Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Evelyn membuka matanya perlahan, ia memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit sambil memandang ke sekeliling.
"Dimana ini?"
Evelyn merasa sangat asing dengan tempat itu. Kenapa ia bisa berada disini, disebuah kamar yang entah milik siapa.
Saat Evelyn hendak bangun, tiba-tiba pintu terbuka menampilkan seorang lelaki yang nampaknya ia kenal. Setelahnya lelaki itu mengunci kembali pintu kamar tersebut.
Ketika membalikkan tubuhnya, Evelyn berteriak kecil membuka si lelaki itu menyadarinya.
"Hei, udah bangun ternyata" ucapan sambil berjalan mendekat kearah Evelyn, Evelyn pun refleks memundurkan tubuhnya.
"Ngapain Kak Alby disini?"
Alby tersenyum miring. "Menurut kamu?" Alby semakin mendekat kearah Evelyn membuat Evelyn sangat ketakutan.
"Kak jangan macem-macem ya, kalo enggak aku bakal teriak" ancam Evelyn yang justru ditanggapi dengan kekehan oleh Alby.
"Silakan, tapi usaha kamu akan sia-sia. Karena disini kedap suara"
Evelyn menggeleng, apalagi saat Alby semakin mendekat kearahnya memberanikan diri mulai menyentuh Evelyn. Mulai dari membelai serta mengendus aroma rambutnya, hingga lelaki itu mengelus pipi serta rahang bawah Evelyn, dengan gerakan lambat penuh penghayatan.
"K-kak Al-by m-mau ngapain?" Evelyn mulai gelagapan dan seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.
Napas Alby yang terasa sangat berat menerpa wajahnya, membuat Evelyn merinding panas dingin.
"Hanya sedikit bermain-main" entah apa yang terjadi pada lelaki itu, tapi suaranya terdengar serak dan berat serta wajahnya sangat beringas.
"Ma-maksudnya?"
Alby bersmirk, sebenarnya ia merasa kesal dengan gadis dihadapannya itu. Menurutnya Evelyn sangat cerewet sehingga ia ingin menerkamnya secepat mungkin.
"Kakak sengaja nunggu kamu sadar dulu, biar kita bisa sama-sama menikmati"
Menikmati? Apa maksudnya? Evelyn benar-benar tak paham dengan arah pembicaraan lelaki itu.
Evelyn sangat ingin kabur dari sana, tapi sangat sulit sebab Alby mengukungnya bahkan untuk bergerak pun ia sangat kesulitan.
Alby kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Evelyn, membuat napas lelaki itu bisa Evelyn rasakan diwajahnya. Lelaki itu memandang lekat-lekat lekuk wajah Evelyn, sampai matanya tertuju pada bibir gadis itu. Perlahan Alby memejamkan matanya, jarak antara wajah keduanya hanya tinggal beberapa inci saja.
Evelyn membulatkan matanya tak percaya, tapi ia tak boleh panik dan tak boleh menyia-nyiakan kesempatan.
Walaupun wajah Alby semakin mendekat ke arah Evelyn, tapi matanya terpejam membuat Evelyn punya sedikit peluang untuk kabur.