"Stellar?"
Willona atau akrab dipanggil Lona, gadis manis yang baru saja memasuki usia 16 tahun dan sudah menyelesaikan pendidikannya di bangku SMP. Sebenarnya Willona sudah memilih di SMA mana ia akan bersekolah selanjutnya, bermodal otak cerdas serta keyakinannya, Willona yakin akan diterima. Namun kenyataannya tidak sejalan dengan ekspektasinya, ia gagal.
Hal ini tidak hanya mengejutkan Lona namun juga teman-temannya yang sangat paham bagaimana cerdasnya Lona dalam hal akademik.
Akan tetapi hal yang lebih membuat Lona bingung adalah respon kedua orang tuanya yang tetap tenang meski putrinya tidak diterima di sekolah terbaik. Keduanya justru meyakinkan Lona bahwa akan ada sekolah yang lebih baik untuk Willona masuki.
"Stellar High School?" Lona menatap kedua sosok orang tuanya yang biasa ia panggil Ayah dan Bunda.
"Iya sayang." Bundanya tersenyum hangat padanya, "Itu sekolah barumu. Ayah dan Bunda sudah mendaftarkan Lona di sana."
"Tapi Lona tidak tahu ini sekolah apa Bun."
"Percaya saja," Imbuh sang Ayah, "Bunda sudah pilihkan yang terbaik untuk Lona dan Lona sudah mendapat beasiswa penuh di sana. Ayah yakin Lona akan betah nantinya di sana."
"Tapi ini kan jauh Yah dari rumah?!" Lona membaca sebuah lembaran brosur mengenai sekolah barunya, "Dan... Asrama?!" Lona menatap Ayah dan Bundanya, "Lona harus tinggal di asrama?!"
"Iya peraturannya seperti itu, tapi di sana nyaman kok sayang," Sang Bunda berusaha meyakinkan, "Lona mau ya? Bunda yakin kok Lona akan senang di sana. Dan juga nantinya, ada banyak hal yang Lona akan ketahui di sana."
"Apa? Apa yang akan Lona tahu?"
Ayahnya tersenyum mengusap puncak kepala Lona, "Ayah dan Bunda tidak bisa beritahu sekarang, alangkah baiknya nanti Lona yang mengetahuinya sendiri. Lebih baik sekarang Lona persiapkan diri saja, untuk barang semua sudah disiapkan Bunda tadi saat Lona sedang di sekolah. Besok pagi Ayah akan antar Lona ke sekolah baru."
Willona hanya diam tidak berniat membantah sedikitpun. Ia ingin protes, namun melihat wajah Ayah dan Bundanya yang sangat mengharapkannya masuk ke sekolah pilihan mereka, membuat Willona urung niat untuk lanjut melontarkan protesnya.
"Lona pamit ke kamar dulu ya Yah, Bun. Lona mau istirahat dulu." Lona segera beranjak ke kamarnya.
Benar saja apa yang Ayahnya katakan, saat masuk ke kamar, seluruh barang Lona sudah dipindahkan ke dalam koper besar yang diletakkan di tengah kamar. Jumlahnya ada tiga koper dan beberapa kardus kecil.
"Aku mau pindah sekolah apa pindah rumah sih?" Lona bergumam menatap kamarnya yang sudah hampir kosong, Lona memilih tidak peduli dan masuk ke kamar mandi.
Yang ditinggalkan di kamar hanya beberapa keperluan untuk malam ini dan besok pagi seperti pakaian.
Setelah makan malam, Lona memilih segera tidur.
Paginya, Lona bangun cukup awal untuk mempersiapkan beberapa hal yang belum terbawa. Lona baru keluar kamar saat Ayahnya datang ke kamarnya untuk membantu Lona mengangkat semua barangnya.
Begitu semua sudah masuk ke mobil, mereka pergi mengantar Lona ke sekolah barunya.
Letak sekolah baru Lona cukup jauh dari rumahnya karena berada dipinggiran kota.
Hingga sekitar dua jam perjalanan, sampailah di tujuan. Mobil masuk melewati gerbang dengan tulisan nama sekolah diatasnya sangat besar dan terbaca jelas oleh Lona
STELLAR HIGH SCHOOL
Terlihat cukup banyak calon siswa yang datang membawa beberapa koper besar seperti yang dilakukan Lona.
"Lona baik-baik ya di sini dan jaga kesehatan. Ayah dan Bunda akan selalu sayang Lona sampai kapanpun. Nanti saat bertemu lagi, jangan marah pada Ayah dan Bunda ya sayang." Pesan sang Bunda yang terdengar sedikit aneh ditelinga Lona.
Setelah berpamitan, Lona membawa salah satu koper sedangkan koper lainnya dibantu bawa oleh dua pria yang mengaku sebagai karyawan sekolah untuk membantu membawa bawaan siswa. Dan memang seperti yang dilihat, beberapa siswa lain juga mendapat bantuan membawakan barang mereka.
Seluruh siswa baru berkumpul di sebuah aula, namun ada satu sosok yang menarik perhatian Lona. Seorang laki-laki yang terlihat berdiri tak jauh dari panggung sedang berbicara dengan seorang wanita dewasa. Karena jarak yang cukup jauh sehingga tidak terlalu jelas wajahnya namun Lona merasa familiar pada laki-laki itu.
Fokus memperhatikan membuat Lona tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya disadari oleh sosok itu. Laki-laki itu mendadak membalas tatapan Lona membuat Lona terkejut dan langsung membuang tatapannya ke arah lain.
'Astaga kaget!' Batin Lona. Lona merasa jantungnya berdegup cukup cepat karena serangan barusan. Ada rasa kaget bercampur malu karena ketahuan memperhatikan orang yang belum dikenalnya.
Acara pembukaan dimulai dan dipimpin oleh seorang wanita yang tadi mengobrol dengan laki-laki yang diperhatikan Lona. Lona tidak berniat mencari laki-laki itu lagi karena takut akan kembali tertangkap basah.
Usai pembukaan, dua orang pria yang tadi membantunya kembali membawakan barang Lona dan mengantar Lona ke kamar asrama. Diperjalanan, Lona sibuk memperhatikan suasana sekitar yang terasa nyaman. Fokus Lona teralih saat menyadari dirinya diantar ke gedung berbeda dari siswi lainnya.
"Lho, bukannya ke sana ya asrama putrinya?" Tanya Lona pada kedua pria dihadapannya.
"Neng ikut aja, nanti juga tahu kok."
Karena masih berada dilingkungan aman, Lona memilih percaya. Dan Lona diantar ke gedung lain yang cukup jauh dari asrama siswi yang lain dan berdiri terpisah dari gedung sekolah.
"Ini asrama untuk siswa dan siswi khusus." Jelas salah satu pria begitu mereka berdiri di depan sebuah pintu kayu berwarna krem.
"Siswa siswi khusus?"
"Beasiswa." Lanjut pria itu membuat Lona paham. Kedua pria itu pamit pergi setelah memberikan kunci kamar.
Kamarnya cukup luas dan terasa nyaman, ada tiga tempat tidur dengan nakas masing-masing. Ada kamar mandi dan ruangan khusus untuk pakaian atau biasa disebut walk in closet. Benar-benar terlihat mewah untuk ukuran kamar asrama.
Lona memilih salah satu tempat tidur yang berada dekat jendela. Baru saja dirinya duduk, ada dua siswi yang menyusul masuk dan menempati tempat tidur masing-masing setelah menyapa Lona.
Merekapun saling berkenalan. Siswi pertama bernama Freya Elifaz, siswi kedua bernama Hanessa Gadiel atau lebih senang dipanggil Echa.
"Aku Willona Stewart, panggil saja Lona." Lona ikut memperkenalkan diri. "Kalian juga mendapat beasiswa?"
"Iya," Jawab Echa, "Aku cukup terkejut masuk ke sekolah ini karena tidak pernah mengambil beasiswa di sini."
"Akupun demikian." Timpal Freya. Keduanya menatap Lona.
"Aku juga sama seperti kalian."
"Terasa aneh ya? Selain itu asrama kita juga terpisah dengan yang lain, padahal bukankah biasanya mau beasiswa atau bukan tidak dipisah begini?" Echa menatap kedua teman barunya.
"Ayah dan Bundaku mengatakan nanti aku akan mengetahui sesuatu di sini namun tidak diberitahu." Ucap Lona.
"Aku jadi penasaran." Freya ikut bersuara, "Tidak sabar mengetahui kenapa kita di gedung berbeda."
"Nanti kita coba tanyakan saja pada pihak sekolah."
Lona dan Freya mengangguk setuju akan usulan Echa.
Hari ini mereka memutuskan untuk beristirahat saja di kamar karena masih terasa lelah perjalanan menuju sekolah ini. Dan juga, memang belum ada jadwal untuk melakukan kegiatan apapun di sekolah.
***
Note:
Hai.. Ini cerita baru yang sudah lama kusimpan dan sepertinya sayang jika tidak dipublish.. Jadi semoga saja dapat diterima💜
KAMU SEDANG MEMBACA
Special Class
RomanceWillona sedikit kecewa karena dirinya tidak dapat masuk ke SMA impiannya. Orang tuanya sudah mendaftarkan dirinya di sekolah lain dan mendapat beasiswa. Awalnya Willona menolak, namun pada akhirnya ia menerimanya. Tidak hanya itu, Willona juga harus...
