"Kawaki! Aku curiga padanya! Ya, itu pasti Kawaki!"
"Tidak mungkin! Kawaki bersama kami sejak awal. Bukankah kau sendiri yang mendengar bahwa kami memang berencana mengerjakan tugas bertiga bersamanya."
"Sebab itulah, kalian berdua juga tersangka karena tingkah kalian seperti sekelompok kriminal yang hendak melancarkan aksinya."
Aku hanya diam ketika beberapa anggota akhirnya mulai saling menyerang dengan saling tuduh-menuduh satu sama lain, kali ini mulai kasar. Bukannya tidak mau menghentikan, namun kurasa membiarkan mereka bicara adalah hal terbaik karena aku bisa sedikit-sedikit mengambil kesimpulan dari ucapan mereka.
Rata-rata dari mereka pada awalnya memang lebih banyak membela diri daripada saling tuduh-menuduh. Seperti insiden kematian Metal dan Denki di The Skeld.
Ah, kurasa mengingat kejadian kali pertama bisa membuatku setidaknya terdorong untuk sampai kepada kesimpulan yang sesungguhnya. Ya, kendati agak sesak, tapi aku harus berpikir lagi bahwa pada saat itu, aku tengah berada di ruang administrasi.
Sejak membubarkan pertemuan pertama di The Skeld, dan para anggota mulai berpencar guna menyelesaikan tugas masing-masing, hanya ada aku, Kawaki, Denki dan Tsubaki di ruang meeting, masih duduk di tempat yang sama.
Kami masih di sana sebab Denki merasa bingung dengan tugasnya yang sepertinya tertukar dengan Kawaki. Sementara Tsubaki menunggu giliran untuk bertanya padaku tentang reaktor karena tugasnya didominasi di ruang reaktor.
Tidak ada yang janggal, semua berjalan normal. Kemudian Kawaki dan Denki pergi setelah urusan mereka selesai dan aku membimbing Tsubaki selama lima menit. Setelah selesai, aku memutuskan untuk ke ruang administrasi terlebih dahulu untuk memindai kartu identitas. Di sana ada Sumire dan Shikadai yang sibuk bertengkar kecil tentang data mesin yang harus mereka unduh. Kami hanya terkekeh saat berpapasan dan aku segera mengabaikan mereka karena kupikir itu hanya hal sepele.
Ketika aku mengeluarkan kartu dari saku di belt dan mulai menggeseknya ke mesin pemindai kartu identitas, suara trompet berbunyi nyaring dari arah belakang pesawat. Suaranya membuatku terpaku. Hanya satu yang ada di pikiranku saat itu, ada apa?
Trompet digunakan hanya pada saat situasi darurat. Entah terjadi sesuatu atau pemberitahuan untuk segera berkumpul ke tempat di mana trompet tersebut dibunyikan. Semua astronaut untuk misi ini memilikinya dan mereka sudah tahu untuk apa kegunaan benda berisik itu.
"Suaranya sepertinya dari gudang, kita ke sana sekarang Kapten?" Shikadai berujar. Aku mengangguk dan pergi bersamanya. Aku tidak sadar Sumire sudah pergi duluan.
"Sumire di mana?" tanyaku.
"Baru saja pergi. Belum ada sepuluh detik sebelum suara trompet dibunyikan."
Aku mengangguk. Kami sampai di gudang dan berpapasan dengan Mitsuki dan Iwabe. Keduanya langsung bertanya padaku tepat saat pandangan mata kami bertemu. Pada akhirnya kami berempat berjalan bersama dan berhenti di kerumunan.
Hatiku merasa bahwa ada yang tak beres di situasi ini, hingga kemudian Boruto mendekat dengan raut pucat dan berbisik di hadapanku. "Metal terbunuh."
Apa?
Hanya satu kata itu yang terlintas di kepalaku ketika Boruto menyingkir guna memperlihatkan bagaimana keadaan Metal dengan posisi telentang dan mulutnya telah mengeluarkan banyak darah. Semua bergeming dengan wajah yang tak kalah pucat dengan mayat berseragam hijau lumut yang tergeletak tak berdaya di lantai masuk ruang elektrik.
"Kenapa bisa b-begini?" Tsubaki menutup mulutnya.
Di saat yang sama, Sumire dan Chouchou juga bergumam. "B-bagaimana b-bisa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Di Antara Kita
FanfictionNASA memberikan tugas untuk lima belas orang pergi ke luar angkasa. Sarada Uchiha terpilih menjadi seorang kapten tim. Mereka bekerja untuk dunia dan semuanya berjalan mulus hingga kasus pembunuhan terjadi berkali-kali di tiap tempat, membuat Sarada...
