4. Kesempatan

390 92 4
                                        

Aku gak bosen"y ngingetin kalian untuk tinggalkan jejak, entah itu like ataupun koment. Kalau gak, lama", cerita ini bakalan aku stop di update. Jadi mari saling nenghargai, oke.

Btw, ada promo untuk buku cetak 69.000 dapat 2. Ayo buruan wa ke aku di no 081917797353. Tersedia pdf jugaya. Buat yang udah ikutan, thanks yah. Semoga kalian suka bukunyaa.




❤❤❤




Michelle menyembunyikan senyumnya melihat reaksi Lilly begitu ia berbalik. Reaksi yang sudah diprediksi sebelumnya. Reaksi yang tidak jauh berbeda dengan reaksi para wanita ketika melihatnya untuk pertama kali.

Hanya Anna yang tidak bereaksi berlebihan ketika mereka pertama kali bertemu. Tapi bukankah ini bukan pertemuan pertama mereka? Mereka bertemu ketika Lilly menabraknya dulu dan sikap Lilly tidak seperti ini. Mungkinkah Lilly tidak mengenalinya? Atau mungkin saat itu Lilly tidak benar-benar melihat wajahnya?

Entahlah. Yang pasti Michelle sedikit kecewa dengan reaksi yang Lilly tunjukkan, tapi ia mencoba mengerti. Lilly dan Anna berbeda. Hanya kemiripan diantara mereka saja yang sama.

"Apa kau dokter yang akan menggantikan Dokter Richard?" Michelle berpura-pura tidak tahu.

Suara Michelle membuat Lilly mengerjap. Ia mencoba fokus dan bersikap professional seperti yang selama ini ia lakukan.

"I... iya. Saya yang menggantikan Dokter Richard untuk melakukan pemeriksaan dasar pada anda, My Lord."

"Kalau begitu, kau bisa memulai tugasmu sekarang," Michelle melangkah kearah ranjang, berbaring terlentang tanpa mengalihkan tatapan dari Lilly yang masih berdiri diam di tempatnya.

Alis Michele terangkat. "Kenapa kau masih berdiri di sana? Apa lagi yang kau tunggu? Haruskah aku menarikmu ke ranjangku agar kau segera melakukan tugasmu?"

Lilly tahu ucapan Michelle tidak bermaksud apa-apa. Tapi entah kenapa ia merasa jika ranjang yang pria itu maksud bukan tempat tidur pasien yang saat ini tengah di tidurinya melainkan ranjang yang sesungguhnya. Dan sialnya hal itu membuat jantung Lilly berdebar aneh.

Tapi pikiran itu berusaha keras Lilly singkirkan. Ia tengah bertugas dan sudah seharusnya ia tidak melibatkan urusan pribadi dalam pekerjaannya.

Dengan cekatan Lilly mulai melakukan tugas sesuai arahan yang sudah dokter Richard tuliskan. Namun tidak sekalipun Lilly menatap Michelle. Ia malu melihat Michelle setelah tertangkap basah menatap pria itu secara terang-terangan. Ketika menyadari Michelle tidak melepaskan tatapan sedikitpun darinya, Lilly juga tidak berani mempertanyakan apa maksud pria itu.

Berada di dekat Michelle membuat Lilly ciut padahal ini bukan kali pertama Lilly bertemu pria tampan. Ia sudah sering bertemu dengan pria tampan. Mantan kekasihnya terdahulu juga tampan. Bahkan Arkaan, sang kakak tidak kalah tampan dengan Michelle. Tapi entah kenapa Michelle membuatnya gugup dan salah tingkah. Sesuatu yang tidak pernah Lilly alami sebelumnya.

Lilly tersentak ketika jarinya tanpa sengaja menyentuh langsung kulit dada Michelle. Ia melepaskan stetoskop yang dipegangnya dan menatap Michelle dengan takut. Wajah pria itu merah. Rahangnya mengeras membuat Lilly semakin takut.

"Maaf, saya tidak sengaja."

Michelle menghela nafas. "Lanjutkan tugasmu dan keluarlah."

"Ba... baik."

Lilly bergegas melanjutkan pekerjaannya lalu merapikan kembali peralatan yang dibawanya.

"Saya sudah selesai, My Lord. Kalau begitu saya permisi. Selamat beristirahat."

Lilly tidak menunggu Michelle menjawab sapaannya. Ia bergegas meninggalkan kamar Michelle sambil berlari. Melihat pria itu yang memejamkan mata, Lilly tahu pria itu tidak akan menjawab pertanyaannya.

Lilly menghembuskan nafas lega begitu berada di luar kamar rawat Michelle. Ia melihat tangannya yang masih bergetar setelah apa yang tidak sengaja dilakukannya tadi.

Lilly tidak mengerti kenapa hanya dengan sedikit sentuhan ia merasa seolah tubuhnya terbakar. Ia seperti seorang wanita yang baru pertama kali bersentuhan dengan seorang pria. Padahal kenyataannya ia pernah berpacaran dengan beberapa pria yang berbeda namun tidak sekalipun ia merasa seperti ini ketika kulitnya bersentuhan dengan para pria itu.

Lalu apa yang dirasakannya tadi? Kenapa tubuhnya terasa panas hanya karena sentuhan tidak di sengaja itu?

Jika Lilly tidak mengerti apa yang dirasakannya, maka tidak dengan Michelle. Pria itu jelas tahu apa yang saat ini dirasakannya dan apa efek dari sentuhan tidak sengaja yang baru saja Lilly lakukan.

Michelle tidak marah dengan apa yang tidak sengaja Lilly lakukan. Ia marah pada dirinya sendiri atas reaksi tubuhnya.

"Sialan!!" Michelle mengumpat. Ia menyikap selimut yang menutupi tubuhnya hanya untuk dihadapkan pada bagian tubuhnya yang menonjol diantara kedua pahanya.

"Brengsek," Michelle kembali memaki. Bisa-bisanya ia bereaksi seperti ini hanya karena sentuhan tidak sengaja dari seorang wanita.

Tidak pernah ada yang bisa membuat Michelle seperti ini selain Anna. Dengan Anna pun ia tidak akan bergairah dengan begitu mudah, tapi kenapa dengan Lilly justru sebaliknya?

Michelle menggeram. Ia tidak tahu jawabannya tapi jawaban yang paling masuk akal adalah fakta jika ia menganggap Lilly adalah Anna. Kerinduan yang dirasakannya pada Anna mendorong reaksi tubuhnya ketika Lilly menyentuhnya. Itu adalah penjelasan paling masuk akal yang bisa dipikirkannya saat ini.

Jika tahu begini efek dari pertemuan mereka, Michelle tidak akan menahan diri selama dua bulan untuk tidak bertemu dengan Lilly. Dua bulan yang terasa sangat menyiksa baginya.

Iya, Michelle memang sengaja menahan diri selama dua bulan sebelum memutuskan bertemu dengan Lilly.

Selain membereskan semua pekerjaan yang sudah seharusnya ia selesaikan, Michelle juga butuh waktu untuk menyiapkan diri. Ia ingin membuat semuanya sempurna. Memberi kesan yang tak terlupakan bagi Lilly ketika nanti mereka bertemu.

Namun yang terjadi diluar ekpektasi Michelle. Bukannya membuat Lilly nyaman dan memberinya kesan tak terlupakan, sikap tidak sabarnya justru membuat Lilly ketakutan. Salahkan reaksi tubuhnya yang berlebihan terhadap wanita itu.

Michelle meraih gelas di atas nakas dan meminum isinya. Ia menatap pintu yang beberapa saat lalu tertutup. Pintu yang baru saja membuatnya kehilangan moment untuk melihat Anna dalam versi Lilly lebih lama lagi.

Michelle memejamkan mata, lalu meletakkan tangan di atas dadanya yang berdetak kencang, Perlahan Michelle tersenyum ketika merasakan detakan jantungnya yang cepat dan kuat.

Rasanya sudah sangat lama Michelle tidak merasakan hal ini lagi. Terakhir ia merasakannya saat Anna masih hidup dan sekarang Lilly berhasil menghidupkan kembali jantungnya yang selama ini terasa mati.

Tidak salah memang ia merencanakan semua ini untuk mendapatkan Lilly. Lilly tidak hanya akan mengobati kerinduannya pada Anna, tapi Lilly juga mampu membangkitkan kembali gairahnya yang telah lama mati.

Jika sudah seperti ini, tidak ada lagi keraguan yang Michelle rasakan. Ia akan tetap pada rencana awalnya. Mendapatkan Lilly untuk menggantikan sosok Anna yang tidak akan pernah tergantikan di hatinya.

Perlahan Lilly akan diubahnya menjadi Anna. Ia akan menghidupkan kembali sosok Anna dalam sosok Lilly dan menjadikan Lilly miliknya. Wanita yang akan menemani dan mengobati rasa rindunya terhadap Anna.

Michelle tidak merasa apa yang dilakukannya salah. Pertemuannya dengan Lilly merupakan rencana Tuhan untuknya. Tuhan pasti ingin ia merasakan kembali sosok Anna dalam diri Lilly. Dan tentu saja kesempatan ini tidak akan Michelle sia-siakan.

Rencana telah tersusun dengan baik. Lilly akan menjadi miliknya. Bukan untuk menggantikan Anna, tapi untuk meneruskan semua mimpi Anna yang belum terwujud.



❤❤❤
03012023

Lilly (Cinta Sang Earl)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang