4. What happened with him?

7.9K 410 4
                                    

“Ikut gue!” Sentaknya hendak menarikku paksa lagi

"GAK." bentakku menyalang

"Ck! Ikut gue, atau lo akan menyesal karena nolak ajakan gue!" Desaknya mengancam

Aku menghempaskan tangannya dalam satu hentakkan kasar, jangan harap setelah kejadian kemarin aku akan menurut patuh pada kemauannya.

"Bro, lo jangan maksa gitu dong!" Dirly pun turun tangan membelaku

"Gue. Gak. Ada. Urusan. Sama. Lo" Desis Esa penuh penekanan.

Lalu tanpa aba-aba lagi dia pun kembali menangkap tanganku lebih kasar dari sebelumnya.

"Aduh!" Aku mengaduh, apalagi saat dengan seenaknya dia menyeretku hingga menjauhi Dirly

Aku menoleh pada Dirly di tengah penyeretan paksa yang dilakukan cowok sialan ini, meminta bantuan dari sorot mataku agar setidaknya dia melakukan sesuatu untuk melepaskanku dari cekalan si senior kejam ini.

Namun rupanya, Dirly sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda untuk bertindak membantuku.
Ayolah Dirly, help me! Tatapku memelas dalam seretan langkah yang semakin cepat.

Aku lantas termangu ketika kepala Dirly justru malah bergeleng pelan diiringi dengan gerakan mulut tak bersuaranya, 'Sorry, gue gak bisa bantu..’Seperti itulah kiranya yang aku tangkap.

Aku tidak mengerti, ada apa dengan Dirly? Kenapa dia seolah takut dan tidak mau berurusan dengan senat kejam ini, bahkan dia menolak untuk menolongku yang sudah diculik terang-terangan oleh si kejam ini meski tepat di depan matanya. Sangat mengecewakan..

“LEPASIN GUE COWOK SIALAN!" teriakku masih berusaha meronta

"Gue gak akan lepasin lo, selama lo berani ngebantah kemauan gue kayak tadi" Ujarnya datar seraya mengeratkan cekalannya di pergelangan tanganku.

Ya Tuhan! Apa sih yang ada di otak makhluk ini?

Kenapa sifatnya begitu jauh berbeda dari kedua orangtuanya yang ramah dan baik hati. Tidak kusangka, tante Netha dan om Gaga yang mempunyai sisi positif lebih dominan justru malah melahirkan seorang anak lelaki yang mempunyai sisi negatif paling banyak. Huft..

Sampai akhirnya, si kejam pun menghentikan langkahnya tepat di sebuah bukit yang cukup luas nan hijau—menyegarkan pandangan. Sesudah lelah meronta, aku mengedarkan penglihatan ke sekeliling. Bukan sedang mengagumi tempat yang asri ini, melainkan berusaha untuk mencari jalan agar bisa melarikan diri dari si kejam ini.

Namun nihil!

Tidak ada satu jalan pun yang bisa kulalui dengan cara berlari. Bukit ini jalannya terlalu curam, dan kalau aku memaksakan diri untuk tetap berlari maka aku tidak yakin kalau aku bisa melaluinya dengan lancar tanpa hambatan.

“Cape?” tegurnya sok peduli

Aku lantas meliriknya dengan sengit,"Ngapain sih lo bawa gue ke sini?" tanyaku mengabaikan teguran sebelumnya

Kulihat bahunya terangkat ringan sekilas, "Gue, cuman pengen kita berduaan aja." Cetusnya dengan alis terangkat, dan sukses membuat mulutku menganga.

Apa-apaan? Dia pikir alasannya itu lucu?

"Ck, Tutup mulut lo! Atau lalat bakalan punya kesempatan besar buat bersarang di dalam tenggorokan lo” selorohnya yang seketika membuatku spontan mengatupkan kembali mulut.

Sial! Kenapa sih, lelaki bertubuh jangkung ini sering sekali membuatku kesal. Tidak bisa kah dia bersikap baik dan membuat bibir ini tersenyum tulus karenanya?

Cowok resek itu menghela nafas panjang, mengalihkan pandangannya untuk menatap pemandangan di depan matanya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jeans biru belelnya. Sementara aku, masih bengong sendiri tanpa tau tujuan yang pasti dia membawaku ke sini untuk apa.

This Love (SUDAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang