Setelah selesai sarapan, Perth mengajak Zee berjalan-jalan di tepi pantai. Angin pagi yang sejuk dan suasana tenang membuat momen itu terasa begitu spesial. Zee menggandeng lengan Perth, menikmati setiap langkah mereka di atas pasir yang lembut.
"Perth, kadang aku berpikir, hidup seperti ini saja sudah cukup. Tidak ada yang lebih penting selain momen seperti ini," ucap Zee dengan suara lembut.
Perth tersenyum dan menatapnya. "Kalau itu membuatmu bahagia, aku akan melakukan apa pun untuk memastikan kau selalu merasa seperti ini."
Zee hanya tersenyum kecil, menundukkan kepala sambil menggenggam lengan Perth lebih erat. Momen mereka terasa begitu damai, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Namun, keindahan itu mendadak terhenti ketika ponsel Perth bergetar. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat layar dengan raut serius.
"Maaf, aku harus angkat ini," ujar Perth, menatap Zee dengan sedikit rasa bersalah sebelum menjawab panggilan.
Perth melangkah sedikit menjauh agar pembicaraannya tidak mengganggu, tapi Zee tetap memperhatikan ekspresi serius di wajahnya. Perth terlihat berbeda dari biasanya, fokus dan penuh ketegasan.
"Ya, katakan" ucapnya.
Di seberang telepon, suara dari pihak perusahaan terdengar mendesak. "Tuan Perth, kami menghadapi masalah mendadak. Salah satu klien besar kita mengubah syarat kontrak, dan ada potensi kerugian besar jika tidak segera ditangani. Kami membutuhkan keputusan Anda sekarang."
Perth menghela napas panjang. "Baiklah. Kirimkan semua dokumennya ke email saya, dan siapkan panggilan konferensi dalam satu jam."
Setelah menutup telepon, Perth kembali dengan raut wajah sedikit tegang. Zee langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
"Perth, apa ada masalah besar?" tanya Zee dengan suara lembut, mencoba memahami situasinya.
"Iya, ini soal perusahaan. Ada sesuatu yang harus segera aku tangani," jawab Perth sambil menggenggam tangan Zee.
"Kau pergilah. Aku tahu ini penting. Jangan pikirkan aku, aku akan baik-baik saja di sini," balas Zee sambil tersenyum untuk menenangkannya.
Perth menatapnya, ragu. "Aku tidak suka meninggalkanmu sendirian."
"Aku tidak sendiri. Ada yang lain di vila. Jangan khawatir," kata Zee sambil mengelus lengan Perth, meyakinkannya. "Aku akan menunggumu kembali."
Perth akhirnya mengangguk. Ia mendekat, meraih kedua tangan Zee, dan menatap dalam matanya. "Aku tidak akan lama. Kau tunggu aku, ya?"
Zee hanya mengangguk pelan, dan sebelum beranjak, Perth mengecup lembut keningnya. "Aku pergi dulu. Aku janji akan cepat kembali."
Zee terdiam, merasakan kehangatan dari ciuman Perth yang singkat namun penuh makna. Ia menatap punggung Perth yang perlahan menjauh, berharap masalah di perusahaan itu segera selesai.
Di vila, Perth langsung fokus menyelesaikan panggilan konferensinya. Meski suaranya terdengar tegas, pikirannya tetap melayang ke pantai, membayangkan Zee yang sedang menunggunya. Hal itu memotivasinya untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.
....
Setelah panggilan selesai, Perth kembali ke pantai, menemukan Zee sedang duduk di atas pasir, memainkan kerang-kerang kecil yang ia kumpulkan. Ia berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Maaf sudah meninggalkanmu," ucap Perth dengan nada penuh penyesalan.
Zee menoleh dan tersenyum kecil. "Tidak apa-apa. Aku tahu itu penting. Apa semuanya sudah selesai?"
"Sudah," jawab Perth sambil menarik napas lega. Ia meraih tangan Zee dan menggenggamnya erat. "Sekarang waktuku sepenuhnya untukmu."
Zee mengangguk, merasa lega melihat Perth sudah kembali. Perth mendekat, memiringkan kepalanya, dan menyentuh hidung Zee dengan hidungnya. "Kau tahu, sepanjang panggilan itu, aku hanya bisa memikirkan satu hal."

KAMU SEDANG MEMBACA
My Little Brother Is My Daddy || PerthZee
RomancePerth Tanapon Zee Pruk Menentang hukum PerSEMEan