Bagian 17

163 25 1
                                        


Orang-orang bersorak ketika hakim mengetok palu keras. Seiring jepretan kamera, wartawan mulai bergerak mengerubungi ku, berebut melontarkan pertanyaan dan mengambil gambar sebisa mungkin. Aku bersyukur bisa keluar dari area itu dengan selamat berkat kawalan ketat keluargaku.

Aku diundang menjadi saksi dalam kasus pembunuhan yang di lakukan Juyeon. Dalam sidang itu terungkap bahwa mayat lelaki yang di temukan mangapung di sungai belakang perumahan Jihyun bernama Park Kyunghee. Pria berusia tiga puluh satu tahun itu bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan koran lokal. Pria itu terlilit banyak hutang, jadi dia bekerja untuk Juyeon sebagai pengedar obat terlarang. Sayangnya secara diam-diam, Park Kyunghee mencuri stok obat-obatan terlarang itu dan menjualnya sendiri. Juyeon yang tahu langsung berang, tapi dengan beraninya Park Kyunghee mengancam akan menyebarluaskan profesi sampingan Juyeon sebagai bandar narkoba pada semua orang melalui kantor perusahaannya. Sudah pasti Dia mengancam orang yang salah. Juyeon lebih peduli pada karirnya sebagai pengusaha terkenal agar tetap terjaga. Jadi dia lebih memilih membunuh pria yang lebih tua itu. Ternyata tanpa di duga, aksinya itu justru menimbulkan saksi baru yang ternyata adiknya sendiri, Minho.

Begitu aku terjaga di rumah sakit setelah kejadian di apartemenku, kasus itu sudah menjadi berita utama di berbagai media. Bukan hanya keterlibatan ku dan latar belakang keluargaku yang cukup di kenal publik yang menjadikan kasus ini menggempar, tetapi juga karena latar belakang keluarga Juyeon dan Minho. Perencanaan pembunuhan Kakak terhadap adiknya, menjadi tema yang hangat, apalagi setelah masyarakat tahu keduanya adalah anak salah satu pengusaha ternama.

Lee Minho atau Rhino L. Wilson bersama ayahnya Richard wilson , pria keturunan Amerika yang masih tampak tampan dan gagah sekaligus tampak berbahaya bagi lawan bisnisnya. Minho dan ayahnya menghampiri kami yang tidak jauh dari pintu keluar. Pengawalnya yang cukup banyak dan garang menghalau wartawan yang ingin mendekat.

"Ini bukan waktu yang tepat untuk berkenalan. Saya sangat malu atas ulah kedua anak saya terhadap anak anda tuan Han. Saya hanya bisa berterimakasih dan meminta maaf atas semua kejadian ini" kata Ayah Minho dengan aksen Amerikanya yang kental. Lalu menyalami kedua orangtuaku . Ia juga menyalamiku dan memelukku ringan.

"Saya juga meminta maaf, karena melibatkan Jisung dalam kekacauan ini," kata Minho tulus. Dan seperti dugaanku, ibuku tidak bisa menyembunyikan wajah terpukaunya saat Minho memberi salam.

"Bersyukur sekali masalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Namun keluarga kami juga berduka atas apa yang menimpa Kakak Minho. Kami berharap masalah ini tidak menimbulkan dendam dan sikap bermusuhan antar keluarga," balas ayah.

Ricard Wilson, pengusaha kayu yang juga memiliki jaringan hotel,  agen travel dan berbagai perusahaan yang bergerak di bidang properti, tersenyum hangat. "Oh, tentu saja. Saya juga berharap demikian."

Kami tertawa ringan bersama sebelum Minho berkata, "Bisakah aku berbicara berdua denganmu, Jisung?"

.
.
.

Aku tidak tahu bagaimana Minho -lebih tepatnya pengawal minho- menemukan tempat yang sepi di area kantor kejaksaan tempat sidang tadi berlangsung. Yang jelas kami telah berdiri di serambi yang sepi menghadap taman kecil yang tertata rapi. Dua pengawal Minho yang berdiri beberapa meter dari tempat kami. Postur mereka siaga, siap menerkam siapa saja yang tidak diundang ataupun yang mengganggu kami.

"Hai..." Minho menggulum senyum, seperti kebiasaanya. Kami berdiri berhadapan, tapi rasanya seperti terpisah jarak.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Minho kaku.

Aku tersenyum kikuk dengan perasaan aneh. Kami berdiri seperti orang asing. Tatapanku beralih pada perban yang mengikat lengan kiriku. Rasa nyerinya mengingatkanku pada kejadian itu.

The Sweet Hostage Minsung Vers(Sandera Yang Manis) Remake Novel Nesti Mindha R. Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang