Hari-hari berlangsung dengan cepat, Harry merasa sangat bahagia dan beruntung bisa tiba diSekolah ini dengan selamat. Lambat laun, Harry mengerti dan paham kenapa dia bisa selamat dari tembakan pria botak itu. Itu karena dia adalah seorang mutan, yang gennya berbeda dengan gen milik manusia biasa. Harry punya kekuatan super. Dia bisa membekukan apa saja. Itu sebabnya, pada malam itu, dia tidak tertembak dan malah mengakhiri hidup pria botak dengan membekukan hati dan seluruh darahnya.
Harry mengenal satu lagi anggota dalam sekolah itu yang bergabung dan berteman baik dengannya, Louis dan Liam. Cowok itu adalah Niall Horan. Awalnya tidak ada ada yang mau berkenalan dengan cowok pirang dari Irlandia itu. Semua menganggapnya terlalu diam tapi ketika Harry pindah kamar bersama Niall, dia mengenal cowok itu. Memperkenalkannya pada Louis dan Liam dan akhirnya mereka teman baik.
"Horan, Styles, Tomlinson, Payne. Apa yang sedang kalian lakukan disana?"
Harry terkejut bukan main, dia yang satu-satunya selalu takut jika ketahuan membolos kelas. Bergaul dengan Louis, sama saja bergaul dengan pemberontak. Louis terkenal badung dan pintar, tapi itu dia masalahnya, Louis tidak pernah bisa untuk diatur. Dia selalu melanggar peraturan.
"Uhm, uh.." Harry berbalik dan mencolek Louis dan Niall. Liam ikut berputar dan mereka menghadap Ms.Grey.
"Jelaskan padaku." Ms.Grey menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Kami hanya--" Liam berusaha menjelaskan dan Ms.Grey mengangkat tangannya dan menggeleng.
"Aku tau, kalian berempat adalah tipe anak-anak badung. Terserah. Kalian seharusnya masuk kelas apa?"
Harry menelan ludah mengingat seharusnya dia masuk kelas Proff.Logan yang seram itu.
"Wow, Styles. Kau tampaknya tau, dikelas mana kalian berempat seharusnya berada. Mau memberi tau aku?"
"Kelas.... kelas Profesor Logan."
Ms.Grey mengangguk dan menyimpul sebuah senyum, "Cepat masuk kesana atau aku akan melaporkannya pada Profesor X."
Harry terkejut begitu melihat Louis yang pertama kali berlari kearah kelas Prof.Logan. Ada rasa senang dan bingung melihat Louis, si pemberontak, berlari lebih dulu untuk menuruti perintah.
"Louis! Aku fikir kaulah ketuanya!" teriak Liam sewaktu mereka berlari bersama-sama menuju kelas Prof.Logan.
"Yeah, memang aku. Tapi kalau Ms.Grey sudah bawa-bawa Profesor X, aku bisa jadi anak baik!"
Niall tertawa dan Harry hanya tersenyum. Mereka sampai dengan selamat dikelas Prof.Logan tapi pria itu tidak menyambut mereka dengan senyuman, seperti biasa dia menggeleng dan berkata, "Sial. Kalian lagi, cepat letakan pantat kalian di salah satu bangku dan letakan mata dan otak kalian dikelasku."
***
Harry berjalan didepan, sementara Liam dan Niall bercanda dibelakang dan Louis sibuk mencoret-coret buku catatannya dibelakang. Mereka semua berbaur bersama anak-anak lain disekolah ini. Harry sudah mengenal beberapa diantara mereka yang kamarnya bersebelahan dengannya atau yang berada dikelas yang sama. Mereka orang-orang baik.
"Cepat! Cepat!"
Harry mencari sumber suara yang terdengar familiar itu. Suara Ms.Storm. Wanita itu memeluk sosok anak laki-laki seusia Niall atau Liam. Dengan pakaian serba hitam dan rambut hitam legam. Harry tidak melihat wajahnya tapi Harry penasaran kenapa anak itu terlihat begitu lemas. Tudung hitamnya menghalangi Harry untuk mengetahui siapa yg ada dibaliknya.
Semua anak berhenti untuk melihat Ms.Storm menggotong anak asing itu kedalam ruang kepala sekolah. Kedalam ruangan Profesor X. Ketika pintu ditutup, Proff.Summer keluar dari sana dan berkata. "Sedang apa? Ayo lanjutkan pelajaran kalian!"
