Chapter 07

173 28 8
                                        

Boruto memegang erat pergelangan tanganku ketika aku melompat ke dek. Aku nyaris terbawa angin tatkala kedua kakiku tak menapak lantai pesawat untuk beberapa saat tadi, namun Boruto sekuat tenaga menarikku dan langsung memeluk pinggangku ketika aku mendarat.

"Wow, ini seperti terjun payung." kataku.

Boruto terkekeh, lalu Kawaki diikuti Iwabe menyusul untuk melompat. Semua anggota sudah berada di dalam. Kami langsung masuk setelah pesawat Mira HQ terbang menjauh selepas mengirim kami ke Airship.

Beberapa menit menunggu untuk semua orang pulih dari hawa mendebarkan setelah terbang sesaat, aku kemudian memberi arahan untuk segera berkumpul di ruang meeting di lantai atas pesawat. Membagi tugas mereka dan berharap cemas semoga beberapa di antara kami-siapa pun pembunuhnya-tidak akan lagi melanjutkan niat kejinya yang telah membunuh teman-teman kami. Dan ya ... aku tahu itu mustahil, tetapi aku dan yang lain-selain si pelaku tentunya-berharap hidup kami baik-baik saja sampai pulang dari misi luar angkasa ini.

Aku melirik Tsubaki, lalu ia membuat ekspresi seolah mengatakan padaku untuk pelan-pelan mengikutinya. Aku sejenak memandang ke arah Boruto yang sibuk berbicara dengan Shikadai karena tugas mereka hampir sama dan mereka berniat mengerjakan tugas bersamaan.

"Bagaimana kalau kau tetap di sisiku selama kita semua berpencar? Aku seharusnya mencari teman, tetapi mereka semua telah pergi. Kau bisa ikut aku, aku akan mencari Boruto selama pengerjaan tugas. Tetapi kalau harus berpisah karena perbedaan tugas, maka kita akan berpisah." kataku pada Tsubaki setelah dia bilang bahwa dia tidak menyukai ide ini.

Aku tahu ini gila. Kami sudah sepakat untuk tidak lagi berpencar, tetapi semakin cepat pekerjaan selesai, semakin cepat juga kami keluar dari misi ini. Aku bukannya ambil risiko, tetapi Kawaki bilang tidak masalah kami berpencar selagi masih saling bersama tiap tiga orang di satu tempat. Aku awalnya tidak setuju, namun Chouchou dan Boruto-Oh, ayolah, aku tak menyangka pria itu juga akan setuju-membuat semua orang akhirnya memintaku untuk menyetujuinya. Menurutku Boruto itu gila, padahal dia sendiri yang menyarankan agar kami tidak lagi berpencar.

Aku merasa aneh, jujur. Tidak masalah jika kami berlama-lama mengerjakan tugas karena pada dasarnya bersama-sama memudahkan segalanya, jika saling bekerja sama.

Tapi aku tahu, ide Kawaki mungkin benar juga. Seharusnya aku tak perlu khawatir dan harus tetap berpikir positif.

Oh, tapi-atau ... jangan-jangan ... Kawaki?!

"Kapten, bagaimana kalau kita diam-diam mengikuti Kawaki? Dia mengatakannya seolah tidak akan terjadi apa-apa kalau berpencar, seakan dia tahu apa yang akan terjadi. Seperti dia sendiri yang mengaturnya."

Aku tahu, Tsubaki berusaha untuk tidak menuduh Kawaki secara langsung, tetapi kalimatnya terdengar jelas tertuju untuk menekan Kawaki ke dalam posisi tersangka.

"Dan Chouchou, juga Boruto. Mereka yang pertama setuju, aku tidak yakin kalau mereka bertiga sesungguhnya tidak bersekongkol. Tapi semua keputusan ada di Kapten, bagaimana? Tapi aku pribadi mencurigai mereka. Oh, termasuk Sumire." kata Tsubaki setelah sepuluh detik dan kami tak kunjung turun untuk keluar dari ruang meeting guna mengerjakan tugas di tempat lain.

Kemudian aku mengajak Tsubaki turun tanpa menjawab perkataannya. Namun aku memikirkannya.

Sebuah elevator yang mengarah ke ruang arsip tepat berada di dekat kami. Hanya satu orang yang bisa naik. Aku bertanya pada Tsubaki, ke mana tujuan tugasnya kali ini. Dia bilang ke ruang besi-kubah-yang berada tepat di seberang sana. Aku tersenyum melambai padanya karena tugas kami berbeda, karena aku akan ke ruang arsip.

"Kapten, jangan berpisah denganku. Tolong ikut aku dulu, dan aku berjanji akan menemanimu di mana pun tugasmu berada. Bukankah seharusnya kita bertiga, kita akan mencari Boruto bersama." Tsubaki memohon dan memelas. Tentu saja aku tak bisa dengan mudah menuruti permintaannya. Hei, aku ketuanya, dan aku harus adil dengan yang lain. Kendati awalnya aku memang meminta dia untuk mengikutiku. Tapi idenya benar juga. Shit! Aku telah menjadi lelet berpikir begini.

Di Antara KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang