Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sore itu suasana di rumah singgah lumayan ramai. Hiruk pikuk pengunjung membuat gadis berwajah cantik itu jengah. Keramaian yang selalu membuatnya merasa semakin benci dengan suasana itu.
Rumah singgah?
Bukan rumah singgah seperti hotel atau penginapan yang menyuguhkan ketenangan yang seperti kalian pikirkan. Yang dimaksud adalah sebuah cafe dengan nama rumah singgah. Mungkin nama itu dibuat hanya untuk sekedar menarik para pengunjung. Atau memiliki makna tempat singgah disaat seseorang lelah dan ingin istirahat sejenak.
Lucu sekali. Semudah itu mereka mendeskripsikan tentang rumah. Ya walaupun hanya untuk persinggahan sejenak.
"Ngelamun?"
Gadis cantik itu tersadar. Pikirannya yang menerawang jauh entah kemana itu buyar seketika tergantikan oleh senyum manis dari remaja laki-laki yang sedari tadi ada dihadapannya.
"Mana ada" sanggahan dari gadis itu membuat si remaja laki-laki menggeleng samar.
"Terus apa namanya kalo bukan ngelamun, Vel? Bengong?"
"Apa sih, Ky" gadis bernama Evelyn itu tertawa paksa.
"Abisnya lo diem mulu dari tadi"
"Terus gue harus gimana?"
Bukankah gadis itu yang memintanya untuk datang dan menemaninya ditempat ini? Ingin bercerita pada dirinya adalah alasan gadis itu sehingga meminta untuk di temani.
Remaja laki-laki itu tau jika seorang Michelle Evelyn Freedychia tengah ada masalah. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang muram. Ia ingin sekali menanyakan apa masalah yang gadis itu hadapi. Tapi ia tak berani dan ia juga tak mau mencampuri urusan gadis itu. Tapi jika gadis itu mau, ia akan bersedia mendengar keluh kesahnya. Bahkan menjadi badut penghibur untuk menghilangkan kesedihan gadis itu pun ia sangat bersedia dan akan dengan senang hati membuat gadis dihadapannya tertawa. Sayangnya ia paham betul, Evelyn tak suka jika seseorang berniat ingin menghiburnya
"Vel"
"Hm?"
"Gue harus apa biar lo gak murung kayak gini?"
Gadis itu tersenyum sekilas. Senyuman yang hanya dipaksakan.
"Lo ada disini nemenin gue aja itu udah cukup" jawab si gadis.
"Tapi gue juga pengen jadi sahabat yang berguna di keadaan kayak gini buat lo" lebih dari sekedar sahabat pun ia sangat bersedia, sebab menjadi seseorang yang spesial bagi gadis itu adalah keinginannya sedari bertahun-tahun dulu.
"Lo berguna, Ky. Berguna banget kok. Cuma gue lagi gak pengen cerita."
Lantas apa guna dirinya ada bersama gadis itu?
Remaja bernama Rexy Chloe Rafendra itu hanya tersenyum miris. Mau seberapapun besarnya usaha untuk mendekati dan menjadi berguna untuk gadis bernama Evelyn itu, semakin sulit pula mengambil hatinya.