AKAN DATANG
Hujan tak kunjung berhenti, langit pun nampak semakin menggelap.Sore hari ketika hujan akan sangat nyaman dipandang, membawa aura ketenangan dalam hidup.
Si paras emerald kini sedang mencoba membujuk kakak termudanya, Solar, untuk memaafkannya dimasa lampau.
Walau terlihat telah lama, itu tetap membekas di hati.
Mencoba segala cara namun tak berhasil, namun kini ia yakin bahwa ia akan mendapatkan apa yang ia harapkan selama ini.
"Hah?"
"Hmm, aku tau ini semua adalah salahku, semua cara yang aku gunakan untuk mendapatkan maaf kalian sangatlah sulit. Perasaan bersalah selalu menghantuiku. Kak Solar, aku mohon, maafkan aku. A-aku, aku akan terima semua hal-hal pahit nanti, tapi setidaknya maafkan aku, maafkan aku, kak Solar."
Mereka berdua sempat terdiam beberapa saat.
"Namun, jika kak Solar tak dapat memaafkan ku, tak mengapa itu memang sulit. Memaafkan seorang anak yang ceroboh dan mengakibatkan kecelakaan yang sangat brutal memanglah sangat sulit, tapi... Auch!" Sendu Duri yang secara tiba-tiba merasakan sakit pada kepalanya.
Solar mulai merasa iba atas permohonan adiknya yang sangat sulit ia terima.
"Ergh, tak mengapa, paling tidak aku masih bisa memaafkan diriku...hiks...walau itu sangatlah sulit." Lirihnya tak mampu membendung air mata dan mengusapnya seolah tidak ada apa-apa.
"Mungkin, apa yang aku harapkan tak akan..."
"Terwujud?"
"Hah?"
"Kau mengharapkan itu, Duri? Maaf dari ku atas kejadian bertahun-tahun yang lalu? Aku sudah mengerti itu, Duri. Aku tau itu-"
"Duri!!"
Omongan Solar terpotong karena mendengar kakak sulungnya memanggil nama Duri dengan keras dari arah kamar.
Dengan sigap, Duri langsung meletakkan buah-buahannya dan menghampiri Hali di depan kamar.
Ia merasakan aura yang tidak mengenakkan dari panggilan itu.
Hali keluar kamar dan melihatnya dengan tatapan sangar dan mencekam.
"Apa kau sebelumnya masuk ke kamarku, hah!?" Tuduhnya pada Duri yang tak tau apa-apa.
"Apa? Apa maksudmu, kak?" Tanya Duri keheranan dengan tubuh gemetaran.
"Tidak usah berpura-pura!! Akui saja kau masuk ke kamarku dan mengambil buku harian ku, 'kan!?"
"Buku harian? A-apa maksud kak Hali?"
"Dasar kau tidak tau diri! Berpura-pura adalah hal bodoh yang pernah aku lihat-hah.." Ucapan Hali sempat terpotong. Ia merasa tertegun dengan ucapannya sendiri.
Tak berselang lama, Hali membuyarkan lamunannya dan masuk kembali ke kamar tanpa berkata-kata. Membanting pintu dan terdengar suara kunci diputar.
•••------------------•••
Malam ini hujan badai masih saja menerjang, suara yang dikeluarkan membuat suasana malam menjadi mencekam.
"Aku... Aku masih belum mengerti. Apakah aku benar-benar mengambil buku harian kak Hali? Apa itu benar?" Lirihnya sembari duduk mendekap kakinya di tengah-tengah ranjang.
•••
_Ini sangatlah sulit, tidak ada yang bisa membantuku dari semua itu. Jika pun ada, itu hanya memberiku sebuah pilihan, antara lanjutkan atau hentikan. Ya, akan aku teruskan. Apapun resikonya.._
•••
Solar yang mendengar teriakan dan banting pintu, ia segera menyusul Duri di depan kamar Hali.
Dari kejauhan, nampak Duri diam. Tatapannya kosong. Diam membatu.
"Duri.."
Untuk kali ini Solar memanggil nama adik kecilnya sejak sekian lama hanya diam tak menggubris.
Apakah ia akan merubah sikapnya terhadap Duri.. dari sekian lama ia tak mempedulikannya ketika dimarahi, apa itu mungkin?
Panggilan lirih itu berhasil membuyarkan tatapan kosongnya dan menatap samar kakak termudanya dari ujung kamar.
"Jika ini memang kali pertama aku mendengarmu memanggil namaku, itu akan sangat berharga bagiku..."
Duri kemudian berbalik badan, membuka kunci kamar dan masuk. Mengunci kamar kembali.
•••
_Apa yang kau inginkan dari rumah ini? Sebuah kebahagian? Kasih sayang? Kebersamaan? Itu sangatlah mustahil untuk kau dapatkan dalam waktu yang singkat. Tapi tenang saja, jika kau tidak mendapatkannya, ada yang lain sepertimu yang sedang bermain dengan keterpurukannya._
Buku itu masih menjadi tanda tanya.
-----------------||-----------------
~To be continued to Chapter 7~

KAMU SEDANG MEMBACA
-:| Akan Selalu Ada |:-
RandomKalian merasa bahwa semua masalah akan selesai seiring berjalannya waktu? Ya, itu memang benar. Anak diusia 14 tahun sepertiku, duduk di meja SMP biasanya masalah yang didapat adalah masalah pertemanan, belum termasuk duduk di meja SMA. Ya, masalah...