Don't forget to save this story to your reading list.
° ° °
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Almira dan Alby berjalan terburu-buru menyusuri lobi demi lobi serta ruangan demi ruangan di salah satu rumah sakit. Entah apa yang sudah terjadi pada putra bungsunya.
"Adek kamu kenapa sih kak? Perasaan tadi masih baik-baik aja"
"Musibah mana ada yang tau sih ma"
Saat mereka sampai di depan sebuah ruangan, saat itu pula seorang dokter baru saja keluar dari ruangan itu. Dengan tergesa-gesa Almira dan Alby mendekati dokter itu.
"Dok gimana keadaan putra saya?"
"Fabian baik-baik saja, hanya saja kekebalan tubuhnya menurun akibat dari ia yang tak mau melakukan kemoterapi pertamanya"
Almira menggelengkan kepalanya tak percaya, sedangkan Alby memegangi bahu sang mama takut-takut wanita itu terjatuh kapan saja setelah mendengar penuturan dokter.
"Apa sangat berpengaruh pada kondisi Bian dok?"
"Ya, maka dari itu harus segera dilakukan kemoterapi secepatnya. Jika tidak, akan sangat berbahaya pada kondisi Fabian."
"Saya akan membujuk adik saya untuk segera melakukan kemoterapi" balas Alby sambil tangannya tak lepas dari memegangi sang mama.
"Baiklah kalau begitu saya permisi"
Setelah dokter pergi dari hadapan mereka, lantas Almira dan Alby pun masuk kedalam ruangan yang terdapat Fabian didalamnya.
Mereka berjalan perlahan agar tak membangunkan Fabian, tapi usaha mereka gagal karena Fabian ternyata membuka matanya perlahan.
"Ma, kak"
"Iya, sayang. Mama sama kakak di sini"
Fabian pun berusaha tersenyum walaupun dengan kondisinya yang sangat lemah.
"Mana yang sakit, nak?"
Fabian menggeleng, "Bian gak pa-pa kok ma, tapi-"
Almira mendongak. "Kenapa?"
"Tapi tadi Vely liat aku mimisan" ucap Fabian sedih. "Vely gak boleh tau kalo aku sakit, ma"
Almira terdiam. Entah, ia tak tau harus menjawab apa pada putranya. Tapi ia tersenyum kearah putranya itu, lalu mengusap surai legam milik Fabian.
"Ma?"
"Iya, Bian. Mama disini"
Fabian meraih tangan sang mama, entah apa yang akan ia lakukan membuat Alby memperhatikan mama dan adiknya itu.
"Bian bakal sembuhkan?"
Almira terdiam, ia menoleh pada si sulung. "Pasti, kamu pasti sembuh"