Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumahku surgaku.
Kata kiasan itu sangat Evelyn benci, baginya kata-kata itu hanya bualan belaka. Sebab bagaimana mungkin ia dapat menyebut rumahnya sebagai surga, surganya penderitaan yang ada. Karena ia tak pernah merasakan kenyamanan saat berada didalamnya, bahkan ia selalu menyebut tempat pulang yang selalu mereka sebut sebagai rumah adalah neraka baginya.
Bukan kehangatan yang ia rasakan, tapi penderitaan yang selalu ia dapatkan.
Baginya tempat pulang dan beristirahat bukan sebuah bangunan yang mereka sebut rumah, justru tempatnya pulang adalah Fabian. Fabian yang membuatnya nyaman, Fabian yang selalu bisa membuatnya tertawa dan Fabian yang selalu ada untuknya dikala ia lelah.
Juga Rexy. Rexy adalah salah satu alasan ia tetap semangat menjalani hidup. Evelyn tak tau apa jadinya jika tak ada Rexy selama beberapa tahun ini. Sebab sebelum ia menjadi dekat dan berpacaran dengan Fabian, Rexy adalah prioritasnya.
Mereka berdua adalah tempat paling nyaman untuk beristirahat, sebab rumah tidak selalu berbentuk bangunan. Kadang kala seseorang juga bisa menjadi rumah bagi orang lain dan nyatanya keluarga tak sepenuhnya memberi kenyamanan dan kebahagiaan. Sehingga ia mencari sumber bahagia dari orang yang berbeda. Orang yang sama sekali tak memiliki ikatan darah dengannya.
Dan disinilah Evelyn berada, di rumah Rexy. Rumah yang sedari dulu penghuninya selalu menyambut kedatangannya dengan hangat tanpa adanya umpatan atau suara benda yang pecah akibat dilempar oleh seseorang.
Satu alasan ia datang ketempat ini adalah ia hanya ingin melihat sebuah senyum hangat yang ditujukan untuk dirinya. Tapi bukannya Evelyn bisa saja berkunjung ke rumah Fabian dan mendapatkan perlakukan yang sama?
Mungkin. Tapi ia tak ingin berbagi kesedihan dengan kekasihnya. Lelaki itu sudah sangat terbebani oleh dirinya dan ia tak mungkin menambah beban yang ada.
Makanya ia datang kesini, ketempat seorang wanita yang selalu menampilkan senyuman hangat walaupun tubuhnya tak lagi sesehat dahulu.
"Bunda, apa kabar?" Sapa Evelyn pada wanita paruh baya yang merupakan ibu Rexy. Ia mencium tangan wanita itu lalu memeluknya. Saat pelukannya dibalas, ia selalu merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan dari kedua orang tuanya selama belasan tahun.
"Ya beginilah nak" jawab bunda Rexy seadanya.
"Bunda masih rajin check up kan?"
"Awalnya susah banget, tapi setelah lo bilang ke bunda harus rajin check up, bunda jadi mau dan nurut buat selalu check up" bukan sang bunda yang menjawab, melainkan sang putra yang menjawabnya.