Part 22

33 5 0
                                        

Tittle : Pembahasan Tentang Penyelidikan

Happy Reading🌻

Pagi hari yang cerah telah tiba. Mereka semua turun ke lantai bawah dan duduk bersama di ruang tamu. Suasana terasa serius, mereka hendak membahas hasil bacaan dari buku misterius semalam.

Di Ruang Tamu

"Oke, jadi hasil yang kalian baca atau simpulkan gimana?" tanya Dyira sambil menatap teman-temannya satu per satu.

Salsa duduk menyender santai di sofa, lalu menjawab, "Iya, gitu Dyir... si Dewi ini kayaknya dibenci sama gurunya. Tapi kita nggak tahu guru yang dia maksud itu siapa."

"Eumm... emangnya guru itu punya masalah apa ya sama Dewi? Kok bisa-bisanya dia sejahat itu?" Dyira tampak bingung, alisnya berkerut.

Salsa menggeleng pelan. "Eumm... gak tau deh, Dyirr..."

Dyira mendesah, lalu memandang sekeliling. "Coba dong... yang bisa lihat masa lalu orang. Pegang tuh buku diary atau buku yang tadi malem kita baca. Fokus ke sana. Gue rasa lo bisa masuk ke dunia Dewi."

Darrel yang duduk di samping Najwa, langsung menyahut, "Iya, gue mau coba deh, Dyir."

Najwa menoleh cepat. "Lu yakin, Rell?"

Darrel mengangguk mantap. "Yakin, Jwa."

"Oke. Jwa, lo temenin Darrel ke kamar lo. Kalau ada apa-apa, langsung teriak, oke?" ujar Dyira tegas.

"Oke, siap," Najwa berdiri sambil menarik tangan Darrel.

Dyira menoleh pada yang lain. "Kita di sini aja, jaga-jaga. Takutnya nanti ada apa-apa sama mereka. Dan lo, Jwa, jangan cuma bengong pas Darrel lagi lihat masa lalu. Bikin diri lo sibuk, oke?"

Najwa tersenyum kecil. "Iyaa, Kak..."

"Gue ke atas dulu ya, guys. Byeee," kata Najwa sambil melambaikan tangan.

"Hati-hati yaa!" sahut teman-temannya bersamaan.

Di Kamar Najwa

"Ayo, udah siap, Rell?" tanya Najwa sambil duduk di lantai menghadap Darrel.

"Jagain gue ya," pinta Darrel sambil menggenggam buku di tangannya.

Najwa mengangguk. "Iya, gue jagain kok."

"Maaf ya kalau gue nyusahin..." ucap Darrel lirih.

Najwa tertawa kecil. "Udah, santai aja napa."

"Oke, gue mulai ya..." Darrel memejamkan mata dan mengambil napas dalam-dalam.

"Iya, silakan... Darrel-ku," kata Najwa pelan, memperhatikan temannya yang mulai memasuki dunia lain.

Darrel memegang buku itu erat-erat. Tubuhnya mulai tenang... hingga beberapa saat kemudian, dia benar-benar diam seperti tertidur.

Beberapa Saat Kemudian

Darrel tersentak bangun dengan napas tersengal. Keringat membasahi dahinya.

Najwa langsung mendekat. "Gimana, Rell?"

Darrel menelan ludah, lalu berkata, "Eumm... gue gak bisa ngelihat secara jelas siapa gurunya."

Najwa bertanya cepat, "Emang ciri-cirinya gimana?"

Darrel berdiri perlahan. "Nanti aja ya, gue jelasin di bawah. Sekarang kita turun dulu."

Najwa mengangguk. "Oke, ayok!"

Di Ruang Tamu

Saat mereka sampai di bawah, Lucien langsung menyambut, "Gimana, Rell? Udah dapet sesuatu?"

Darrel mengangguk. "Udah."

Ali yang duduk di lantai bersandar ke sofa ikut menyela, "Ceritain dong, Rell!"

Darrel mengangguk pelan. "Iya... gue akan cerita sekarang."

FLASHBACK ON

Darrel melihat dirinya terbangun di sebuah ruangan yang terasa asing tapi sepertinya pernah dia datangi. Dia bangkit dan berjalan keluar. Saat dia menoleh ke atas pintu, terlihat tulisan: Laboratorium.

Saat dia hendak masuk, sosok seorang gadis muncul dari arah lain. Cantik, wajahnya lembut. Itu Dewi.

"Aneh... siang-siang gini kok dia masuk lab sendirian?" gumam Darrel dalam hati.

Tiba-tiba, dari belakang, muncul seorang guru perempuan... tangannya menggenggam **pisau**.

"Gila, ni guru mau ngapain?!" bisik Darrel ngeri, matanya membelalak.

Guru itu berjalan perlahan mengikuti Dewi. Dewi tidak menyadarinya.

"Halo, Dewi," sapa sang guru, suaranya dingin.

"H-ha-halo Bu..." Dewi menoleh, terlihat gugup.

"Mau main sama ibu?" tanyanya lagi, senyum menyeramkan terlukis di wajahnya.

"Ibu mau ngapain saya?" tanya Dewi, tubuhnya mulai gemetar.

"Tenang, sayang. Ibu cuma mau main-main... sebentar aja."

"Ibu... ibu udah gila ya?!" Dewi berteriak panik.

Guru itu tertawa keras. "Baru sadar?"

Dengan cepat, dia mengangkat pisaunya dan menyayat pipi Dewi. Darah mengalir.

"Ibu! Tolong! Sakit!" Dewi meringis.

"Diam. Jangan banyak gerak," ucap sang guru dingin, menyayat lagi.

"Sudah... bu... cukup!" Dewi menangis.

"Sabar... kamu bakal mati cantik," bisik guru itu sambil menyeringai.

"Apa maksud ibu?!"

"Aku akan bunuh kamu, sayang. Dan nanti... aku akan bunuh saudaramu juga."

"Wha-apa? Jangan! Jangan sakiti dia! Saya mohon!"

"Terlambat. Dia pasti akan sekolah di sini juga nanti... dan aku akan tunggu."

"BUU JANGAN! SAYA AJA!"

Guru itu mencengkeram bahu Dewi. "Aku akan bunuh... Dy..."

"Dy? Dyira?!"

Guru itu tersenyum aneh. "Sudah. Kamu gak perlu tahu."

Lalu dia melempar kursi ke arah Dewi, membuat gadis itu jatuh. Sang guru langsung menusukkan pisau ke tubuh Dewi.

"Akhh... Bu..." lirih Dewi, sebelum akhirnya tubuhnya terkulai lemas.
FLASHBACK OFF

Darrel membuka mata perlahan. Nafasnya berat. Semua menatapnya dengan tatapan ngeri.

"Dia nyebut... Dy... sebelum ngebunuh Dewi," ucap Darrel pelan.

Najwa terkejut. "Dyira?!"

Dyira membeku. Wajahnya memucat.

Lucien mengepalkan tangannya. "Kita harus cari tahu siapa guru itu... sebelum dia datang ke Dyira."

Thank you for reading... Oke next part

Misteri Guru IPA [REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang