. Kalau ada apa-apa, langsung kabarin lewat chat."

Cerita Najwa dan Darrel

Najwa dan Darrel bergerak menyusuri lorong sunyi. Dinding kayu rumah Bu Luna tampak tua dan berdebu. Bau kayu tua dan lilin terbakar tercium samar.

Tiba-tiba Najwa berhenti. Ia menunjuk ke sebuah pintu berwarna coklat tua di ujung lorong.

"Rell... lihat deh. Pintu itu beda sendiri warnanya," bisiknya.

Darrel memperhatikan pintu itu. "Iya... pintu lain warnanya coklat muda atau merah. Tapi ini?"

Najwa mendekat. "Aneh, kan? Kayak disembunyiin. Gue mau masuk."

Darrel ragu. "Gue tunggu di sini aja, ya. Kalau ada apa-apa, gue siap bantu."

Najwa mencibir. "Dasar penakut. Tapi ya udahlah, lu jagain pintu ini."

"Hati-hati, sayang," bisik Darrel sambil memeluk Najwa cepat.

Najwa menepis malu. "Udah ah, jangan mesra-mesraan di sini."

Najwa pun perlahan membuka pintu itu. Bunyi engsel berderit membuat bulu kuduknya meremang. Di dalamnya, ia melihat Bu Luna sedang berbicara... dengan seseorang. Tapi dari posisi Najwa, sosok itu tertutup bayangan.

‘Hah? Bu Luna? Lagi ngobrol sama siapa?’ pikir Najwa dalam hati, menyipitkan mata mencoba mengenali.

Tiba-tiba, kakinya menyenggol meja kecil di dekatnya. Vas bunga yang berada di atasnya jatuh.

Prangg!

“Siapa di sana?!” suara Bu Luna terdengar keras dan menggema di ruangan.

Najwa panik. Ia mencoba mundur, tapi langkahnya terpaku. Terlambat, Bu Luna sudah berdiri dan berjalan mendekat.

“Keluar! Atau kalian akan terima akibatnya!” ancam Bu Luna dengan suara dingin.

Najwa terpaksa muncul dari balik meja. “Hehe... halo, Bu.”

Bu Luna menyeringai. “Najwa... anak manis. Kenapa kamu ada di sini?”

Najwa membuang muka. “Kepo aja, Bu.”

“Tega kamu menantang gurumu sendiri,” suara Bu Luna berubah mengerikan.

“Maaf, Bu. Tapi Ibu bukan guru saya lagi,” Najwa menatap tajam.

Bu Luna mengangkat vas pecah dan melemparkannya ke arah Najwa. “Kurang ajar!”

Pecahan itu mengenai dahi Najwa. Darah mengalir pelan.

Najwa terjatuh dan tubuhnya lemas. Bu Luna menyeret tubuh Najwa ke dalam ruangan dan mengunci pintu dari luar.

Di Luar Kamar Misterius

Darrel yang mendengar suara keributan segera menghampiri. Ia mencoba membuka pintu, tapi terkunci.

“Najwa! Jwa! Lo di dalam?!” teriaknya sambil menggedor-gedor pintu.

Dari dalam hanya terdengar gemerisik halus.

Darrel jatuh berlutut, tangannya mengepal. “Maafin gue... harusnya tadi gue temenin lo. Tapi gue malah ninggalin lo... bodohnya gue.”

Tangisnya pecah. “Gue janji, Jwa... gue bakal keluarin lo dari sana.”

Ia bangkit, menyeka air matanya dengan punggung tangan. “Gue harus cari Lucien dan Angel. Gue butuh bantuan.”

Tanpa pikir panjang, Darrel berlari menyusuri lorong rumah Bu Luna, meninggalkan pintu misterius itu di belakang.

Thank you for reading... Oke next part

Misteri Guru IPA [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang