3. Terpesona

439 88 1
                                        

Aku gak bosen"y ngingetin kalian untuk tinggalkan jejak, entah itu like ataupun koment. Kalau gak, lama", cerita ini bakalan aku stop di update. Jadi mari saling nenghargai, oke.

Btw, ada promo untuk buku cetak 69.000 dapat 2. Ayo buruan wa ke aku di no 081917797353. Buat yang udah ikutan, thanks yah. Semoga kalian suka bukunya.

Happy reading



💗💗

Lilly meletakkan belanjaannya di meja dapur, setelahnya ia merapikan dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Memastikan semua sudah tertata rapi dan diletakkan di tempat yang seharusnya.

Meskipun sebelumnya tidak terlalu pandai memasak, tapi sejak tinggal sendirian di London, Lilly belajar memasak. Ia mencari resep di internet dan selalu meluangkan waktu untuk memasak. Bukan karena ia tidak cocok dengan makanan di London, hanya hanya Lilly lebih menyukai makanan rumahan, apalagi masakan sang mama. Menurut Lilly, tidak ada yang bisa menandingi kelezatan makanan sang mama.

Lilly menghela nafas, menatap sekeliling dengan perasaan sedih. Rasanya sangat aneh tinggal sendirian setelah puluhan tahun tinggal bersama kakak dan kedua orang tuanya.

Lilly merindukan mereka, tapi ia juga sadar apa yang saat ini dijalaninya adalah bagian dari perjuangan. Ia tengah berjuang untuk cita-citanya, untuk masa depan yang ingin diraihnya dan Lilly tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih jika ia menyerah sekarang.

Masih terlalu dini untuk menyerah sekarang. Selain ingin mewujudkan impiannya, Lilly juga ingin membuktikan kepada kedua orang tua serta sang kakak kalau ia sudah dewasa dan bisa hidup mandiri.

Bukan karena Lilly merasa terkekang tinggal dengan kedua orang tua serta sang kakak, tapi Lilly sadar bahwa ia tidak selamanya bisa hidup dan berlindung pada mereka. Mau tidak mau, suatu saat nanti, ia pasti akan menjalani kehidupannya sendirian. Jadi mulai sekarang Lilly ingin belajar menghadapi kehidupan diluar sana dengan kemampuannya sendiri.

Awalnya memang sulit, tapi Lilly yakin ia bisa. Ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya terus mengkhawatirkan dirinya. Ia akan belajar hidup mandiri sambil mewujudkan impiannya menjadi dokter anak yang bisa diandalkan.

Lagipula London bukan tempat yang baru bagi Lilly. Ia sudah berkali-kali ke London. Keluarga besar sang papa bermukim di London, jadi jika ada apa-apa Lilly bisa langsung menemui mereka.

Rekan kerja dan teman kuliahnya juga sangat membantu. Mereka semua baik, kecuali beberapa wanita yang terang-terangan tidak menyukainya di tempat kerja. Entah karena apa, Lilly tidak tahu. Tapi itu semua tidak penting. Jika mereka tidak menyukainya itu urusan mereka. Kedatangannya ke Inggris untuk menuntut ilmu, bukan untuk bersenang-senang. Jadi Lilly mencoba memfokuskan diri untuk hal itu.

Lilly bisa saja tinggal bersama keluarga besarnya di Inggris, tapi ia tidak mau merepotkan. Selain itu jarak antara kampus dan rumah sakit dengan rumah keluarga besarnya cukup jauh. Jadi Lilly lebih memilih tinggal di pusat kota meskipun terkadang ia merasa kesepian.

Tidak pernah satu haripun Lilly tidak melakukan panggilan video kepada keluarganya. Ia akan menghubungi keluarganya, memastikan ia bisa melihat wajah mereka meskipun hanya sebentar.

Masa depan membutuhkan perjuangan dan inilah yang saat ini tengah dilakukannya. Ia berjuang untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya.

Setelah memasak untuk makan malam yang akan dimakannya di rumah sakit, Lilly bergegas mandi dan bersiap. Ia memiliki jadwal malam hari ini.

Begitu selesai, Lilly berjalan kaki menuju rumah sakit tempatnya magang. Selain jarak apartemen dan rumah sakit yang tidak terlalu jauh, Lilly juga ingin menikmati jalanan kota London yang selalu ramai setiap harinya. Ia bisa melihat-lihat pemandangan serta berbaur dengan masyarakat banyak.

Lilly (Cinta Sang Earl)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang