Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lelaki pemilik senyum dengan lesung pipi kebanggaannya.
° ° °
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah kejadian semalam, Evelyn merasa ada yang aneh dengan Alain. Dari mulai tiba-tiba meminta maaf lalu lelaki itu meminta ditemani oleh sang adik. Sedikit janggal memang, pasalnya selama belasan tahun Alain tak pernah seperti ini. Bahkan sedari Evelyn masih kecil, Alain tak pernah peduli padanya, selalu mengacuhkannya dan terkadang menyakitinya baik secara fisik maupun mental.
"Kamu ngerasa ada yang aneh gak sih Bi?" Fabian yang menyandarkan kepalanya di kursi langsung boleh dan mengangkat pandangannya.
"Mungkin kakak kamu dapet hidayah, jadi tiba-tiba baik sama kamu" celetuk Fabian membuat Evelyn menggeleng samar.
Entah apa yang ada dalam pikiran Evelyn, bukannya ia merasa senang atas perlakuan sang kakak yang mulai baik padanya justru ia merasa akan ada sesuatu hal terjadi padanya. Memang hanya firasat saja, tapi hatinya benar-benar gundah.
"Kamu gak ngantuk?" Tanya Fabian yang sudah menguap beberapa kali. Evelyn tersenyum, lalu mengangguk. "Ya udah sini nyender di bahu aku" perlahan Fabian menyandarkan kepala Evelyn di bahunya. Lalu memeluk gadis itu, "lebih nyaman begini atau mau tidur dipangkuan aku?"
Evelyn mendongakkan wajahnya, ia menatap wajah Fabian dari samping. "Begini aja udah nyaman kok, Bi" Evelyn pun membalas pelukan hangat itu, Fabian tersenyum lalu mengecup kening Evelyn lama.
Bertapa beruntungnya dia bisa mendapatkan hati Evelyn. Walaupun awalnya selalu mendapat penolakan bahkan hingga bertahun-tahun lamanya. Tapi pada akhirnya gadis yang sangat ia cintai itu dapat membalas cintanya.
Fabian hanya ingin seperti ini. Seperti ini setiap saat, bahkan ia rela memberikan semua waktunya untuk gadis tercintanya itu.
"Jangan tinggalin aku ya Vel"
"Emangnya aku mau kemana?" Suara lembut Evelyn tepat ditelinga Fabian.
Fabian tersenyum, lesung pipinya kembali muncul. "Ya aku takut aja, nanti tiba-tiba kamu jauhin aku terus ninggalin aku. Kan gak lucu, Vel"