Btw, aku ganti cover itu artinya ceritanya sudah selesai tulis, dan ya, alhamdulillah Lilly sudah selesai tulis yah. Tinggal tunggu tayang di google play. Nanti aku informasikan kalau sudah tayang, oce.
So, jangan lupa tinggalkan jejak yah. Happy reading
❤❤
Sepanjang malam Lilly tidak juga bisa mengendalikan detakan jantungnya. Setiap kali teringat Michelle, jantungnya berdetak dengan kencang. Hal itu terus berulang setiap kali nama, suara dan bayangan pria itu terlintas dalam pikirannya.
Beruntung malam itu Lilly disibukkan dengan pekerjaan hingga ia tidak harus terus menerus memikirkan Michelle ataupun teringat akan pria itu. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Ketika tidak ada yang dikerjakan, Michelle kembali mendatangi pikirannya dan membuatnya tidak tenang.
Lilly benar-benar ingin pulang dan tidur. Ia butuh mengistirahatkan pikirannya agar tidak lagi teringat apa pun tentang Michelle.
Jadi begitu pagi menjelang dan waktu kerjanya sebentar lagi selesai, Lilly sudah tidak sabar untuk kembali ke apartemennya. Ia merapikan barang-barangnya agar bisa segera pulang. Sayangnya apa yang Lilly rencanakan terpaksa batal ketika dokter Richard memanggil dan memintanya untuk mendampingi Michelle melakukan chek-up rutin.
"Apa anda tidak salah, Dokter?" tanya Lilly memastikan.
Lilly bukan menolak, tapi rasanya sedikit aneh ketika ia harus mendampingi keluarga kerajaan melakukan chek-up sementara di rumah masih ada dokter-dokter yang jauh lebih senior dari dirinya.
"Iya, aku salah, tapi aku bisa apa?"
Richard ingin mengatakan hal itu tapi kalimat itu hanya bisa terucap dalam hatinya. Ia tidak mungkin mengakui jika semua ini merupakan bagian dari rencana Michelle dan ia sedang membantu sang sahabat untuk melakukan rencananya.
Tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Richard, Lilly kembali bertanya. "Dokter, anda baik-baik saja, kan?"
"Maaf, aku sedikit lelah," Richard memijit hidungnya. Ia tidak berbohong. Ia memang lelah. Lelah mendengar rengekan Michelle yang menghubunginya dari semalam. Memaksa agar Lilly yang mendampinginya melakukan chek-up rutin. Membuat istirahatnya terganggu.
"Tidak apa Dokter. Saya mengerti."
Richard menghela nafas lalu kembali bicara. "Aku tidak mungkin salah, Dokter Lilly. Aku memilihmu karena kau cekatan dan bisa diandalkan. Lagi pula ini permintaan langsung dari His Lordship karena beliau menyukaimu."
"Menyukai saya? Maksud Dokter?"
Richard menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Maksud saya, His Lordship suka pada keramahan serta gerakanmu yang cetakan. Lord Michelle orang yang sangat sulit didekati. Sangat sulit juga membuatnya puas terhadap pekerjaan orang lain, tapi sekarang dia justru meminta agar kau menemaninya. Tapi jika kau tidak bersedia, aku bisa meminta orang lain untuk melakukannya. Hanya saja, sangat disayangkan jika kau menolak. Ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali untuk dokter magang sepertimu."
"Saya bersedia, Dokter. Saya sangat bersedia," jawab Lilly bersemangat. Dokter Richard benar, kapan lagi ia bisa melayani keluarga kerajaan?
Meskipun berada di dekat Michelle membuatnya tidak nyaman, tapi ini kesempatan emas. Lilly bisa melayani keluarga kerajaan yang sangat disukainya serta mendapat pengalaman tak ternilai harganya. Kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
"Kalau begitu kau bisa melakukannya sekarang. Aku yakin kau bisa. Semua instruksi yang harus kau lakukan ada di catatan ini," Richard menyerahkan berkas yang telah disiapkannya pada Lilly. "Maaf tidak bisa menemanimu dari awal. Aku memiliki pertemuan yang tidak bisa aku wakilkan pada orang lain. Hubungi aku jika ada yang tidak kau mengerti."
