Chapter 9

41 5 1
                                    

Malam itu terasa begitu tenang di apartemen Perth. Cahaya lampu kamar yang redup memberikan suasana hangat yang membuat Zee merasa nyaman. Perth menatap Zee yang sudah terlelap di sampingnya. Wajah Zee tampak begitu damai, seolah semua kepenatan hari ini telah menghilang. Perth mengulurkan tangan, mengusap lembut rambut Zee sebelum memejamkan mata.

Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai kamar, membangunkan Zee yang perlahan membuka matanya. Ia mendapati Perth masih tertidur di sampingnya, dengan wajah yang terlihat tenang. Zee tersenyum kecil, lalu mencoba bangun tanpa membuat suara.

Namun, begitu Zee bergerak, Perth langsung terjaga.

"Zee, kau mau kemana?" tanya Perth dengan suara serak khas baru bangun tidur.

"Zee ingin membuat sarapan untuk Perth," jawab Zee dengan suara pelan sambil tersenyum.

Perth menarik Zee kembali ke kasur dengan lembut. "Kau tidak perlu repot. Biarkan aku yang menyiapkan segalanya. Kau istirahat saja."

"Tapi Zee ingin melakukan sesuatu untuk Perth. Zee merasa sudah merepotkanmu," kata Zee dengan nada sedikit bersalah.

Perth mengusap pipi Zee dan tersenyum. "Kau tidak merepotkanku. Justru aku senang menjagamu. Sekarang, duduklah di sini dan tunggu aku."

Zee hanya bisa menuruti. Perth bangun dari tempat tidur, berjalan ke dapur, dan mulai menyiapkan sarapan sederhana berupa roti panggang dan susu. Zee mengikuti dari jauh, memperhatikan setiap gerakan Perth dengan penuh rasa kagum.

"Perth, kau terlihat seperti suami yang sempurna," kata Zee tiba-tiba, membuat Perth menoleh dengan ekspresi terkejut.

"Apa kau menyiratkan sesuatu, Bunny?" balas Perth dengan senyum menggoda.

"Zee hanya mengungkapkan kebenaran," jawab Zee dengan polos, membuat Perth tertawa kecil.

Setelah sarapan siap, mereka menikmati makanan bersama. Rencana liburan mereka pun dibahas, dan Zee terlihat sangat antusias. Mean, Plan, Mark, dan Gun akan bergabung, memastikan liburan mereka penuh dengan canda tawa.

Setelah selesai makan, Perth menggenggam tangan Zee. "Hari ini, kau hanya perlu bersiap. Kita akan bersenang-senang. Aku tidak ingin melihatmu merasa lelah atau sedih, Bunny."

Zee mengangguk penuh semangat. "Zee janji akan bersenang-senang!"

Perth tersenyum puas. "Itulah yang ingin kudengar."

Beberapa jam kemudian, semua sudah bersiap untuk keberangkatan. Perth memastikan barang-barang Zee sudah lengkap, termasuk stok susu favoritnya. Di luar apartemen, mobil Perth sudah menunggu, dengan Mean, Plan, Mark, dan Gun yang baru saja tiba.

"Astaga, akhirnya kalian keluar juga! Apa Zee membutuhkan waktu satu jam hanya untuk memilih pakaian?" canda Mean, yang langsung disambut tatapan tajam dari Perth.

"Mean, jika kau terus berbicara seperti itu, aku akan meninggalkanmu di sini," balas Perth santai, membuat Plan tertawa.

Zee hanya tersenyum kecil, merasa sedikit malu karena memang butuh waktu lebih lama untuk bersiap. Gun, yang berdiri di samping Mark, mengamati Zee dengan tatapan tajam yang tak lepas darinya.

"Gun, berhenti menatap seperti itu. Kau terlihat seperti detektif yang sedang mencari bukti," ujar Mark sambil menepuk pundak Gun.

"Aku hanya memastikan tidak ada yang aneh," jawab Gun singkat, tapi pandangannya tetap mengarah pada Zee.

Perth, yang memperhatikan, langsung berjalan mendekati Zee dan berdiri di depannya, seperti sengaja menghalangi pandangan Gun.

"Sudahlah, kita berangkat sekarang," ujar Perth tegas.

My Little Brother Is My Daddy || PerthZeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang